Uraian Runut – Membuat Tulisan Enak Dibaca 3

Uraian runut merupakan hal ketiga yang perlu diperhatikan, dalam membuat tulisan yang enak dibaca. Dua artikel sebelumnya berisi pembahasan mengenai kalimat efektif dan bahasa sederhana.

Membuat uraian runut merupakan satu dari beberapa cara, untuk menjaga pembaca betah membaca hingga tulisan selesai.

Setiap satu tulisan umumnya memiliki satu buah tema atau pokok pikiran yang hendak disampaikan oleh si penulis. Meskipun tulisan tersebut sangatlah panjang, tema yang ingin disampaikan penulis, biasanya tetap satu.

Misalnya, tulisan berjudul Bagelen, Tanah Kolonisasi Pertama di Indonesia memiliki tema tentang proses kolonisasi sebagai cikal bakal transmigrasi di Indonesia. Tulisan tersebut terdiri dari 4.000 kata lebih. Meski begitu, tulisan itu tetap on the track, dengan hanya berisi hal yang sesuai tema.

Cara untuk membuat tulisan tetap dalam jalurnya, satu di antaranya dengan memberikan uraian secara runut. Maksudnya, setiap kalimat yang dibuat tetap saling berkesinambungan, sehingga membentuk satu kesatuan tema.

Pernahkah Anda membaca sebuah tulisan, lalu merasa ada sebagian isi tulisan tersebut tidak sesuai tema?

Contohnya, Anda membaca artikel bertema cara menggambar rumah. Isi artikel itu dibuka dengan penyiapan alat gambar. Lalu, isi artikel mengenai tempat-tempat yang dianggap cocok untuk dibangun rumah. Selanjutnya, artikel berisi tentang proses menggambar rumah mulai dari atap, dinding, pintu, dan jendela. Hingga akhirnya, isi artikel mengenai proses mewarnai gambar rumah tersebut.

Isi artikel tersebut terasa tidak sesuai tema saat ada penjelasan mengenai tempat-tempat yang dianggap cocok untuk membangun rumah. Sebab, penjelasan tersebut tidak memiliki kaitan dengan tema cara menggambar rumah.

Itu satu hal. Hal lainnya, pernahkah Anda membaca sebuah tulisan, dan merasa isi tulisan tersebut “melompat-lompat”?

Misalnya pada contoh di atas, urutan isi artikelnya ternyata diawali dengan penyiapan alat gambar, proses mewarnai, hingga proses menggambar rumah.

Urutan isi artikel tersebut terasa “melompat” karena prosesnya yang tidak sesuai urutan.

Ketidaksesuaian tulisan dengan tema, maupun isi tulisan yang “melompat-lompat”, berpeluang membuat tulisan tak nyaman dibaca. Karena itu, uraian runut perlu mendapat perhatian saat membuat tulisan.

Tentukan Alur Tulisan

Uraian runut bukan berarti selalu membuat tulisan “dari A ke Z”. Dalam artian, tulisan hanya mengalir dari penyebab menuju akibat. Ada kalanya, tulisan diawali dengan pemaparan akibat, dan diakhiri dengan menguraikan unsur-unsur penyebab.

Untuk lebih mudahnya, pernahkah Anda membaca novel atau cerita pendek?

Sebagian penulis novel membuat cerita mereka dari masa sekarang ke masa depan, atau dari masa lalu ke masa sekarang.

Tetapi, ada juga penulis novel yang membuat cerita mereka dari masa sekarang, lalu mundur ke masa lalu, dan kembali ke masa sekarang, atau dikenal dengan istilah flashback. Meski begitu, isi ceritanya tetap memiliki uraian runut.

Untuk membuat bermacam uraian tersebut, hal pertama yang perlu dilakukan adalah menentukan alur tulisan. Suratno dan Wahono dalam buku berjudul Bahasa Indonesia untuk SMA dan MA Kelas XII Program IPA dan IPS, menyebutkan, bentuk alur berupa peristiwa-peristiwa yang disusun secara berkaitan menurut hukum sebab akibat dari awal sampai akhir cerita.

Dalam buku yang diterbitkan Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional pada 2010 itu, Suratno dan Wahono mengungkapkan, secara waktu, alur terbagi menjadi tiga, yaitu alur maju, alur mundur, dan alur campuran.

Pada alur maju, jalan cerita disusun berdasarkan urutan waktu dan urutan peristiwa. Sementara pada alur mundur, cerita dikembalikan ke masa atau waktu sebelumnya. Adapun, alur campuran atau flashback merupakan perpaduan antara alur maju dan alur mundur. Cerita bergerak dari bagian tengah, menuju ke awal, dilanjutkan ke akhir cerita.

Adapun, tahapan-tahapan alur terdiri dari lima hal, yaitu pengenalan (exposition), peristiwa (complication), muncul konflik (rising action), puncak konflik (turning point), dan penyelesaian (resolution).

Pada tahap pengenalan, tokoh, situasi, latar, waktu, dan sebagainya mulai dimunculkan. Selanjutnya pada tahap peristiwa, suatu peristiwa dimunculkan sebagai penggerak cerita. Di tahap muncul konflik, permasalahan yang menimbulkan pertentangan dan ketegangan antartokoh muncul. Berikutnya pada tahap konflik memuncak, permasalahan atau ketegangan berada pada titik paling atas atau puncak. Terakhir, pada tahap penyelesaian, permasalahan mulai ada penyelesaian menuju akhir cerita.

Pada tulisan nonfiksi, alur yang dibuat tak jauh berbeda. Umumnya, tulisan nonfiksi memiliki alur maju. Sementara, isi tulisan nonfiksi biasanya terbagi menjadi pembuka, masalah, dan penutup.

Bagian pembuka, utamanya, menjelaskan kepada pembaca mengenai latar belakang dan gambaran permasalahan yang akan dibahas. Pada bagian kedua, masalah atau konflik diterangkan secara rinci.

Masalah maupun konflik umumnya menjadi hal yang paling menarik dibaca. Karena itu, penyajiannya perlu mendapat perhatian khusus penulis, dengan tanpa mengurangi fokus pada bagian-bagian lain. Untuk bagian penutup pada tulisan nonfiksi, hal itu biasanya berisi solusi dari penulis.

Penetapan alur tulisan bisa dilakukan sebelum mulai menulis. Pembuatan rencana penyusunan alur tulisan agar menghasilkan uraian runut, dapat dilakukan dengan membuat kerangka tulisan.

Kerangka Karangan

Kerangka karangan akan menjadi panduan supaya tulisan tetap fokus pada tema. Dan, tulisan bisa “mengalir” antarparagraf, antarkalimat, hingga antarkata. Sehingga, pembaca akan nyaman melihat untaian huruf yang dibuat dalam tulisan hingga akhir. Ada beberapa tahap dalam membuat kerangka karangan.

Pertama-tama, uraikan tema besar yang  dimiliki menjadi beberapa subtema yang lebih kecil. Setelah mendapatkan subtema, tahap selanjutnya adalah menyusun subtema itu berdasarkan urutan tulisan yang ingin dibuat.

Usai menyusun subtema, kembangkan subtema-subtema tersebut ke subtema yang lebih kecil lagi. Satu subtema yang lebih kecil tersebut, nantinya akan menjadi pokok pikiran sebuah paragraf.

Sampai pada tahap itu, gambaran tulisan yang akan dibuat sebenarnya telah terlihat. Bisa dikatakan, draf kasar tulisan sudah terbentuk.

Sekarang, hal yang perlu dilakukan tinggal membalut draf itu dengan rapi. Dari satu subtema yang lebih kecil, perluas lagi menjadi tiga sampai empat pokok pikiran. Tiga sampai empat pokok pikiran tersebut akan menjadi jumlah kalimat yang dibuat dalam satu paragraf.

Sebenarnya, jumlah pokok pikiran yang dibuat bisa lebih dari empat. Tetapi umumnya, satu paragraf hanya berisi tiga sampai empat kalimat. Hal itu supaya paragraf tetap fokus menjelaskan sebuah subtema.

Usai pokok pikiran kalimat selesai dibuat, selanjutnya, proses penulisan sudah bisa dikerjakan. Hal itu dilakukan dengan mengembangkan setiap pokok pikiran menjadi kalimat utuh.

Saat membuat kerangka karangan, alur tulisan bisa ditetapkan. Hal itu umumnya dilakukan saat menguraikan tema besar dalam subtema.

Karena kerangka karangan merupakan fondasi tulisan, penyusunannya penting untuk diperhatikan. Penjelasan lebih detail tentang pembuatan kerangka karangan bisa dilihat di artikel berjudul Membuat Kerangka Karangan hingga Menjadi Tulisan.

Membuat tulisan yang memiliki uraian runut tentu akan memberikan banyak manfaat terhadap penulis, terlebih kepada pembaca. Sebab, pembaca akan mudah mendapat pesan yang disampaikan penulis. Sementara, penulis bisa mendapatkan pembaca loyal karena menikmati tulisan yang disajikan.

uraian runut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *