Pulang dan Menunggu Pulang

“Tok…tok…”

Suara itu nyaris tak terdengar. Rustam yang duduk di ruang tamu, hanya menengokkan kepala ke arah pintu, tak lama setelah suara itu berbunyi.

BACA JUGA: Bahasa Sederhana – Membuat Tulisan Enak Dibaca 2

Ia tak beranjak. Kakinya bersila di atas karpet bermotif bunga. Sementara, punggungnya menempel di tembok.

Selama hampir dua menit, ia hanya memandangi pintu di sebelah kanannya. Sambil berharap, pintu itu terbuka lalu muncul perempuan yang ia tunggu sejak semalam. Fika, istrinya.

Rustam sengaja tak mengunci pintu. Supaya, istrinya bisa mudah tetap masuk rumah saat pulang, jika dirinya ketiduran. Tetapi, pintu itu tetap tertutup. Dan, Rustam belum terlelap.

Pria yang rambutnya mulai memutih itu akhirnya memalingkan kepala, saat harapannya belum terkabul. Ia menunduk, menatap kedua telapak tangannya yang menggeletak di atas paha. Sementara, pikirannya mencoba mencari tahu, ke mana istrinya pergi?

“Tok…tok…”

Suara itu terdengar lagi. Tetapi kali ini, Rustam tak memalingkan wajahnya ke arah pintu. Ia tetap menunduk.

Rustam mencoba pasrah. Sejak semalam, ia sudah sepuluh kali mendengar suara yang sama. Meski begitu, harapannya masih tetap berupa keinginan. Istrinya belum juga pulang.

Rustam tak mengerti. Sepanjang ia hidup bersama istrinya, suara serupa kerap ia dengar. Setelahnya, saat pintu terbuka, wajah Fika selalu hadir.

Fika memang tak pernah mengetuk pintu lebih dari dua kali, dalam setiap sesi ketukannya. Ia lalu akan membuka pintu. Jika pintu terkunci dan tidak ada orang yang membukakan, Fika akan diam sejenak, untuk kemudian mengetuk pintu lagi, sebagaimana kebiasaannya, hingga ada orang yang membukakan pintu.

Rustam kini merasa bingung. Sepanjang hidup bersama istrinya, ia selalu tahu ke mana istrinya pergi. Sebab, Fika selalu meminta izin kepadanya saat hendak pergi, walaupun hanya ke warung di depan rumah untuk membeli bumbu masak.

Jika pergi jauh seorang diri, Fika pun selalu mengatakan waktu kepulangannya kepada Rustam. Dan sejauh ini, Fika selalu pulang sesuai waktu yang ia sampaikan.

Tetapi sekarang berbeda, Rustam tak tahu waktu kepulangan Fika. Bahkan, ia tak tahu ke mana istrinya pergi. Rustam pun tak ingat jika istrinya pernah meminta izin kepadanya untuk pergi.

Rustam merasa marah karena perbuatan istrinya itu, yang pergi tanpa izin. Sekaligus, ia merasa takut karena istrinya tak kunjung pulang. Rustam merasa kesal karena tindakan istrinya. Tetapi di sisi lain, ia merasa khawatir menunggu kepulangan istrinya. Hatinya terus berkecamuk, sementara pikirannya terus berkelana, mencoba mengingat hal terakhir yang ia lakukan bersama istrinya, sebelum Fika pergi.

“Tok…tok…”

Sekali lagi, untuk kesebelas kali, suara itu muncul. Rustam sudah tak ingin berharap. Ia menyerah. Meski, berbagai pertanyaan masih muncul di dalam kepalanya.

Tetapi justru dalam kepasrahannya, Rustam sekilas melihat bayangan perempuan yang mendekatinya. Rustam mengangkat kepalanya. Ia menengok perlahan ke sosok yang kini berdiri tegap di sebelah kirinya.

“Ayah belum tidur?”

Gadis itu bertanya sambil menggosok kedua matanya. Rustam memandang sejenak perilaku putrinya, yang baru saja duduk di bangku SMA. Sampai kemudian, ia memandang sekeliling ruang tamu rumahnya. Termasuk, ia melihat cahaya lampu di antara kegelapan, di balik sela-sela tirai yang menutupi jendela.

“Jam berapa ini?” Rustam bertanya tanpa memandang putrinya.

“Jam 4 pagi, Yah,” kata Nasya. Raut keletihan terlihat di wajah putri pertama Rustam tersebut. “Nas mau cuci piring dulu, Yah.”

Iya,” kata Rustam pelan sambil berusaha berdiri. Ia lalu berjalan menuju pintu, dan membukanya.

Di depan rumahnya, Rustam melihat beberapa mobil terparkir, kursi-kursi plastik tersusun vertikal di teras rumah, dan daun-daun melayang tertiup angin.

Melihat perilaku ayahnya, Nasya mengurungkan niatnya beranjak ke dapur. Ia memperhatikan setiap gerakan ayahnya dalam diam. Sampai ketika ayahnya hendak melangkah ke luar rumah, Nasya bersuara.

“Ayah mau ke mana?”

Rustam tak jadi melangkah. Ia berdiri bersandar pada pintu yang telah terbuka setengah. Ia tak membalikkan badan meski mendengar putrinya bertanya.

telunjukjempol.com

“Ibu belum pulang?”

Nasya tidak menjawab pertanyaan ayahnya. Ia hanya berjalan mendekati ayahnya. Dalam setiap langkahnya, air matanya kian deras meluncur melewati kedua pipinya.

Dengan kedua tangannya, Nasya meraih lengan kiri ayahnya. Di bahu laki-laki itu, ia sandarkan kepalanya. Nasya tak ingin menatap wajah ayahnya. Ia merasa tak sanggup melihat kesedihan di wajah ayahnya.  Kesedihan yang sudah menyeruak dalam pertanyaan ayahnya.

“Ibu sudah pulang, Yah. Ibu sudah tenang. Kita sudah menguburkannya kemarin siang. Kita juga sudah mendoakannya semalam,” suara Nasya terdengar bercampur isakan.

BACA JUGA: Tugas Mengarang SD Ajang Latihan Menulis Deskripsi

Rustam bergeming. Ia tak menoleh sedikit pun ke arah putrinya. Ia tetap memandang ke depan. Meski kini, tatapan matanya menjadi kosong.

Ia membayangkan wajah istrinya berdiri di depan pintu. Ia membayangkan istrinya sedang tersenyum. Tangan Rustam berusaha menyentuh bibir yang tersenyum itu. Tetapi, ia tak bisa. Dalam kesedihannya, ia hanya berujar, “Tok..tok..”

pulang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *