Selesai Menulis, Jangan Lupakan Swasunting

Suatu ketika, muncul pertanyaan, ketika kita membuat titik terakhir pada kalimat terakhir, apakah kita benar-benar telah selesai menulis?

Jawabannya, belum. Alasannya, saya akan coba uraikan dalam artikel ini. Alasan yang akan saya kemukakan, sebenarnya berasal dari beberapa mentor, saat saya mengikuti pelatihan menulis pada sejumlah kesempatan.

Saya ingin mengawali artikel ini dari pemaparan seorang penulis buku sekaligus penulis skenario film, Raditya Dika. Melalui Channel YouTube miliknya, Raditya Dika membagikan video berjudul Rahasia Menulis Skenario Film.

Pada bagian akhir video tersebut, Raditya menyampaikan bahwa skenario yang telah selesai ia tulis, tidak serta merta langsung dibuat film.

Draf awal skenario film yang ia buat, memang diberikan ke produser. Produser lalu memberikan catatan. Dari catatan tersebut, Raditya Dika kemudian melakukan revisi.

Proses tersebut berlangsung berulang-ulang hingga menghasilkan draf dua, draf tiga, draf empat, dan seterusnya sampai draf final.

Kesimpulannya, skenario film yang dihasilkan Raditya Dika, baru dibuat menjadi film, usai mengalami beberapa kali penyuntingan atau editing. Di dunia film, ada beberapa alasan yang membuat sebuah skenario film mengalami penyuntingan. Salah satunya untuk menghasilkan karya bermutu.

Hal itu juga berlalu di dunia tulis menulis. Penyuntingan dibutuhkan untuk menghasilkan karya tulis yang bermutu.

Penyuntingan yang dilakukan orang lain, sebenarnya merupakan tahap kedua dalam proses penyuntingan. Pada tahap pertama, penyuntingan seharusnya dilakukan sendiri oleh si penulis, atau dikenal dengan swasunting.

Di akhir tulisan ini, saya juga membagikan tips swasunting yang bisa dikerjakan.

Swasunting Selesai Menulis

Banyak orang mengatakan, kunci untuk bisa menjadi penulis yang bermutu hanya satu, yaitu menulis, menulis, dan menulis. Artinya, seseorang harus berlatih menulis berkali-kali terlebih dahulu, sebelum akhirnya menjadi penulis profesional dan menghasilkan karya-karya yang bermutu.

Hal tersebut juga berlaku pada setiap karya tulis yang dibuat. Seorang penulis perlu berkali-kali memeriksa naskah karya yang dibuat, sebelum akhirnya dinyatakan selesai. Tentu, hal itu untuk menjadikan naskah yang dibuat lebih berkualitas.

BACA JUGA: 4 Langkah Sederhana Menjadi Penulis

Pemeriksaan naskah yang dilakukan penulis, usai selesai menulis disebut swasunting. Tujuannya, mengoreksi kesalahan-kesalahan yang mungkin masih muncul dalam naskah.

Lho, bukankah itu tugas penyunting naskah?

Benar. Tugas penyunting naskah adalah memeriksa kesalahan dalam penulisan naskah, yang dibuat seorang penulis. Tetapi misalnya, Anda menyerahkan naskah yang masih terdapat banyak kesalahan kepada penyunting, tentu bisa dibayangkan, penilaian penyunting terhadap kemampuan menulis Anda.

Jika tulisan yang Anda buat memiliki kesalahan maksimal 20 persen dari keseluruhan naskah, menurut saya, hal itu masih bisa mendapat toleransi. Meskipun, kesalahan naskah yang dibuat sebaiknya nol persen.

Apabila kesalahan lebih dari 20 persen, saat naskah Anda serahkan ke penyunting, saya kira, penyunting tidak bisa melaksanakan tugasnya. Sebab, penyunting akan berubah fungsi menjadi penulis kedua, selain Anda yang menyerahkan naskah.

Selain itu, dengan melakukan swasunting, Anda bisa belajar dari kesalahan yang Anda buat saat menulis. Kesalahan-kesalahan itu akan lebih teringat dalam memori Anda.

Karena, Anda sendiri yang menemukan kesalahan tersebut. Sehingga saat Anda membuat karya tulis yang lain, kesalahan serupa bisa dihindari.

Karena itu, seorang penulis sangat dianjurkan untuk melakukan swasunting usai menulis. Swasunting bisa dilakukan berkali-kali, hingga Anda merasa tulisan yang dibuat sudah berkualitas.

Minimal, Anda melakukan swasunting satu kali, dengan membaca ulang tulisan yang Anda buat. Sebab, meskipun seseorang telah menjadi penulis profesional sekalipun, peluang melakukan kesalahan saat menulis tetap ada.

Hal yang Dilakukan Saat Swasunting

Swasunting bertujuan untuk membuat tulisan menjadi lebih berkualitas. Hal itu dilakukan dengan meminimalisasi kesalahan yang dibuat.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan saat melakukan swasunting, antara lain:

Periksa kesalahan penulisan kata. Kesalahan penulisan kata bisa berupa kekeliruan penempatan huruf dalam satu kata, misalnya kata “kalimat” ditulis menjadi “kailmat”.

BACA JUGA: 7 Kesalahan Penulisan, Mubazir Kata

Atau, huruf yang tak tertulis dalam satu kata, misalnya kata “keterbukaan” ditulis menjadi “keterbukan”.

Bisa juga, kesalahan dalam penulisan huruf dalam satu kata, misalnya kata “aktivitas” ditulis menjadi “aktifitas”.

Meskipun, kesalahan-kesalahan itu terlihat sepele, hal itu bisa membuat pembaca menjadi tidak nyaman, saat membaca. Sehingga, konsentrasi pembaca pun menjadi terganggu.

Periksa tanda baca. Salah satu fungsi tanda baca adalah memberi jeda napas kepada pembaca, saat membaca naskah. Karena itu, penempatan tanda baca harus menjadi perhatian penulis.

Misalnya, satu kalimat berisi 20 kata tanpa ada tanda koma di dalamnya, pembaca tentu akan kesulitan membaca kalimat tersebut. Maka, penempatan tanda baca koma harus dilakukan.

Periksa penggunaan diksi. Keberagaman diksi bertujuan untuk membuat naskah menjadi enak dibaca. Keberagaman diksi diperlukan khususnya untuk kata yang muncul berdekatan.

Misalnya pada kalimat, “Selain itu, rumah itu juga berdinding kayu.”

Kemunculan dua kata “itu” yang berdekatan, membuat pembacaan naskah menjadi tidak terasa nyaman. Sehingga, satu dari dua kata “itu” sebaiknya diganti.

Kalimat yang dibuat bisa menjadi, “Selain itu, rumah tersebut juga berdinding kayu.”

Periksa ekonomi kata. Ekonomi kata merupakan istilah yang kerap digunakan pada dunia jurnalistik. Ekonomi kata bermakna efisiensi dalam penggunaan kata.

Kata-kata yang dianggap tidak perlu, dapat langsung dibuang. Sehingga, tulisan yang dibuat bisa efisien.

Empat cara yang disebutkan di atas merupakan kegiatan swasunting secara teknis. Sebenarnya, ada beberapa hal teknis lain yang bisa dilakukan, seperti mengecek struktur kalimat.

BACA JUGA: Belajar Menulis dengan Bicara

Usai melakukan swasunting secara teknis, Anda bisa melakukan swasunting secara isi, misalnya mengecek logika kalimat, alur cerita, dan sebagainya.

ketika Anda merasa tulisan Anda sudah benar-benar baik, usai melakukan swasunting, maka itulah saat di mana Anda telah selesai menulis sebuah naskah.

selesai menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *