Sumohadi Marsis Meliput Olahraga Keliling Dunia

Keliling dunia mungkin telah menjadi impian sebagian orang. Ada yang beruntung merealisasikannya, ada juga yang hanya sekadar tetap menjadi keinginan. Sumohadi Marsis termasuk orang yang berhasil keliling dunia. Hal itu terwujud justru karena profesinya sebagai wartawan.

Pengalaman keliling dunia tersebut kemudian ditulis Sumohadi dalam buku berjudul Enaknya Wartawan Olahraga, yang diterbitkan PT Tunas Bola pada Juli 2004. Buku itu ditulis saat Sumohadi Marsis memasuki masa pensiun, sebagaimana disampaikan penerbit dalam pengantar buku.

BACA JUGA: 3 Proses Memproduksi Berita di Media Cetak

Selama 30 tahun menggeluti profesi wartawan, Sumohadi, dalam bukunya, mengatakan, ia telah melakukan tugas jurnalistik ke tak kurang dari 30 negara di 4 benua. Bahkan, beberapa negara di antaranya, ia kunjungi 4 kali sampai 5 kali.

Dari buku Enaknya Wartawan Olahraga, ada beberapa hal yang bisa disimak, yaitu mengenai dimensi homo ludens dalam olahraga, sejarah pendirian Tabloid BOLA, penggambaran sosok atlet terkenal yang menjadi legenda, perkembangan metode dalam mengirim berita dari luar kota atau luar negeri, hingga persoalan jenjang karier wartawan.

Homo Ludens

Ada tiga pengantar yang tercantum dalam buku Enaknya Wartawan Olahraga. Pengantar pertama berasal dari pendiri Kompas, Jakob Oetama. Pengantar kedua dari penerbit. Dan, pengantar ketiga berasal dari penulis, yaitu Sumohadi Marsis.

Pengantar Jakob Oetama diberi judul Menulis dengan Akal dan Hati. Karena menulis dengan akal dan hati, menurut Jakob, hal itu menjadikan liputan dan laporan Sumohadi Marsis terasa hidup dan berdimensi homo ludens, yakni melalui olahraga, manusia mengekspresikan diri sebagai manusia yang “bermain”.

sumohadi marsis

“Di sanalah di antaranya rahasia daya tarik olahraga. Karena, olahraga merupakan ekspresi, aksi, kegiatan naluri yang juga suka karena itu, memerlukan permainan. Di sana, ada prestasi, ada pertandingan, dan laga, tapi juga amat nyata hadirnya keringat dan air mata perjuangan, latihan, bekerja keras, dan ulet. Namun, semua itu dilakukan dengan kegembiraan hati,” tulis Jakob Oetama dalam pengantarnya.

Dari buku Enaknya Wartawan Olahraga, Jakob mengatakan, ia memperoleh kesan bahwa wartawan yang menulis buku tersebut, memahami dan menangkap makna olahraga sebagai ekspresi homo ludens. Sebab bukan cuma hitung-hitungan yang ditampilkan, tetapi juga mengungkapkan segi-segi lain yang memperlihatkan bahwa lewat olahraga, orang bermain. Orang mengekspresi beragam naluri. Dan, kemampuan dan kemauan membuat naluri-naluri itu menjadi kreatif, orisinal, serta memperkaya kehidupan.

Sementara, penerbit menyebut, Sumohadi Marsis memiliki ciri tulisan yang mudah dicerna. Gaya bahasanya sederhana dan enak. Serta dalam menganalisis suatu persoalan, ia tidak berbelit-beli.

Adapun, Sumohadi Marsis dalam pengantar buku mengungkapkan kesenangannya dalam melakoni profesi wartawan. Meski, pekerjaan itu tidak selalu enak.

“Tapi, memang banyak yang enak, enak sekali, dan sedikit saja yang kurang enak. Yang kurang enak itu pun, buat saya, bukan duka. Saya senang saja melakukannya. Saya menikmatinya,” tutur Sumohadi Marsis dalam pengantarnya.

Bahkan dengan menjadi wartawan, ia bisa berkeliling dunia, berkelana ke hampir separuh dunia. Kenikmatan semakin terasa ketika ia bisa menginap di hotel berbintang. Plus, bertemu atlet ternama. Dan, semua itu dijalani tanpa mengeluarkan uang pribadi, tetapi dibiayai kantor.

Bergabung dengan Media

Pada dua bab pertama buku Enaknya Wartawan Olahraga, Sumohadi Marsis menjabarkan sebuah permulaan. Yaitu, awal ia menjadi wartawan pada bab satu. Dan, saat pertama kali, ia memiliki paspor serta mendapatkan dolar, pada bab dua.

Sumohadi mengawali karier kewartawanannya di Harian Kami. Suami Lisa Anggraeni itu menceritakan, ia bergabung dengan Harian Kami setelah menjadi lulusan terbaik saat mengikuti kursus jurnalistik, yang diselenggarakan Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) pada 1970.

Karena ketidaksukaan terhadap politik, Sumohadi memilih kesenian sebagai bidang liputan. Sampai kemudian, ia pindah jalur dengan meliput olahraga.

Saat bertugas meliput olahraga tersebut, Sumohadi mendapat tawaran untuk bergabung bersama Kompas. Tawaran itu datang dari wartawan olahraga Kompas, Ignatius Sunito yang sehari-hari bersama Sumohadi memburu berita olahraga. Ia pun resmi bergabung di Kompas pada 1 Juni 1972.

“Proses menjadi pegawai di Kompas waktu itu belum serumit sekarang. Tidak ada tes psikologi, juga tidak ada tes bidang. Hanya ada wawancara dengan redaktur olahraga Th A Budi Susilo. Itupun tidak formal, malah terkesan sambil lalu, mungkin karena kami sudah saling kenal,” kenang Sumohadi Marsis dalam bukunya.

Pada 1983, Sumohadi bersama Sunito mendapat tugas dari pendiri Kompas, Jakob Oetama, untuk menerbitkan sebuah tabloid olahraga. Tabloid yang diberi nama BOLA akhirnya terbit pada 3 Maret 1984. Sumohadi saat itu menjabat sebagai wakil pemimpin redaksi.

Berlanjut ke bab dua buku Enaknya Wartawan Olahraga, Sumohadi mengisahkan, ia pertama kali liputan ke luar negeri saat menyertai tim nasional mengikuti pra-Olimpiade 1972 di Rangoon, Burma. Itulah negara pertama yang ia kunjungi saat ke luar negeri.

Saat itu, ia masih menjadi wartawan di Harian Kami. Ketika berkunjung ke Burma itu juga, Sumohadi memiliki dolar pertamanya.

Wawancara Atlet Terkenal

Kisah Sumohadi Marsis bertemu atlet-atlet terkenal tertuang pada bab empat. Sebelum melangkah ke bab itu, Sumohadi Marsis terlebih dahulu menceritakan keberuntungannya bisa mewawancarai Sir Stanley Rous pada bab tiga buku Enaknya Wartawan Olahraga.

Sir Stanley Rous merupakan Presiden FIFA saat itu. Sumohadi bertemu Stanley saat berada di Rangoon, ketika menyertai tim nasional mengikuti pra-Olimpiade 1972.

Awalnya, ia tak sengaja melihat Stanley sedang duduk di kamar di Hotel Inya Lake, akibat pintu kamar yang terbuka. Ketika dipersilakan masuk kamar, Sumohadi tidak serta merta langsung mewawancarai Stanley. Ia terlebih dahulu berbasa-basi untuk mendekatkan diri dengan narasumbernya.

“Saya perkenalkan diri saya secara singkat, dan kemudian berbasa-basi mengenai kesehatannya dan perjalanannya yang panjang dari Inggris. Dari buku, saya tahu dulu dia seorang wasit. Karena itu, saya singgung pula sekilas mengenai pengalamannya sebagai wasit yang membuatnya agak terkejut, tapi terasa sekali ia senang mendengarnya,” tulis Sumohadi Marsis dalam bukunya.

Melalui paparannya dalam buku Enaknya Wartawan Olahraga, khususnya ketika mewawancarai Stanley, Sumohadi sebenarnya sedang memberikan contoh cara melakukan wawancara yang baik. Contoh tersebut tentunya bisa menjadi referensi bagus buat reporter, maupun mahasiswa komunikasi yang ingin menjadi reporter.

Beralih ke bab empat, Sumohadi memaparkan mengenai enam atlet yang berhasil ia wawancara, saat mereka masih berjaya. Meski saat ini sudah tak berjaya, nama keenam atlet tersebut tetap “besar”. Sebab, mereka merupakan legenda olahraga di cabang masing-masing.

Dari enam atlet itu, empat orang merupakan atlet sepak bola. Sementara, dua lainnya adalah atlet tinju.

Nama pertama yang diceritakan Sumohadi adalah Pele. Sumohadi bertemu Pele, saat pemain klub Santos itu berkunjung ke Jakarta pada 1972, untuk melakukan pertandingan dengan tim nasional Indonesia.

Sumohadi menyebut, Pele merupakan sosok pribadi yang ideal. Pele memiliki kemahiran memukau dalam mengolah si kulit bundar, menggunakan kaki, kepala, dan seluruh tubuhnya.

Sementara di luar lapangan, kata Sumohadi, Pele adalah pria yang hangat dan ramah. Hal itu ditunjukkan Pele usai acara jumpa pers, dengan menyalami semua wartawan. Ia juga selalu berbicara sambil mengumbar senyum.

Atlet berikutnya yang ditemui Sumohadi adalah petinju Muhammad Ali, pada tahun yang sama saat ia bertemu Pele. Ketika itu, Ali datang ke Jakarta untuk melakukan ekshibisi melawan Rudi Lubbers.

Nama lain yang diceritakan Sumohadi adalah Franz Beckenbauer dan Johan Cruyff. Sumohadi mengatakan, ia hanya berdialog sebentar dengan Beckenbauer di depan pintu kamarnya di Hotel Borobudur, Jakarta.

“Tapi, dalam pertemuan yang tak lama itu, saya mendapatkan kesan yang sangat baik tentang dirinya. Penampilannya sangat gagah, seperti sepak terjangnya di lapangan, kata-katanya terpilih seperti umpan-umpannya,” begitu Sumohadi Marsis menggambarkan Beckenbauer dalam buku Enaknya Wartawan Olahraga.

Dalam buku itu, waktu pertemuan antara Sumohadi dan Beckenbauer tak dijelaskan. Hanya saja, sebuah foto yang memperlihatkan Sumohadi dan Beckenbauer, diletakkan di bab empat tersebut. Di samping foto itu, sebuah keterangan tertulis, “Bersama Franz Beckenbauer, 1977.”

Serupa Beckenbauer, Sumohadi bertemu Johan Cruyff di Jakarta, tepatnya di Bandara Halim Perdanakusuma. Itu merupakan pertemuan kedua, di mana pertemuan pertama terjadi setahun sebelumnya, saat Cruyff datang ke Jakarta. Pada pertemuan pertama, acara berakhir dengan foto bersama.

Sumohadi pun tak menjelaskan mengenai waktu pertemuan dengan Cruyff. Sekali lagi, sama dengan Beckenbauer, ada sebuah foto yang terpajang. Keterangan foto itu tertulis, “Di antara teman-teman wartawan bersama Johan Cruyff, bintang sepak bola Belanda di Jakarta, 1975.”

Masih dari dunia sepak bola, nama selanjutnya yang dipaparkan Sumohadi adalah Diego Maradona. Ia menemui Maradona di Firenze, Italia pada 1989, saat Napoli, klub yang diperkuat Maradona, melawan Fiorentina.

Tak hanya melihat Maradona bermain, Sumohadi pun berhasil berfoto bersama megabintang tersebut. Tentu saja, itu bukanlah hal mudah. Sebab, Sumohadi harus membuntuti pemain tersebut hingga ia masuk ke dalam bus. Sumohadi pun menunggu di depan pintu bus.

“Di sinilah saya menyadari, Maradona ternyata baik juga. Dia keluar dari bus, menghampiri saya dan berbicara dalam bahasa Spanyol, yang kira-kira berarti, mau berfoto bersama saya,” tulis Sumohadi Marsis.

Nama terakhir yang ditulis pada bab empat buku Enaknya Wartawan Olahraga, adalah Mike Tyson. Sumohadi bertemu Tyson di Las Vegas pada 1989. Bisa dikatakan, Sumohadi bertemu Tyson karena kebetulan. Sebab, ia ke Las Vegas untuk meliput pertarungan Sugar Rae Leonard dan Roberto Duran.

Saat menyaksikan Leonard berlatih, Tyson lewat. Sumohadi pun tak melepaskan kesempatan itu untuk berusaha mewawancarai Tyson. Meski, ia harus berhati-hati karena Tyson mendapat pengawalan ketat.

Sumohadi berhasil mewawancarai Tyson walaupun ia cuma diberi waktu singkat. Beruntung lagi, Sumohadi bisa berfoto bersama Tyson.

Persoalan Mengirim Berita

Pada bab lima, Sumohadi Marsis mengisahkan perjalanannya melawat ke Eropa, saat mengikuti timnas Indonesia untuk berlatih tanding pada 1974. Di Eropa, mereka mengunjungi Denmark, Swedia, Norwegia, Jerman, Cekoslovakia, Perancis, dan Inggris.

Cerita menarik lain dari Sumohadi muncul pada bab enam. Bab itu khusus menjelaskan cara wartawan mengirimkan berita, ketika sedang bertugas liputan ke luar kota maupun luar negeri. Pada bab tersebut, Sumohadi memberikan penjelasan secara runut berdasarkan waktu, serta perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang menyertainya.

Cara paling awal yang diterapkan adalah menggunakan telepon. Di mana, wartawan menelepon ke kantor dan memberikan laporan secara lisan, berdasarkan catatan selama meliput di lapangan.

Cara selanjutnya memakai teleks. Ketika menggunakan teleks, wartawan menulis hasil laporannya, kemudian mengirimkan hasil laporan tersebut memakai pesawat teleks ke kantor.

Walaupun telah ada dua teknologi sebagaimana disebut di atas, Sumohadi mengaku pernah mengirimkan hasil liputannya di luar negeri menggunakan surat. Menurutnya, hal itu dilakukan karena ia tak perlu buru-buru memberikan laporan ke kantor di Jakarta.

Teknologi lain yang dimanfaatkan untuk mengirim laporan hasil liputan adalah faksimile. Hingga kemudian, muncul teknologi komputer yang dikombinasikan dengan telepon. Satu di antaranya bernama laptop.

Khusus mengenai laptop, Sumohadi menceritakan kisahnya yang sampai marah-marah di kantor Telkom Roma pada 1989. Sebab, petugasnya menolak untuk melayani urusannya. Alasannya, para petugas Telkom Roma tidak mengenal laptop dan tak tahu cara menggunakannya. Padahal, menurut Sumohadi, ia sudah menggunakan laptop untuk mengirimkan laporan, saat meliput Piala Eropa 1988 di Jerman.

Cara terakhir mengirimkan berita yang dijelaskan Sumohadi dalam bukunya adalah penggunaan electronic mail (email) atau surat elektronik (surel). Hal itu dilakukan saat ia meliput Piala Dunia 1998 di Perancis.

Stadion, Perhelatan, dan Organisasi

Pada bab selanjutnya, Sumohadi Marsis memaparkan kisahnya mengunjungi stadion-stadion sepak bola di berbagai belahan dunia. Satu di antara mimpinya yang terwujud adalah mengunjungi Stadion Wembley di London, Inggris.

Selain itu, ia juga telah mendatangi Stadion Nou Camp di Barcelona, Stadion Saint Bernabeau di Madrid, Stadion San Siro di Milan, Stadion Olimpico di Roma, Stadion Olympia di Muenchen, dan Stadion Maracana di Rio de Janeiro.

Di bab delapan, Sumohadi merincikan perhelatan olahraga internasional yang telah ia sambangi. Ia telah meliput dua kali Olimpiade pada 1988 dan 1992. Ia juga sudah meliput tiga piala dunia, masing-masing di Meksiko pada 1986, Italia pada 1990, dan Perancis pada 1998.

Selain itu, Sumohadi turut meliput kejuaraan dunia basket di Toronto pada 1994. Ia pun telah beberapa kali menyaksikan dua dari empat turnamen Grand Slam, yaitu Australia Terbuka di Melbourne dan Perancis Terbuka di Paris. Termasuk, ia meliput kejuaraan dunia atletik di Tokyo pada 1979.

Selama masih aktif sebagai wartawan, Sumohadi pun selalu meliput SEA Games, mulai 1977 hingga 2003. Kecuali, satu SEA Games yang terlewati, yaitu pada 2001 di Kuala Lumpur. Sementara untuk Asian Games, ia meliput sebanyak dua kali, yakni di New Delhi pada 1982 dan di Hiroshima pada 1994.

Di paparan selanjutnya pada bab sembilan, Sumohadi menjabarkan kiprahnya dalam berorganisasi. Setidaknya, ia pernah tercatat pada beberapa organisasi, antara lain SIWO PWI, PB ISSI, hingga KONI.

Sumohadi mengakhiri tulisannya pada buku Enaknya Wartawan Olahraga di bab sepuluh. Ada sebuah kritik yang disampaikan Sumohadi pada bab tersebut. Kritik itu terkait masalah jenjang karier, yang menurutnya, hingga ia beranjak pensiun, belum terselesaikan.

“Jenjang yang berlaku hanya struktural. Belum ada tempat untuk jenjang profesional,” ungkap Sumohadi Marsis.

Minim Daftar

Di halaman paling akhir buku Enaknya Wartawan Olahraga, ada sebuah daftar yang berisi nama-nama negara yang telah dikunjungi Sumohadi Marsis selama menjadi wartawan. Daftar tersebut terasa cukup untuk mengetahui secara mudah, negara mana saja yang telah dikunjungi Sumohadi.

BACA JUGA: Observasi dalam Reportase

Ada baiknya, daftar serupa tersebut turut dicantumkan untuk memberikan kemudahan buat pembaca. Misalnya, daftar atlet yang telah diwawancara berdasarkan cabang olahraga. Atau, daftar perhelatan olahraga internasional yang sudah dikunjungi, sebagaimana penjabarannya termuat pada bab delapan.

Hal yang tak kalah penting, kronologis perjalanan luar negeri yang dilalui Sumohadi Marsis, dalam bentuk grafis yang belum muncul. Kehadiran hal tersebut tentu akan lebih memudahkan pembacaan.

sumohadi marsis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *