Nama Baik yang Harus Dijaga

Posted on Resensi 71

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Bagi Mursyid Arsyad, junjungan terhadap langit tidak hanya sebatas menginjak bumi. Sebagai abdi negara, menjunjung langit tidak berarti sekonyong-konyong menuruti perintah atasan untuk mencari muka. Mursyid memaknainya dengan melaksanakan tugas yang diamanahkan sebaik mungkin.

Jurnalis Lampung Post, Adian Saputra, secara bertutur mengejawantahkan perjalanan hidup Mursyid Arsyad secara apik, dalam buku berjudul Menjaga Nama Baik, Biografi H. Mursyid Arsyad, S.H. Perlahan dan runut, Adian mengurai kembali jejak-jejak langkah yang ditinggalkan Mursyid.

Terlahir sebagai anak seorang petani cengkih pada 14 Juli 1938, di Putihdoh, Tanggamus, masa kecil Mursyid terbilang berkecukupan. Hal itu karena saat itu cengkih, kopi, dan lada masih berharga tinggi di pasaran. Lampung dikenal kaya akan ketiga hasil bumi itu sehingga mendapat julukan Tanah Lado (hlm. 2—3).

Mursyid Arsyad telah diajarkan mandiri sejak kecil. Ia jarang tinggal dengan orangtua. Ia menetap bersama kakak-kakaknya. Alhasil, ia harus tahu diri untuk turut membantu pekerjaan kakaknya karena hidup menumpang (hlm. 3). Walaupun hidup dalam keluarga mampu, Mursyid tidak serta-merta mendapat fasilitas secara mudah.

Mursyid kecil bahkan tidak diberikan uang jajan. Untuk memiliki uang, ia berjualan es lilin dan kacang goreng (hlm. 5). Kelak, tempaan kemandirian semasa kecil memudahkannya saat merantau ke Pulau Jawa. Sebuah perjalanan untuk menempuh pendidikan menjadi seorang sarjana hukum. Dalam perjalanan itu, Mursyid juga menemukan jodoh.

Karier Mursyid sebagai birokrat dimulai ketika ia kembali ke Lampung. Awalnya, menjadi dosen tetap Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Tanjungkarang pada 1968. Lalu, camat Pringsewu, camat Kotaagung, camat Tanjungkarang Barat, pembantu Bupati Lampung Selatan, sekretaris Kabupaten Lampung Selatan, sekretaris Kabupaten Lampung Barat, hingga pensiun sebagai sekretaris DPRD Lampung.

Mursyid berprinsip menjaga nama baik. Tidak hanya dirinya sebagai pribadi, tetapi juga institusi yang ia duduki. Banyak rintangan dalam menerapkan prinsip ini. Misalnya, saat Mursyid menjabat sekretaris kabupaten pertama Lampung Barat, sebuah daerah yang baru akan dibentuk.

Dalam pemekaran wilayah tersebut, nama gubernur Lampung dipertaruhkan (hlm. 66), tetapi di lain pihak, Mursyid harus mampu membina pegawai untuk mau menempuh medan berat, transportasi, dan komunikasi yang tidak lancar kala itu (hlm. 67). Dalam situasi itu, Mursyid harus mampu menjaga nama baik, institusi maupun atasannya.

Adian menarasikan secara perinci jalan hidup Mursyid. Satu per satu kesulitan yang ditemui Mursyid dalam menjalani hidup diuraikan dengan runut. Selanjutnya, Adian menuliskan keberhasilan Mursyid, yang didapatkan setelah menghadapi kesulitan. Hampir di setiap bagian cerita saat Mursyid menduduki sebuah jabatan, struktur kesulitan yang diikuti dengan keberhasilan, diterapkan Adian dalam merekam kisah hidup Mursyid.

Bahasa yang sederhana dan kalimat yang pendek-pendek memudahkan pembaca memahami alur cerita. Jadilah buku Menjaga Nama Baik ini bacaan ringan, tetapi sarat makna. Namun, tidak ada gading yang tidak retak. Walaupun perinci, biografi ini belum memberikan detail dalam setiap perincian yang diceritakan.

Narasi dalam buku memang sudah bercerita, tetapi belum memberikan gambaran (deskripsi) utuh. Misalnya, di hlm. 79 dituliskan dalam buku, “… pernah suatu waktu, saya mengajaknya menonton film. Kami berkeliling dari satu bioskop ke bioskop lain. Tetapi, kami tidak masuk. Kami jalan kaki saja. Mungkin pasangan saya heran, kok mau menonton malah tidak masuk bioskop. Bagaimana mau menonton, waktu itu kami tidak punya cukup uang. Uang yang ada hanya cukup beli kacang goreng. Kami tertawa waktu itu…”

Paragraf tersebut tentu akan makin renyah dibaca apabila menampilkan detail-detail, seperti jumlah dan nama bioskop yang dikelilingi, lama waktu mengelilingi bioskop-bioskop tersebut, jarak yang ditempuh, jumlah uang yang dipegang, atau ekspresi saat Mursyid dan kekasihnya tertawa.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan, buku Menjaga Nama Baik bisa menjadi referensi pengetahuan yang baik. Pesan-pesan yang terkandung dalam buku dapat menjadi cermin dalam menjalani kehidupan. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Artikel ini telah diterbitkan Harian Lampung Post edisi Minggu, 5 Januari 2013.

Mursyid Arsyad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *