Nada Tjerita, Esai-esai tentang Orang, Irama, dan Belanda

Posted on Resensi 143

Ada 52 artikel yang disuguhkan Manunggal Kusuma Wardaya dalam buku berjudul Nada Tjerita. Mayoritas artikel itu berupa kisah, berupa cerita. Dan setidaknya, ada tiga topik utama yang terangkum, yaitu tentang orang, irama, dan Belanda. Walaupun sebenarnya, ada beberapa artikel lain di luar tiga topik itu, yang jumlahnya lebih sedikit, sehingga sulit buat diklasifikasikan.

Joss Wibisono, seorang penulis dan peneliti lepas yang menetap di Amsterdam, Belanda, memberikan kesan positif, saat menuliskan kata pengantar di Buku Nada Tjerita. Menurut Joss, membaca esai-esai Manunggal Kusuma Wardaya serasa seperti mendengar seseorang mendongeng, dalam bahasa yang sederhana, baik, jelas, runtut, dan kadang-kadang juga berisi sentilan yang mengejutkan.

“Hanya karena itu saja, jadi masih belum bicara tentang isinya, saya sudah terpikat untuk membaca dan terus membacanya,” tulis Joss, mengawali kata pengantarnya yang diberi judul Schetsen met Woorden atawa Kata-kata sebagai Sketsa.

Buku Nada Tjerita diterbitkan Indepth Publishing pada Juni 2013. Artikel-artikel dalam buku setebal 240 halaman itu, disajikan begitu saja, berserak tanpa klasifikasi, tanpa pengelompokan berupa apapun, termasuk topik yang terkandung dalam setiap artikel. Hal itu sebagaimana terlihat pada daftar isi buku tersebut.

Maka tak heran, di antara dua artikel yang letaknya saling berurutan, topiknya bisa berbeda jauh. Hal tersebut, satu di antaranya, terlihat pada artikel ketiga yang berjudul Lente yang Dingin di Nederland, dengan artikel keempat yang diberi judul Guruh Gipsy dan Trick Nakal Kawan Senior. Dari judulnya saja sudah terlihat, artikel ketiga membicakan tentang kondisi di Belanda. Sementara, artikel keempat menceritakan tentang musik atau irama.

nada tjerita

Meski begitu, gaya bertutur yang dipakai Manunggal dalam tulisannya, membuat “lompatan” topik tersebut bukanlah sebuah hal yang mengganggu, saat membaca artikel demi artikel. Mungkin itu sebabnya, Joss Wibisono mengatakan bahwa membaca esai Manunggal serasa mendengar seseorang mendongeng. Dongeng yang cukup dinikmati secara mengalir hingga akhir.

Dan, hal itulah yang juga saya rasakan saat membaca buku Nada Tjerita. Sampai kemudian, setelah selesai membaca keseluruhan buku, saya baru menyadari bahwa tulisan Manunggal dalam buku tersebut, sebagian besar berputar pada tiga topik, yaitu orang, irama, dan Belanda. Meski, ada beberapa artikel lain, yang jumlahnya lebih sedikit, yang memiliki topik berbeda.

Kunjungan ke Belanda

Jika hanya merujuk pada buku Nada Tjerita, maka akan diketahui, Manunggal Kusuma Wardaya telah mengunjungi Belanda dalam dua kesempatan berbeda.

Kesempatan pertama terjadi pada 2009. Di mana, Manunggal mengunjungi Belanda untuk mengikuti studi singkat (short course) di Institute of Social Studies di Den Haag, selama kurang dari dua bulan. Ia tiba di negeri kincir angin tersebut pada 22 April 2009 pagi. Keterangan itu bisa dibaca pada artikel ketujuh berjudul Ke Negeri Belanda.

BACA JUGA: Observasi dalam Reportase

Sementara, keterangan terkait kunjungan kedua Manunggal ke Belanda, terserak di beberapa artikel. Dan, keterangan tersebut tidak selengkap keterangan terkait kunjungan pertamanya ke Belanda.

Pada artikel ke-26 berjudul Surat untuk Ibu, Manunggal menulis, “Ini sudah sebulan lebih di Belanda.” Sementara di bawah judul, ia menuliskan Nijmegen, 20 Januari 2012, yang kemungkinan menjadi nama tempat dan waktu saat ia menulis surat tersebut.

Mengenai tujuan kunjungan keduanya di Belanda, hal itu tersirat pada artikel ke-29 berjudul Kenangan Galunggung. Artikel itu tertanggal 11 Januari 2012. Paragraf kedua artikel itu menjelaskan, “Dan ini senja, ketika mencuci piring makan malamku, aku teringatlah pada gunung ini. Kenapa demikian? Entah kenapa, aku menghitung masa sekolahku 30 tahun ke belakang, sebelum aku menempuh pendidikan formal tertinggi ini di negeri Belanda.”

Dan pada bagian Tentang Penulis, Manunggal menjelaskan bahwa saat buku Nada Tjerita diterbitkan, ia sedang menempuh studi doktoral di Faculteit der Rechtsgeleerdheid Radboud Universiteit Nijmegen, Belanda. Di mana, buku Nada Tjerita diterbitkan pada Juni 2013.

Sehingga jika tiga “serakan” itu dirangkum, maka bisa diperoleh informasi, Manunggal mengunjungi Belanda untuk kedua kali guna menempuh studi doktoral, sejak akhir 2011 hingga setidaknya Juni 2013.

Belanda di Nada Tjerita

Artikel-artikel Manunggal Kusuma Wardaya tentang Belanda, lebih banyak mengisahkan petualangan-petualangannya di negeri dam tersebut. Petualangan yang sebenarnya, bisa dikatakan, “sederhana”. Tetapi, gaya bercerita Manunggal yang bertutur, yang sesekali bercampur dengan deskripsi, mampu membuat artikelnya menjadi terasa istimewa. Lihat saja, misalnya, artikel ke-38 berjudul Ke Hilversuum, yang pada intinya cuma menceritakan saat Manunggal pergi ke sebuah stasiun radio.

Dalam artikel itu, Manunggal menuturkan bahwa ia harus bepergian pada suhu minus 10 derajat hingga minus 12 derajat. Secara rinci, ia menulis perjalanannya yang berliku, sambil menahan dingin meski sudah berpakaian tebal, mulai dari menaiki bus, naik kereta, berganti kereta, berganti kereta lagi, berganti kereta sekali lagi, dan berjalan hingga tiba di tempat tujuan.

Penuturan Manunggal saat harus berganti kereta karena kereta yang ditumpangi tak sampai tujuan, secara tak langsung, menjadi konflik yang muncul dalam ceritanya. Konflik yang membuat cerita menjadi menarik.

Dan, cerita semakin menarik karena Manunggal tak cuma bertutur, tetapi juga menggambarkan kondisi, yang membuat pembaca seolah-olah turut berada di lingkungan tempatnya berada, saat ia ke Hilversuum.

Simak, misalnya, pada paragraf sembilan, Manunggal menulis, “Dia memakai jeans model strech, dan dari gerak tubuh dan wajahnya aku tahu, ia pun menahan derita dingin. Tapi, banyak penumpang lain yang senasib dengan kami. Seorang gadis Belanda berharap kereta api pengganti segera datang karena ia mengaku sudah tak tahan. Ia dan banyak penumpang lainnya hanya mampu menggerak-gerakkan kaki dan badan.”

Deskripsi serupa bisa ditemukan di banyak artikel di buku Nada Tjerita. Dan melalui deskripsi, Manunggal mengenalkan Belanda kepada pembaca bukunya. Antara lain, tempat-tempat yang bisa dikunjungi, apabila seseorang hendak berwisata ke Belanda.

Tengok, artikel ke-10 berjudul Sedikit Ceritera tentang Den Haag. Melalui artikel itu, Manunggal memperlihatkan kondisi beberapa tempat di Kota Den Haag, mulai dari Stasiun Den Haag Hollandsce Spoor, Noordeinde Paleis, Vredepaleis, dan sebagainya.

Dalam beberapa artikelnya, Manunggal pun tampak sesekali menggunakan bahasa Belanda, untuk beberapa kata. Tentu, hal itu diikuti dengan artinya dalam bahasa Indonesia. Sehingga, pembaca bisa turut mengetahui beberapa istilah dalam bahasa Belanda.

Tak cuma di dalam artikel, istilah dalam bahasa Belanda pun muncul di dua judul artikel di buku Nada Tjerita. Yaitu, artikel ke-3, Lente yang Dingin di Nederland, dan artikel ke-40, Jarig di Holland. Lente berarti musim semi. Sementara, jarig berarti ulang tahun.

Membicarakan Orang

Artikel-artikel lain Manunggal Kusuma Wardaya di buku Nada Tjerita berkisah tentang orang. Sebagian artikel tersebut sebenarnya masih beririsan dengan cerita-cerita tentang Belanda. Karena, sebagian artikel yang mengisahkan orang, terjadi di Belanda.

Serupa saat bercerita tentang Belanda, Manunggal pun tetap bertutur, yang bercampur deskripsi. Meski, ketika mengisahkan tentang orang, deskripsi terasa lebih utama karena selalu muncul di bagian awal cerita.

Satu di antara contohnya adalah artikel ke-37 yang berjudul Kisah tentang Mel. Deskripsi pada artikel itu sudah muncul sejak paragraf pertama. Manunggal menulis, “Ia, gadis berusia 24 itu, tinggal di lantai satu, lantai di bawahku sejak mulai sekitar seminggu lalu. Ia tidaklah gemuk, cenderung kurus. Rambutnya panjang, tak terlalu panjang, sekitar sepunggung dengan poni di dahi.”

Melalui deskripsi, Manunggal seolah mengajak pembaca membayangkan melihat orang yang ia temui. Dan dengan memiliki imajinasi tentang wujud orang yang hendak diceritakan oleh Manunggal, sejak awal artikel, pembacaan terasa lebih nyaman. Sebab, pembaca tinggal menikmati kisah yang disajikan, tanpa harus lagi menerka-nerka wujud para tokohnya.

Dari pertemuan antara Manunggal dengan berbagai orang, yang ia ungkapkan dalam banyak artikel, bermacam hal dibahas. Satu di antara yang menarik adalah kondisi mengenai sebuah hal di negara, dari orang yang ia temui.

Misalnya, pada artikel ke-50 berjudul Kisah tentang Dmitri. Dari percakapan dengan Dmitri yang berasal dari Ukraina, Manunggal menulis, “Padaku, ia mengatakan bahwa gajinya sebagai dosen di Ukraina amat kecil. Ini kuketahui ketika ia bertanya padaku berapa perbandingan gaji yang kuterima sebagai dosen di Indonesia. Setelah mendengar jawabanku, ia memberi angka yang ternyata jauh di bawahku. Sangat kecil.”

Irama dan Kisah Dara Puspita

Selain orang dan Belanda, artikel-artikel lain yang disuguhkan Manunggal Kusuma Wardaya di buku Nada Tjerita terkait tentang irama atau musik. Irisan pun masih terjadi antara topik irama dengan dua topik lainnya tersebut. Meski, hal itu hanya di sebagian artikel.

Contohnya pada artikel ke-34 berjudul Perjumpaan dengan Benny Soebardja. Pertemuan tersebut berlangsung di Den Haag pada Mei 2012 silam. Dari dua hal tersebut, maka artikel itu sebenarnya juga memenuhi unsur untuk dimasukkan pada topik orang ataupun Belanda. Tetapi, latar belakang Benny sebagai musisi, membuat artikel itu lebih cocok menjadi bagian topik irama.

Terkait musik, ada satu hal menarik yang disampaikan Manunggal dalam buku Nada Tjerita. Di mana, ia mengisahkan tentang Dara Puspita. Sebagian besar orang mungkin akan bertanya, siapa Dara Puspita?

Di buku Nada Tjerita, ada dua artikel yang membahas Dara Puspita. Pada artikel kelima berjudul Dara Puspita, Embah Gambreng, dan Legenda Indonesian Invasion, Manunggal sepertinya menyadari bahwa Dara Puspita tidaklah terlalu dikenal banyak orang pada masa kini.

Sehingga, ia berujar dalam tulisannya, “Terlalu lama publik seni musik di tanah air ini melupakan kenyataan sejarah bahwa pernah ada band Indonesia yang melanglang buana di daratan Eropa atas prakarsa dan kesanggupan dan kapabilitas sendiri. Terlalu sering media tanah air mengatakan dan mengharapkan adanya artis Indonesia untuk go international atau terkesan berlebihan dalam menyanjung sebuah band atau artis yang manggung di negeri tetangga seolah belum pernah terjadi sebelumnya artis Indonesia menoreh prestasi di kancah antarbangsa. Media dan masyarakat kerap lupa bahwa di akhir era 1960-an hingga awal 1970-an, apa yang terbilang go international itu pernah dicapai seniman musik Indonesia yang bergabung dalam satu kelompok musik yang semua awaknya adalah perempuan, Dara Puspita.”

Sementara pada artikel ke-35 berjudul Kunjungan ke Titiek AR Dara Puspita, Manunggal memaklumi ketidaktahuan banyak orang tentang keberadaan Dara Puspita. Menurutnya, hal itu terjadi karena, “Lagu-lagu mereka, yang pada aslinya dirilis dalam format piringan hitam tak lagi dirilis kembali, kecuali oleh label Amerika (Sublime Frequencies) dan Portugal (Groovie Records) yang merilis kumpulan lagunya dalam format CD dan piringan hitam, dan amblas terjual dalam waktu singkat.”

Secara umum, pada artikel ke-35 itu, Manunggal mengisahkan pertemuan antara dirinya dengan Titiek AR, satu dari empat personel Dara Puspita. Pertemuan berlangsung di rumah Titiek AR di Groningen, Belanda.

Perbandingan dalam Nada Tjerita

Membaca artikel-artikel Manunggal Kusuma Wardaya dalam Nada Tjerita, ada sebuah kekhasan yang bisa terlihat. Hal itu terkait perbandingan-perbandingan yang dibuat Manunggal, saat menceritakan sebuah hal yang berdasarkan fakta.

Meski menyodorkan fakta yang ia alami, sebagai penulis, Manunggal tidak memberikan penilaian atas hal yang ia tulis. Dan lalu, mengajak pembaca untuk menyetujui penilaian yang ia berikan. Manunggal hanya memberikan perbandingan, dengan menyajikan fakta yang lain, dan menyerahkan penilaian kepada pembaca. Tetapi justru di sanalah, sikap rendah hati seorang penulis terlihat.

Kekhasan tersebut sudah terlihat pada artikel pertama berjudul Renungan China Blue. China Blue merupakan judul sebuah film semidokumenter, yang ditonton Manunggal pada 8 Mei 2009 sore.

Film itu berkisah tentang gadis Tiongkok yang bekerja sebagai buruh pabrik konveksi, yang memproduksi celana jins untuk kebutuhan ekspor. Gadis itu dibayar rendah dan kerap harus lembur, jika ada pesanan yang harus dipenuhi.

Dari film itu, Manunggal pun membuat perbandingan dengan kondisi di Indonesia. Di mana, hal serupa terjadi. Ia lalu bercerita tentang seorang perempuan kenalannya, yang bekerja sebagai buruh pabrik sepatu. “Demi mendapatkan limabelas ribu rupiah, ia harus bekerja lembur beberapa jam setelah sebelumnya didera lelah. Sepatu yang dihasilkannya bukan untuk pasar dalam negeri, tapi pasar internasional, terutama Eropa,” tulis Manunggal.

Tanpa Urutan

Di setiap akhir artikel pada buku Nada Tjerita, Manunggal Kusuma Wardaya selalu menuliskan nama tempat dan tanggal. Kemungkinan besar, itu nama tempat dan tanggal saat ia membuat artikel. Sebab, hal serupa lazim dibuat para penulis.

Karena menampilkan fakta yang dialami sendiri, esai-esai dalam buku Nada Tjerita tak ubahnya sebuah diari atau catatan harian. Apalagi di setiap artikel, ada nama tempat dan tanggal, yang biasanya sekaligus berfungsi sebagai urutan atau kronologis peristiwa.

Walau begitu, di buku Nada Tjerita, penyusunan artikel tidak berurut maju sesuai tanggal yang tertera. Kondisi itu sudah terlihat sejak artikel pertama yang tertanggal 10 Mei 2009. Sementara, artikel kedua dan ketiga tertanggal 6 Mei 2009. Baru pada artikel keempat, tanggal berurut maju, yaitu 25 Oktober 2009. Tetapi kemudian, tanggal kembali berurut mundur pada artikel kelima, yang tertulis tanggal 21 September 2009.

BACA JUGA: 11 Kesalahan Penulisan Kata, H Yang Hilang

Dalam buku Nada Tjerita, Manunggal tidak memberikan alasan mengenai penempatan artikel. Di buku itu pun, pembaca tidak akan menemukan kata pengantar dari penulis maupun penerbit.

Laman Nada Tjerita

Di dunia maya, artikel-artikel yang ditulis Manunggal Kusuma Wardaya dalam buku Nada Tjerita, ternyata bisa dilihat di nadatjerita.wordpress.com. Pada bagian Tentang Saya dalam laman tersebut, pemilik laman menjelaskan bahwa namanya adalah Manunggal Kusuma Wardaya. Hal itu menjadi bukti lain bahwa isi buku Nada Tjerita dan laman nadatjerita.wordpress.com, dibuat oleh orang yang sama.

nada tjerita

Rekaman bidik layar (capture) laman nadatjerita.wordpress.com.

Di laman tersebut, Manunggal menjelaskan mengenai artikel-artikel yang ia tulis, yang kemudian dibukukan dengan nama serupa nama lamannya. Penjelasan itu tertera pada artikel yang disematkan, berjudul Wilkomen En Sugeng Rawuh. Karena disematkan, maka artikel tersebut selalu muncul di urutan satu, pada laman Nada Tjerita.

“Situs ini adalah wadah penampungan segala apa yang saya fikirkan berkenaan dengan fenomena alam sekitar baik yang natural maupun yang artifisial.  Di sini saya mengekspresi pengamatan dan perasaan soal film, musik, kehidupan keseharian, tempat makan minum, peristiwa sosial dan apapun banyak hal lain di alam dunia. Situs ini pula saya fungsikan sebagai wadah dokumentasi pemikiran dalam interaksi di berbagai media sosial seperti facebooktwitter, yang sayang jika harus hilang ditelan timeline,” tulis Manunggal, dalam Wilkomen En Sugeng Rawuh.

Hal itu sekaligus menjelaskan tentang isi buku Nada Tjerita, yang memajang artikel serupa artikel-artikel dalam nadatjerita.wordpress.com. Di mana pada buku Nada Tjerita, penjelasan serupa di laman tersebut, tak ditemukan.

nada tjerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *