Observasi dalam Reportase

Observasi atau pengamatan merupakan satu dari tiga teknik dalam reportase. Observasi dalam reportase sebenarnya serupa dengan metode observasi pada umumnya. Di mana, penggunaan pancaindra sangat dibutuhkan untuk mendapatkan hasil optimal.

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai observasi dalam reportase, pertama-tama, apa itu reportase?

Reportase merupakan bagian dari kegiatan jurnalistik. Reportase adalah upaya pencarian fakta sebagai bahan pembuatan berita, yang akan dipublikasikan.

Dalam melakukan reportase, ada tiga teknik yang bisa dilakukan, yaitu riset, wawancara, dan observasi.

Riset merupakan upaya pengumpulan bahan yang umumnya berupa data atau kepustakaan. Sementara, penjelasan mengenai wawancara bisa dibaca di artikel berjudul Model Wawancara dalam Reportase.

Adapun, observasi merupakan upaya pengumpulan bahan melalui pengamatan. Observasi mensyaratkan kehadiran jurnalis dalam fakta, yang hendak dijadikan berita. Fakta tersebut bisa berupa peristiwa, tempat, tokoh, dan lain-lain.

Dalam membuat sebuah berita, ketiga teknik reportase tersebut bisa digunakan semuanya, atau hanya satu di antara ketiganya. Bisa pula, dua dari tiga teknik reportase dipakai dalam membuat sebuah berita.

Misalnya, seorang reporter hendak mengangkat berita tentang tokoh A, yang ingin mengikuti pilkada di daerah B. Dan, reporter tersebut hanya melakukan wawancara. Dengan demikian, ia cuma menggunakan satu dari tiga teknik reportase.

Meskipun sebaiknya, reporter menggunakan setidaknya dua dari tiga teknik reportase dalam membuat berita. Hal itu supaya berita yang dibuat bisa lebih mendalam.

Contohnya, dalam wawancara tokoh A tersebut, reporter juga bisa menggunakan teknik observasi untuk memperlihatkan gesture si tokoh. Apakah si tokoh kerap memperlihatkan mimik serius atau selalu santai? Sehingga, hal itu bisa memberikan sedikit gambaran mengenai sosok si tokoh.

Atau, selain wawancara, reporter juga dapat menggunakan teknik riset. Riset misalnya berupa jumlah kursi parpol pendukung, jumlah harta kekayaan si tokoh, dan sebagainya.

Artikel ini hanya membahas tentang observasi dalam reportase. Pembahasan meliputi tujuan observasi, hal yang harus diperhatikan dalam observasi, kesalahan persepsi dalam observasi, hal yang harus dihindari saat menulis hasil observasi, hingga bidang liputan yang dapat menggunakan teknik observasi dalam reportase.

Merasa Dekat

Observasi dalam reportase memiliki tujuan, yaitu mengajak masyarakat “berada” di dalam berita, baik itu buat pembaca, penonton, maupun pendengar. Sehingga, masyarakat diharapkan merasa dekat dengan fakta yang disajikan reporter. Ketika sudah merasa dekat, masyarakat diharapkan mau “mengonsumsi” berita tersebut secara keseluruhan.

Di dalam nilai berita, kedekatan merupakan satu dari enam nilai utama, yang menjadi panduan untuk menerbitkan berita. Kedekatan dalam nilai berita dihubungkan antara lokasi fakta dengan masyarakat yang akan menerima berita.

Misalnya, koran lokal di daerah Y akan mengutamakan menyajikan fakta yang terjadi di daerah Y, dibanding fakta yang terjadi di daerah Z. Sebab, orang biasanya akan lebih memperhatikan peristiwa di seputarnya, yang kemungkinan memiliki dampak terhadap dirinya. Sehingga, orang umumnya akan mencari informasi yang memiliki faktor kedekatan dengannya. Dalam hal itu, kedekatan secara geografis.

Observasi dalam reportase memiliki keunggulan membuat penerima informasi merasa dekat, meskipun fakta yang terjadi bisa jadi berlokasi jauh dari penerima informasi. Berbeda dengan kedekatan dalam nilai berita, hasil observasi mampu menimbulkan kedekatan secara psikologi.

Contohnya, seorang reporter membuat berita tentang mobil yang tiba-tiba terbakar. Ia pun melakukan observasi dengan menggambarkan kondisi mobil. Berita tersebut tentu memiliki kedekatan psikologi dengan para pemilik mobil. Karena  bukan tidak mungkin, hal serupa terjadi pada mereka.

Perasaan dekat dapat timbul jika hasil observasi disampaikan secara detail. Sehingga, hasil observasi bisa menjadi stimulus supaya penerima informasi mau “mengonsumsi” berita yang disajikan secara keseluruhan.

Observasi terhadap fakta yang disajikan televisi biasanya lebih mudah. Karena, televisi mampu memberikan gambar sekaligus suara. Penonton pun bisa melihat dan mendengar hal yang dilihat reporter. Sehingga seolah-olah, penonton hadir di lokasi fakta.

Misalnya, peristiwa mobil tertabrak kereta di Jawa Tengah pada Sabtu (20/5/2017) lalu. Reporter televisi mampu memperlihatkan kondisi mobil yang ringsek dan terbakar akibat terseret kereta. Serta, masyarakat yang mengerumuni lokasi kejadian. Meskipun tak ada di lokasi sebagaimana masyarakat yang berkerumun, penonton dapat melihat langsung kondisi kecelakaan tersebut. Sebab melalui video yang ditayangkan, reporter yang meliput seolah mengajak penonton hadir di lokasi kejadian.

Penggambaran Detail

Jika hasil observasi reporter televisi bisa langsung dilihat, persoalannya kemudian, bagaimana dengan observasi yang dilakukan reporter radio, media cetak, atau media online (daring)?

Sebab, hasil observasi reporter ketiga media tersebut tidak dapat langsung dilihat penerima informasi, selayaknya televisi.

Radio menggunakan suara sebagai proses penyampaian. Di mana, suara yang diperdengarkan umumnya suara penyiar yang membacakan naskah. Serta, beberapa kutipan yang memperdengarkan suara narasumber.

Sementara, media cetak dan daring umumnya memakai tulisan sebagai proses penyampaian. Sehingga, kunci untuk menjabarkan hasil observasi dengan baik adalah penggunaan jenis tulisan deskripsi, baik untuk media cetak, daring, maupun naskah buat radio.

Merujuk buku Pembelajaran Menulis (2009) karya Elina Syarif, Zulkarnaini, dan Sumarmo, deskripsi adalah pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata suatu benda, tempat, suasana atau keadaan. Seorang penulis deskripsi mengharapkan pembacanya, melalui tulisannya, dapat “melihat” apa yang dilihatnya, dapat “mendengar apa yang didengarnya, “merasakan” apa yang dirasakanya, serta sampai kepada “kesimpulan” yang sama dengannya. Dari sini dapat disimpulkan, deskripsi merupakan hasil dari observasi melalui pancaindra, yang disampaikan dengan kata-kata (Marahimin. 1993. 46). Penjabaran mengenai jenis tulisan lainnya bisa dilihat di artikel berjudul 5 Jenis Karangan dari 4 Referensi.

Dari penjelasan tersebut diketahui, teknik menulis deskripsi dan observasi memiliki keterkaitan satu sama lain. Observasi adalah proses yang dilakukan reporter saat mengumpulkan bahan berita di lapangan. Sementara, deskripsi merupakan cara menuliskan hasil observasi.

Supaya mampu membuat tulisan deskripsi yang “hidup”, reporter harus memperhatikan detail setiap hal, saat ia melakukan observasi. Detail setiap hal menjadi penting karena dalam menulis deskripsi, reporter sebenarnya berusaha “memindahkan” hal yang ia dapat dalam observasi kepada masyarakat. Supaya, masyarakat turut merasakan hal yang dirasakan reporter saat melakukan observasi.

Misalnya, seorang reporter meliput kegiatan pameran lukisan. Reporter tersebut harus jeli mengenai kondisi ruangan, penempatan lukisan, cahaya di ruang pameran, keriuhan atau kesunyian yang tercipta, dan sebagainya. Sehingga ketika menuliskan hasil liputannya, reporter bisa “mengajak” pembacanya seolah-olah berada di pameran lukisan tersebut.

Laporan Pandangan Mata

Istilah laporan pandangan mata biasanya digunakan untuk menyebut observasi atau pengamatan. Istilah tersebut sebenarnya kurang tepat. Meskipun, hal itu tak sepenuhnya salah.

Dengan menyebut laporan pandangan mata, hal itu mengisyaratkan bahwa indra yang digunakan dalam observasi hanyalah penglihatan. Padahal, observasi perlu memaksimalkan pancaindra, baik penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, serta perasaan.

Meski begitu, penggunaan kelima indra itu umumnya tidak dilakukan sekaligus. Sebab biasanya, ada satu indra yang dominan digunakan saat melakukan observasi dalam reportase, yaitu indra penglihatan. Karena itulah, penyebutan liputan pandangan mata untuk menyebut reportase tidak sepenuhnya salah.

Meski ada satu indra yang dominan dalam sebuah reportase, indra lain tetap memiliki peran. Misalnya, seorang reporter meliput acara konser musik. Tentu selain penglihatan, pendengaran menjadi indra lain yang harus dimaksimalkan penggunaannya.

Karena tidak mungkin, berita tentang konser hanya mendeskripsikan hal yang dilakukan penyanyi di atas panggung. Atau, kostum yang dikenakan. Berita tentang konser biasanya turut berisi lagu-lagu yang dinyanyikan. Atau, cara penyanyi menyapa penonton, apakah berteriak, bersuara pelan, atau sambil tertawa.

Contoh lain, reporter meliput kuliner. Observasi dalam reportase kuliner tentunya tak sebatas menjelaskan wujud makanan. Rasa dan aroma biasanya menjadi hal penting buat disampaikan.

Reporter Hadir

Observasi dalam reportase memerlukan kehadiran reporter dalam fakta yang hendak diungkap. Hal itu bertujuan supaya reporter bisa mengetahui langsung kondisi yang terjadi di dalam fakta. Kembali pada contoh peristiwa mobil tertabrak kereta di atas, reporter yang hadir langsung dalam fakta mampu mengetahui kondisi mobil dan kereta api. Sehingga saat menulis, ia mampu mendeskripsikan hal itu secara detail dan lengkap.

Observasi dalam reportase sebenarnya bisa juga dilakukan tanpa kehadiran reporter dalam fakta. Biasanya, hal itu terjadi pada fakta berupa peristiwa masa lalu. Karena, reporter tidak mungkin bisa kembali ke masa lalu.

Misalnya, lagi-lagi, contoh peristiwa mobil tertabrak kereta di atas. Saat peristiwa tabrakan, reporter belum hadir di lokasi fakta. Ia baru tiba setelah tabrakan terjadi. Sehingga, observasi dalam reportase yang dilakukan lebih pada kondisi pasca kecelakaan.

Walau begitu, reporter tetap bisa menggambarkan kondisi saat tabrakan terjadi. Hal itu dilakukan melalui wawancara terhadap orang yang terkait langsung dengan peristiwa. Untuk mengetahui cara menentukan orang yang menjadi prioritas untuk diwawancara, hal itu bisa dibaca di artikel berjudul Lingkaran Konsentris, Upaya Hasilkan Akurasi.

Wawancara untuk mendapatkan detail peristiwa yang dialami narasumber, biasanya berlangsung lebih lama. Sebab, reporter harus memastikan hasil wawancara yang didapat mampu membuatnya seolah-olah berada tepat saat narasumber mengalami peristiwa. Reporter harus merasakan hal yang dirasakan narasumber ketika mengalami peristiwa. Hal itu penting karena reporter hendak mengajak masyarakat untuk berada dalam peristiwa yang ia beritakan.

Bisa dikatakan, upaya menggambarkan peristiwa masa lalu yang tak dihadiri reporter, memiliki kesulitan lebih tinggi, dibanding peristiwa yang bisa diobservasi langsung oleh reporter. Sederhananya begini, saat melakukan observasi dalam reportasi, reporter cukup mendatangi lokasi fakta lalu menuliskannya secara deskriptif.

Tetapi untuk peristiwa masa lalu, reporter harus terlebih dahulu mencari narasumber yang mampu menceritakan peristiwa tersebut secara detail. Narasumber yang diwawancara pun biasanya tidak satu. Hal itu untuk memastikan kebenaran peristiwa tersebut. Cek dan ricek terhadap setiap narasumber pun penting untuk mendapatkan hasil observasi peristiwa masa lalu yang detail. Baru setelah itu, reporter melakukan langkah serupa observasi untuk peristiwa langsung, yang bisa dihadiri reporter. Hal itu untuk melihat keterkaitan antara keterangan narasumber dengan kondisi terkini. Sebagai langkah terakhir, reporter menulis hasil reportasenya secara deskripsi.

Penggambaran peristiwa masa lalu biasanya menjadi kelemahan televisi karena tidak mampu menghadirkan audio visualnya. Umumnya, televisi menyiasati hal tersebut dengan menghadirkan grafis. Sementara untuk media cetak, daring, dan radio, penggambaran peristiwa masa lalu secara detail masih sangat mungkin dilakukan, melalui teknik menulis deskripsi.

Dalam membuat tulisan deskripsi berupa fakta masa lalu, setidaknya, ada empat hal yang perlu diperhatikan. Penjelasan mengenai hal tersebut bisa dilihat di artikel berjudul Membuat Tulisan Deskripsi Berdasarkan Penuturan Orang Lain, Perhatikan 4 Hal Ini.

Hindari Opini

Proses penyampaian hasil observasi dalam reportase, khususnya dalam penggunaan teknik menulis deskripsi, berpotensi menemui hambatan berupa keberadaan opini pribadi reporter dalam naskah berita. Terkadang, keberadaan opini pribadi tersebut tak disadari oleh reporter.

Opini dalam berita harus dihindari karena bisa menggiring fakta ke kesimpulan tertentu. Padahal, kesimpulan tersebut belum tentu benar. Tugas seorang reporter hanyalah menyampaikan fakta. Sementara, penilaian terhadap fakta yang disampaikan reporter, dikembalikan kepada masing-masing orang, yang membaca, mendengar, ataupun menonton berita.

Prinsip kehati-hatian harus selalu diterapkan reporter dalam menuliskan hasil reportase. Sebab berbeda dengan wawancara maupun riset, observasi sepenuhnya berada di tangan reporter. Sehingga, subjektivitas bisa sangat berpengaruh terhadap hasil observasi. Karena itu, saat menuliskan hasil observasi, reporter harus bisa meminimalisasi subjektivitas tersebut, dan berusaha memaksimalkan objektivitas.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, reporter terkadang tak sadar telah memasukkan opini pribadi saat menuliskan hasil observasi. Satu di antaranya terjadi akibat penggunaan kata sifat. Berikut, contohnya.

Lima unit mobil sedan berjejer di dalam ruangan tersebut. Dua wanita cantik berdiri mengapit satu unit mobil yang terletak di tengah. Pakaian yang mereka kenakan sama, warna biru untuk atasan dan putih buat rok selutut yang dikenakan.

Contoh di atas hendak mendeskripsikan sebuah pameran mobil. Saat melakukan observasi, reporter melihat lima unit mobil sedan dan dua wanita berseragam biru putih. Hal itu pun ia tuliskan secara deskripsi.

Sayangnya, reporter tersebut turut memasukkan opini pribadinya, yang menyatakan bahwa kedua wanita yang ia lihat memiliki paras cantik. Padahal, persepsi tersebut sangat mungkin berbeda dengan orang lain, yang sama-sama melihat kedua wanita tersebut.

Kata cantik merupakan kata sifat. Penggunaan kata sifat dalam menulis deskripsi sebaiknya dihindari. Hal itu karena kata sifat tidak memiliki arti yang terukur dan sangat subjektif. Misalnya, kata cantik. Bagaimana sebenarnya sosok wanita cantik? Apakah ia berkulit putih, berhidung mancung, dan berdagu lancip? Atau, apakah ia berkulit sawo matang, bermata cokelat, dan berbulu mata lentik?

Untuk menggantikan kata sifat, reporter bisa menggunakan kata benda. Misalnya untuk menggantikan kata cantik pada contoh di atas, reporter bisa mendeskripsikan penampilan kedua wanita tersebut.

Lima unit mobil sedan berjejer di dalam ruangan tersebut. Dua wanita berkulit putih dan berhidung mancung, berdiri mengapit satu unit mobil yang terletak di tengah. Pakaian yang mereka kenakan sama, warna biru untuk atasan dan putih buat rok selutut yang dikenakan.

Semua Fakta

Penerapan teknik observasi dalam reportase umumnya dilakukan pada fakta peristiwa, misalnya peristiwa kecelakaan pada contoh di atas. Meskipun sebenarnya, observasi juga bisa diterapkan pada fakta opini, yang mengandalkan keterangan narasumber.

Misalnya, seorang ketua asosiasi kendaraan bermotor memprediksikan bahwa mobil berwarna putih akan lebih laku di pasaran dibanding warna lain, pada tahun-tahun mendatang. Sebab, mobil warna putih dianggap lebih aman dari kecelakaan saat digunakan malam hari. Karena, mobil tersebut lebih mudah terlihat oleh pengendara lain.

Seorang reporter bisa membuat berita tersebut lebih “hidup”, dengan menambahkan observasi dalam reportase yang dilakukan. Satu di antara caranya dengan mengamati keberadaan mobil berwarna putih di jalan saat malam. Reporter tersebut bisa menggambarkan penampakan mobil warna putih saat malam.

Sehingga ketika menuliskan berita, reporter tidak hanya menyampaikan komentar-komentar narasumber. Tetapi, ia juga mampu “memperlihatkan” fakta yang disampaikan narasumber tersebut. Harapannya, pembaca akan memiliki kedekatan dengan kondisi tersebut, sehingga mau membaca berita secara keseluruhan.

Jika teknik observasi dalam reportase bisa diterapkan pada fakta peristiwa maupun fakta opini, maka bisa dikatakan, teknik tersebut sangat mungkin digunakan di semua bidang liputan, mulai dari pemerintahan, politik, ekonomi, bisnis, kriminal, dan sebagainya.

Observasi dalam Reportase

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *