Sejarah Media Online di Indonesia, Antara Penghasilan dan Persoalan Etik

Posted on Resensi 134

Sejarah media online di Indonesia tak lepas dari media cetak yang telah ada lebih dulu. Media online atau daring pada awalnya hanyalah “pemindahan” isi media cetak ke dalam internet.

Sejarah media online di Indonesia menjadi satu dari beberapa pembahasan dalam buku berjudul Media Online: Antara Pembaca, Laba, dan Etika. Buku yang ditulis J Heru Margianto dan Asep Syaefullah itu diterbitkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia.

BACA JUGA: Kesalahan Penggunaan Kata Jika

Jika ditinjau dari isinya, sebagian besar isi buku tersebut merupakan dokumentasi dari diskusi fokus terbatas atau focus grup discussion (FGD) yang digelar AJI Indonesia di Jakarta pada 5 September 2012. FGD tersebut dihadiri para pengelola media online di Indonesia sebagai peserta.

Buku setebal 76 halaman itu sebenarnya membahas problem yang ada pada media online di Indonesia. Sementara, sejarah media online di Indonesia yang diuraikan, hanya menjadi satu bagian pembahasan yang melengkapi isi buku secara keseluruhan. Meski begitu, pembahasan sejarah media online di Indonesia tersebut cukup penting karena referensi yang membahas hal itu masih terbatas.

Problem media online di Indonesia yang dibahas dalam buku tersebut berfokus pada kualitas dan kredibilitas informasi yang sampai kepada masyarakat. Ketua Umum AJI Indonesia 2011-2014, Eko Maryadi, dalam pengantar buku, mengatakan, masalah kualitas dan kredibilitas bermula dari apa yang disucikan di media massa online sebagai kecepatan menyampaikan informasi. Atas nama kecepatan, pageview, dan pertumbuhan bisnis, lembaga berita online acap kali terjerembab menyampaikan informasi yang belum final terverifikasi kepada masyarakat luas, sehingga terkadang menimbulkan mispersepsi dan misinterpretasi fakta.

Peran Masyarakat

Buku Media Online: Antara Pembaca, Laba, dan Etika menggunakan kisah Imanda Amalia untuk mengawali pembahasan. Kisah tersebut pernah membuat heboh Indonesia pada 3 Februari 2011. Hampir semua media online di Indonesia memberitakan tentang kabar tewasnya Imanda Amalia di Mesir, di tengah pergolakan politik di negeri itu. Semua media yang mengabarkan soal tewasnya Imanda, hanya merujuk pada informasi yang disebarkan di laman grup Facebook, Science of Universe.

Hingga berita tersebut redup dan menghilang, sosok Imanda tak pernah diketahui kebenarannya. Apakah sosok Imanda benar-benar ada atau tidak? Apakah Imanda benar-benar tewas atau tidak? Tidak jelas. Setelah itu, berita lenyap begitu saja.

sejarah media online di Indonesia

Dituliskan dalam buku tersebut, “Kisah Imanda tersebut adalah potret praktik jurnalisme media online, yang kini berkembang di Indonesia. Isi berita bukan lagi hasil akhir dari sebuah disiplin verifikasi jurnalistik. Tetapi justru, proses verifikasi itu sendiri adalah berita.  Informasi mengalir deras, sepotong demi sepotong. Sementara, substansi kebenaran terasa tidak jelas. The truth in the making.”

Kondisi itu bertolak belakang dengan konsep jurnalistik tradisional, di mana verifikasi adalah hal yang wajib didapat sebelum menyiarkan berita.

Tetapi, persoalan muncul karena media online harus bersaing dengan media sosial. Kalaupun misalnya, media online tidak menyebarkan berita tentang Imanda, media sosial telah ramai membicarakan hal tersebut.

Pada halaman 10 buku tersebut, tertulis, “Fakta yang terjadi di media sosial merefleksikan satu hal: ruang-ruang informasi kini bukan lagi hanya milik jurnalis dan media, tapi juga warga biasa. Jurnalis dan media kini bukan lagi pihak yang memiliki previlegi penyebar informasi. Thomas L Friedman, dalam bukunya The World is Flat menyebut, internet telah membuka keran informasi mengalir bagai air bah. Internet telah membuka kesempatan kepada setiap orang di seluruh dunia – sepanjang mereka terhubung dengan internet – untuk menjadi pewarta informasi. Bahkan, acap terjadi, informasi pertama kepada publik atas suatu peristiwa tidak datang dari reporter di lapangan, tapi dari masyarakat.”

BACA JUGA: Kesalahan Menulis Akibat Deiksis

Selanjutnya, pada halaman 12, buku itu memaparkan, “Stephen JA Ward, guru besar etika jurnalistik Universitas Wisconsin-Madison, dalam artikelnya Digital Media Ethics, mencermati, hadirnya internet membuat jurnalis profesional masa kini harus berbagi ruang dengan tweeter, blogger, jurnalis warga, dan pengguna media sosial. “We are moving towards a mixed news media – a news media citizen and professional journalism across many media platforms,” tulis Ward.”

Potensi Bisnis

Bab berikutnya yang dibahas dalam buku Media Online: Antara Pembaca, Laba, dan Etika, mengenai potensi bisnis media online. Pembahasan diawali dengan data-data jumlah pengguna internet di Indonesia.

Data-data itu memiliki satu kesimpulan, sebagaimana tertulis pada halaman 25 dalam buku tersebut. “Pendek kata, pengguna internet di Indonesia tumbuh pesat. Karakteristik dan perilaku mereka pun teridentifikasi centang perentang. Tentu saja, ini merupakan pasar potensial bagi industri.”

Potensi lain muncul dari kue iklan. Beberapa riset terkait potensi kue iklan disampaikan dalam buku tersebut. Tak hanya itu, buku itu juga menyajikan pengakuan pengelola media online di Indonesia, terkait keuntungan yang mereka peroleh.

kesalahan penulisan kata

Fakta itu merupakan salah satu nilai lebih buku Media Online: Antara Pembaca, Laba, dan Etika.  Dengan membaca fakta tersebut, pembaca bisa memiliki gambaran mengenai bisnis media online di Indonesia. Meski, sebagian pengelola media online tak secara gamblang mengungkapkan keuntungan mereka dalam buku tersebut.

Pengakuan pengelola media online di Indonesia terkait keuntungan mereka, bisa mulai dilihat pada halaman 26-27. Di sana tertulis, “Sapto Anggoro yang pernah menjabat sebagai Direktur Operasional Detik.com mengungkapkan, sampai akhir 2011, biaya operasional detikcom dengan awak redaksi sebanyak 200 jurnalis sekitar Rp 5 miliar-Rp 6 miliar per bulan. Pendapatannya sekitar Rp 9 miliar-Rp 10 miliar per bulan. Artinya, di akhir tahun, setidaknya, Detik.com yang kini menduduki singgasana sebagai situs berita nomor 1 di Indonesia berdasarkan rangking Alexa, mampu meraup penghasilan sekitar Rp 120 miliar. Menurut Sapto, penghasilan Detik.com berasal dari iklan banner, partnership program marketing, dan ring back tone (RBT) dengan operator Indosat. Tentu bukan tanpa optimisme bisnis, jika Boss CT Corp Chairul Tanjung mengakuisisi Detik.com senilai 60 juta dolar AS atau sekitar Rp 500 miliar.”

Media online berikutnya yang dipaparkan dalam buku itu adalah Kompas.com. Isi pemaparan merupakan hasil wawancara dengan Vice Director PT Kompas Cyber Media saat itu, Edi Taslim. Pemaparan dalam buku itu menyebutkan, “Kompas,com mendapat suntikan dana Rp 11 miliar dari induk semangnya, Grup Kompas Gramedia, untuk “reborn” pada 2008. Meski tak bersedia menyebut target pendapatan, Edi Taslim mengungkapkan, Kompas.com sudah menangguk untung sejak 2009. Sebanyak 82 persen pendapatan Kompas.com berasal dari iklan, sisanya 18 persen berasal dari commerce dan mobile.”

Pembahasan selanjutnya mengulas Viva.co.id. Meski begitu, ongkos produksi maupun penghasilan media online tersebut tidak diungkap karena narasumber terkait enggan mengungkapkan data. Tiga media online lain di Indonesia, yang turut diungkap penghasilannya dalam buku tersebut adalah Okezone.com, Kapanlagi.com, dan Tempo.co.

“Pemimpin Redaksi Okezone.com Budi Santoso menuturkan, okezone sudah membukukan untung pada tahun kedua sejak diluncurkan pertama kali pada 1 Maret 2007. Dengan biaya operasional sebesar Rp 850 juta per bulan, menurut Budi, Okezone.com mampu meraup penghasilan sekitar Rp 2 miliar per bulan. Pendapatan mayoritas diperoleh dari iklan.”

salah satu

Selanjutnya, hasil wawancara dengan Pendiri Kapanlagi.com, Steve Christian mendapatkan uraian sebagai berikut, “Steve mengaku, Kapanlagi.com mengeluarkan Rp 700 juta-Rp 900 juta per bulan untuk biaya operasionalnya. Untuk pendapatan, ia enggan terbuka. “Cukup untuk menutupi biaya operasional,” kata dia. Pendapatan diperoleh dari iklan, program, sindikasi konten, dan event.”

Terakhir, Redaktur Tempo.co, Widiarsi Agustina menyampaikan penghasilan perusahaannya. “Tahun 2010, manajemen menetapkan target pendatapan di angka Rp 1 miliar. Kenyataannya, pundi-pundi uang masuk mencapai Rp 1,5 miliar. Begitu juga di tahun 2011. Target Rp 2,5 miliar terlampaui hingga Rp 4 miliar. “Ini di luar ekspektasi,” kata Widiarsi.”

Cara Peroleh Penghasilan

Untuk mendapatkan penghasilan, media online bergantung pada traffic (trafik). Buku Media Online: Antara Pembaca, Laba, dan Etika menjelaskan, “Sederhananya, traffic adalah aktivitas pada satu halaman situs yang dihasilkan dari kunjungan pengguna internet, dan aktivitas pengguna internet di halaman itu. Semakin banyak sebuah situs dikunjungi dan semakin banyak aktivitas yang dilakukan pengguna internet di laman-laman situs itu, maka traffic situs itu semakin tinggi.”

Selain trafik, ada juga pageview. Pageview adalah perkiraan terhadap jumlah halaman yang dilihat pengunjung. “Di ruang redaksi, traffic diperoleh sebagai hasil produksi berita yang dibuat wartawan. Berita-berita yang di-klik pembaca akan menghasilkan pageview. Semakin banyak berita yang di-klik, semakin besar pageview yang diperoleh. Semakin besar pageview, semakin besar potensi bisnis yang bisa diraih.”

Ketergantungan terhadap pageview membuat media online di Indonesia mempraktikkan gaya penulisan berita, yaitu membuat pembaruan berita secara sepotong-sepotong, atau berita yang dipecah-pecah. Tertulis di dalam buku, “Ada yang menyebut berita online adalah jurnalisme empat paragraf karena dalam satu berita, isinya hanya empat paragraf. Ada argumentasi yang menyatakan, berita-berita yang sepotong-sepotong itu adalah nature online karena berita online harus cepat dan merupakan rangkaian perkembangan atas suatu peristiwa. Tapi, dalam perspektif bisnis, berita yang sepotong-potong ini menguntungkan karena dapat melipatgandakan pageview.”

Cepat atau Akurat

Persoalan etik merupakan pembahasan utama pada buku Media Online: Antara Pembaca, Laba, dan Etika. Satu permasalahan yang muncul dalam media online di Indonesia terkait kecepatan penayangan berita, yang tanpa diikuti keakuratan isi berita. Sebagaimana tertulis dalam buku, “Adu cepat ini lantas membawa sebuah implikasi serius mengenai akurasi. Atas nama kecepatan, seringkali berita-berita tayang tanpa akurasi, mulai dari hal yang sederhana, yaitu ejaan nama narasumber hingga yang paling serius, yaitu substansi berita.”

“Atas nama kecepatan, media seolah tak memedulikan hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, sebagaimana tercantum dalam Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI) butir 1, Wartawan Indonesia menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi. Atas nama kecepatan pula, pasal 3 Kode Etik Jurnalistik (KEJ) seperti diabaikan. Pasal 3 menyatakan, Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.”

Pertanyaannya kemudian, hal mana yang harus didahulukan, kecepatan atau akurasi?

Dalam FGD yang diselenggarakan AJI Indonesia di Jakarta pada 5 September 2012, pengelola media online yang hadir punya jawaban berbeda. Sebagian memilih kecepatan, sebagian lagi memilih akurasi. Penulis buku Media Online: Antara Pembaca, Laba, dan Etika lantas mengutip pandangan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam “Sembilan Elemen Jurnalisme”.

Begini, kutipan yang ditulis, “Mereka menyatakan, kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran. “Prinsip pertama jurnalisme ini yaitu pengejaran akan kebenaran yang tidak berat sebelah adalah yang paling membedakannya dari semua bentuk komunikasi lain,” tulis Kovach dan Rosenstiel.”

“Selanjutnya, Kovach dan Rosenstiel menuturkan, demi mengejar kebenaran itu, intisari jurnalisme adalah disiplin verifikasi. Era teknologi tinggi saat ini membawa jurnalisme menyerupai percakapan, sangat mirip dengan jurnalisme pertama yang berlangsung di kedai minum dan kafe 400 tahun lalu. “Fungsi jurnalisme tidak berubah secara mendasar meski kita telah memasuki era digital. Teknik yang digunakan mungkin berlainan, tapi prinsip-prinsip yang menggarisbawahinya tetap sama. Yang pertama dilakukan wartawan adalah verifikasi,” sebut Kovach dan Ronsenstiel. Verifikasi adalah prasyarat mutlak bagi akurasi. Oleh karena itu, bagaimanapun cara dan bentuknya, media online tidak bisa melepaskan diri dari disiplin verifikasi.”

Selain dari pengelola media online, FGD AJI Indonesia juga mengundang masyarakat, untuk mengetahui persoalan etik di media online dari sudut pandang pembaca. Hal terakhir yang turut dibahas dalam buku itu adalah kekosongan hukum terkait praktik jurnalisme dalam media online. “Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers (UU Pers) tidak mengatur soal komunitas, model-model baru praktik pemberitaan dalam media online, juga distribusi berita dalam ranah media sosial. Setelah melewati sejumlah diskusi yang hangat, akhirnya, awal Februari 2012, Dewan Pers bersama sejumlah komunitas pers merilis Pedoman Pemberitaan Media Siber.”

kolonisasi

Sejarah Media Online di Indonesia

Sejarah media online di Indonesia dibahas dalam delapan halaman pada buku Media Online: Antara Pembaca, Laba, dan Etika. Pemuatan sejarah media online di Indonesia tersebut sepertinya bertujuan memberikan gambaran mengenai dunia media online di Tanah Air, sebelum pembahasan utama dilakukan. Hal itu tampak pada tulisan di halaman 13, “Sebelum berdiskusi lebih jauh atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, baik kita menengok lebih dulu perkembangan media online di Indonesia.”

Sejarah media online di Indonesia tak terlepas dari keberadaan internet. Internet muncul di Indonesia pada 1990-an. Sementara, wabah internet mulai mengemuka di publik saat jasa layanan internet komersial pertama, yaitu Indonet, berdiri pada 1994. Catatan akurat mengenai situs pertama di Indonesia, yang tayang di dunia maya, tidak ada.

Adapun, kemunculan media yang hadir di internet, tertulis dalam buku tersebut sebagai berikut, “Catatan tentang media pertama yang hadir di internet jauh lebih pasti, yaitu Republika Online (www.republika.co.id) yang tayang perdana pada 17 Agustus 1994, satu tahun setelah Harian Republika terbit. Berikutnya, pada 1996, awak Tempo yang “menganggur” karena majalah mereka dibredel rezim orde baru pada 1994, mendirikan Tempointeraktif.com (sekarang www.tempo.co). Bisnis Indonesia juga meluncurkan situsnya pada 2 September 1996. Selanjutnya, jauh dari Jakarta, pada 11 Juli 1997, Harian Waspada di Sumatera Utara meluncurkan Waspada Online (www.waspada.co.id). Tak lama setelah Waspada Online, muncul Kompas Online (www.kompas.com) pada 22 Agustus 1997. Merekalah generasi pertama media online di Indonesia. Kontennya hanya memindahkan halaman edisi cetak ke internet, kecuali tempointeraktif yang tidak lagi memiliki edisi cetak. Pada tahun-tahun ini, berita-berita yang tayang di situs-situs media online itu bersifat statis. Internet pun belum begitu populer di tanah air. Selain itu, situs-situs berita itu belum berorientasi bisnis.”

Perubahan isi media online di Indonesia, dipelopori Detik.com. Detik muncul sebagai media online otonom, berbeda dari media online yang muncul pada 1990-an, yang hanya menyalin versi cetak ke online. Detik.com digagas empat sekawan, yaitu Budiono Darsono, Yayan Sopyan, Abdul Rahman, dan Didi Nugrahadi. Detik.com diunggah pertama kali pada 9 Juli 1998.

promosi kuliner menggunakan tulisan deskripsi

Sejarah kemunculan Detik.com tertuang di halaman 17-18 buku Media Online: Antara Pembaca, Laba, dan Etika sebagai berikut, “Sapto Anggoro, jurnalis awal Detik.com, menceritakan dalam buku Detikcom: Legenda Media Online (2012), Budiono sebenarnya sempat menganggur sebagai “jurnalis” selama beberapa tahun, selepas dari Tabloid Detik. Ia sibuk mengurus Agrakom, bisnis web developer yang ia dirikan bersama rekannya. Momen perubahan sosial politik di tahun 1998 menggerakkan Budiono, untuk membuat sebuah media baru yang tidak mudah dibredel, dan mampu memberikan informasi secepat mungkin, tanpa harus menunggu dicetak besok pagi. Budiono sempat menawarkan konsep media online itu kepada Harian Kompas, yang merupakan klien perusahaan Agrakom. Tawaran itu tak bersambut. Budiono tak patah arang. Bersama tiga rekannya, ia meluncurkan Detik.com dengan modal awal Rp 40 juta.”

“Tanpa dukungan media cetak, seperti media online generasi pertama, www.detik.com mengenalkan langgam berita baru: ringkas to the point. Kerap, atas nama kecepatan, berita Detik.com tidak selalu lengkap dengan unsur 5W+1H layaknya pakem baku jurnalistik. Budiono mengenalkan langgam running news, yakni sebuah penyajian berita serial yang meniru cara breaking news stasiun berita CNN, atau yang biasa juga diterapkan pada kantor-kantor berita asing, seperti AP, AFP, atau Reuters. Konsep ini mendapat tempat di hati pembaca, di tengah penetrasi internet yang sangat rendah dan berbiaya mahal.”

BACA JUGA: 7 Kesalahan dalam Teknik SEO

Sejarah media online di Indonesia berlanjut ke rentang waktu tahun 2000-2003. Saat itu, internet mulai booming. Situs-situs bermunculan, termasuk media online. Tertulis pada halaman 18, “Beberapa situs berita yang lahir pada era ini antara lain Astaga.com, Satunet.com, Lippostar.com, Kopitime.com, dan Berpolitik.com. Mereka yang terjun ke situs-situs berita ini adalah para pemodal berkantong tebal. Astaga dan Satunet dimodali investor asing, sementara Lippostar adalah besutan Grup Lippo, perusahaan papan atas di Indonesia. Kopitime.com juga menorehkan sejarah di era ini sebagai media online pertama yang tercatat di Bursa Efek Jakarta.”

Pertumbuhan bisnis yang tak baik, membuat media online-media online yang baru bermunculan itu, tak mampu bertahan lama. “Memasuki tahun 2002, satu per satu media berguguran, tak mampu mengongkosi biaya operasional. Kopitime pun tak lama menikmati lantai bursa. Pada 2003, saham Kopitime disuspensi di harga Rp 5 per lembar. Meski dilanda krisis, Detik.com tetap bertahan meski harus melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap sejumlah karyawannya. Dua media online lain yang juga bertahan dari krisis adalah Kompas.com dan Tempointeraktif.com. Dua terakhir ini tidak gugur karena ditopang kokoh oleh media induknya yang berbasis cetak.”

model wawancara dalam reportase

Di antara kekrisisan dalam sejarah media online di Indonesia itu, pada awal 2003, www.kapanlagi.com tayang. Steve Christian bersama seorang rekannya mengonsep situs hiburan. Selanjutnya, tertulis di halaman 20, “Memasuki tahun 2006, grup PT Media Nusantara Citra (MNC) yang memiliki tiga stasiun televisi, yaitu RCTI, Global TV, dan TPI yang kemudian berubah menjadi MNC, menyiapkan situs www.okezone.com. “Secara resmi diluncurkan (commercial launch) pada 1 Maret 2007,” kata Pemimpin Redaksi Okezone.com, M Budi Santosa.”

Sejarah media online di Indonesia turut diwarnai empat wartawan Tempo, yang menawarkan konsep media online baru. Setelah tak mendapat respons memadai dari Tempo, mereka menawarkan konsep tersebut ke Grup Bakrie. Bakrie tertarik. Vivanews.com yang kemudian berubah menjadi Viva.co.id, diluncurkan pada Desember 2008.

Pada tahun yang sama, dua media online “lama” melakukan perubahan, agar mampu bersaing dengan media online-media online baru yang bermunculan. Sebagaimana tertulis dalam buku, “Edi Taslim menyebut, Grup Kompas Gramedia menggelontorkan Rp 11 miliar untuk “reborn” Kompas.com pada 2008. Situs yang dulu hadir dengan nama Kompas Cyber Media atau KCM, lahir baru dengan branding Kompas.com. Perubahan signifikan dari “media baru” ini adalah mempraktikkan langkah sinergi, dengan mengonvergensikan sejumlah media di bawah Grup Kompas Gramedia ke dalam Kompas.com. ”Kompas.com juga men-deliver konten melalui augmented reality. Beberapa laporan Harian Kompas yang notabene cetak juga dimultimediakan, seperti laporan ‘Ekspedisi Cincin Api’ dan ‘Ekspedisi Citarum’ yang memenangkan penghargaan tingkat Asia,” kata Edi Taslim.”

BACA JUGA: 5W+1H, Unsur Berita dari Rudyard Kipling

“Sejak 2008, Tempointeraktif mulai digarap serius: staf ditambah, format baru dicari. Widiarsi menyebut, salah satu kendalanya ternyata persoalan teknis: nama situs. Tempo.com sudah ada yang punya. Di sinilah, ihwal munculnya peralihan dari www.tempointeraktif.com menjadi www.tempo.co. “Alhamdulilah, sejak November 2011 diluncurkan, dari ranking 1.530 Indonesia di Alexa, belasan ribu di dunia, hanya waktu dua bulan, kami sudah naik jadi nomor 40 di Alexa. Dan kami ranking 5 untuk portal berita se-Indonesia,” kata Niniel, panggilan akrab Widiarsi Agustina.”

Pemaparan tentang sejarah media online di Indonesia, potensi bisnis, cara peroleh penghasilan, dan sebagainya, yang tertuang dalam buku Media Online: Antara Pembaca, Laba, dan Etika, bisa diunduh gratis di sini.

sejarah media online di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment