Monumen Kapal Selam, Tempat Wisata Sejarah di Surabaya

Monumen Kapal Selam (Monkasel) merupakan tempat wisata sejarah di Surabaya. Di tempat itu, KRI Pasopati 410 diletakkan.

KRI Pasopati 410 pernah turut berperan dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Monumen Kapal Selam

Selasa (18/10/2016), seorang pemandu Monkasel, Dwi Novitasari menceritakan perjuangan para prajurit TNI Angkatan Laut (AL), yang menjadi awak KRI Pasopati 410.

Menurut Dwi, perjuangan tersebut bukan hanya berupa pertempuran. Tetapi, berada di dalam kapal selam, sudah merupakan sebuah perjuangan tersendiri.

Hal itu karena udara di dalam KRI Pasopati 410 terasa sangat panas.

BACA JUGA: Tugas Mengarang SD Ajang Latihan Menulis Deskripsi

“Ada 63 orang awak kapal yang bertugas di dalam KRI Pasopati 410. Selama bertugas, mereka hanya mengenakan kaus dan celana pendek karena hawa yang sangat panas di dalam kapal,” ungkap Dwi.

Dalam kondisi demikian, para prajurit tersebut harus tetap siaga menghadapi pertempuran.

Dwi mengatakan, KRI Pasopati 410 merupakan hibah dari Pemerintah Rusia.

Karena dibuat di Rusia yang memiliki musim dingin, kapal selam itu hanya dilengkapi mesin pemanas.

“Itu yang membuat kapal selam tersebut panas,” kata Dwi.

Menyelam Maksimal 7 Hari

KRI Pasopati 410 mampu menyelam antara empat sampai tujuh hari.

Saat menyelam, kapal beroperasional menggunakan motor listrik. Energi listrik dihasilkan dari 224 buah baterai.

“Kemampuan maksimal baterai itu tujuh hari. Kalau habis, kapal akan naik ke permukaan selama delapan jam untuk isi baterai,” papar Dwi.

Walau bisa bertahan tujuh hari, Dwi menuturkan, kapal terkadang naik ke permukaan setelah empat hari menyelam.

Hal itu dilakukan saat kondisi udara di dalam kapal sudah kotor. Sebab, udara kotor dapat berakibat buruk buat kesehatan awak kapal.

“Ciri udara sudah kotor jika awak kapal mulai mual. Saat itu, kapal harus naik ke permukaan,” ucap Dwi.

KRI Pasopati 410 mampu menyelam di kedalaman 250 meter di bawah permukaan laut.

Itu merupakan kedalaman maksimal. Dalam kondisi normal, kapal menyelam di kedalaman 170 meter di bawah permukaan laut.

Saat menyelam, KRI Pasopati 410 memiliki kecepatan maksimum 13,5 knot. Sementara, kecepatan ekonomisnya 2 knot.

Sedangkan saat berada di permukaan, kapal tersebut memiliki kecepatan maksimum 18,3 knot. Dan, kecepatan ekonomisnya 10 knot.

Berbeda dengan saat menyelam, ketika berada di permukaan, KRI Pasopati 410 menggunakan mesin diesel untuk bergerak.

 

Monumen Kapal Selam

Pengunjung berfoto di samping KRI Pasopati 410 di dalam Kawasan Monkasel, Selasa (18/10/2016).

Tugas KRI Pasopati 410

Merujuk Monkasel.com, KRI Pasopati 410 berpartisipasi di TNI AL sejak 29 Januari 1962.

Kapal selam tersebut memiliki tugas utama menghancurkan garis musuh, pengawasan, dan penggerebekan secara diam-diam.

BACA JUGA: Belajar Menulis dengan Membaca Novel

KRI Pasopati 410 mengakhiri tugasnya pada 1989.

Selama menjadi bagian dari TNI AL, KRI Pasopati 410 telah menjalankan 28 operasi.

Operasi pertama KRI Pasopati 410 adalah Operasi Alugoro. Operasi tersebut merupakan bagian dari upaya pembebasan Irian Barat (sekarang Papua).

Operasi Alugoro berlangsung sejak 28 Juli 1962 hingga 26 Agustus 1962.

Sementara, dua operasi yang dilakukan usai operasi pertama adalah Operasi Hiu Kencana (1963-1964) dan Operasi Cegat (1964).

Adapun, dua operasi terakhir yang dilaksanakan adalah Operasi Jala Mangkara I (1986) dan Operasi Jala Mangkara II (1987).

Spesifikasi KRI Pasopati 410

KRI Pasopati 410 dibuat di Vladi Wostok, Rusia pada 1952. Kapal itu bertipe SS Whiskey Class.

KRI Pasopati 410 memiliki panjang 76,6 meter dan lebar 6,3 meter.

Ada tujuh ruangan dalam KRI Pasopati 410.

Dari bagian depan ke belakang, ruang-ruang itu adalah ruang torpedo haluan, ruang perwira, pusat informasi tempur, ruang bintara dan tamtama, tempat motor diesel, tempat motor listrik, dan ruang torpedo buritan.

Dari tujuh ruangan itu, sebenarnya ada tiga ruangan lain. Meski begitu, tiga ruangan tersebut masih menjadi bagian di tiga dari tujuh ruangan yang ada. Hanya saja, posisinya berada di bawah.

Di bawah ruang perwira, ada ruang baterai 1. Sementara, ruang baterai 2 berada di bawah ruang bintara dan tamtama.

Adapun di bawah ruang pusat informasi tempur, ada tempat penyimpanan makanan.

KRI Pasopati 410 memiliki enam tempat peluncur torpedo. Empat tempat peluncur berada di ruang torpedo haluan. Sedangkan, dua sisanya berada di ruang torpedo buritan.

Saat menjelajah, kapal selam tersebut membawa 12 torpedo. Sebanyak 10 torpedo ditaruh di ruang torpedo haluan. Dan, 2 ditempatkan di ruang torpedo buritan.

“Dari 10 torpedo di ruang torpedo haluan, 4 torpedo langsung diletakkan di tempat peluncur torpedo. Begitu juga, 2 torpedo di ruang torpedo buritan, langsung ditaruh di tempat peluncur torpedo,” kata Dwi.

Monumen Kapal Selam

Tempat peluncur torpedo di ruang torpedo haluan KRI Pasopati 410.

Haluan ke Buritan

Saat mengunjungi Monumen Kapal Selam, pengunjung harus mengikuti jalur yang telah disediakan.

Pintu masuk ke KRI Pasopati 410 diletakkan di ruang torpedo haluan. Sementara, pintu keluar berada di ruang torpedo buritan.

Dengan jalur tersebut, pengunjung bisa menjelajah setiap ruangan di dalam KRI Pasopati 410.

BACA JUGA: Judul Menarik, Perhatikan Kata Kunci dan Pendek

Tidak hanya itu, seorang pemandu siap menyambut pengunjung di pintu masuk.

“Tugas pemandu memberi penjelasan tentang Monkasel. Kalau ada yang bertanya, kami kasih penjelasan juga. Tetapi, kami tidak menemani menjelajah,” ungkap Dwi.

Menurut Dwi, isi KRI Pasopati 410 yang dijadikan monumen, tidak diubah sebagaimana kapal selam tersebut masih bergabung di TNI AL.

Hanya di beberapa tempat, papan nama terpasang untuk memberikan penjelasan kepada pengunjung.

“Dan, sudah ada AC. Jadi, tidak panas lagi seperti saat kapal ini masih beroperasi,” terang Dwi.

Tambahan lain tampak di ruang perwira.

Dalam ruang perwira, ada sebuah kamar berukuran sekitar 2×2 meterpersegi. Kamar itu merupakan kamar tidur komandan kapal selam.

Kamar tersebut terletak di bagian belakang ruangan perwira, dan menempel dengan dinding sebelah kanan kapal selam.

Sementara, ada enam tempat tidur menempel dengan dinding sebelah kiri kapal selam selam.

Enam tempat tidur itu terbagi menjadi dua baris. Tiga di bagian bawah, sisanya di atas.

Dwi mengatakan, enam tempat tidur tersebut merupakan tempat istirahat para perwira.

Penambahan di ruang perwira berupa penempatan sejumlah foto. Foto-foto tersebut berisi wajah para Komandan KRI Pasopati 410 selama masih beroperasional.

Monumen Kapal Selam

Foto komandan pertama KRI Pasopati 410.

Di atas meja di dalam kamar tidur komandan, foto komandan pertama KRI Pasopati 410 diletakkan. Di bagian bawah foto itu, sebuah nama tertulis, Kapten Pel Sigitjoto Soedirdjo.

Adapun, foto 13 komandan lainnya terpajang di dinding, di atas tempat tidur para perwira.

Lokasi Monumen Kapal Selam

Pembangunan Monumen Kapal Selam dimulai pada 1 Juli 1995. Sementara, peresmiannya berlangsung pada 15 Juli 1998.

KRI Pasopati 410 dalam skala penuh, dan bukan replika, diletakkan di dalam area tempat wisata tersebut. Kapal selam tersebut sekaligus menjadi objek wisata utama Monumen Kapal Selam.

Monumen Kapal Selam buka setiap hari mulai pukul 08.00 Wib hingga pukul 22.00 Wib.

Selain bisa melihat langsung KRI Pasopati 410, pengunjung juga bisa menonton film sejarah KRI Pasopati 410 di ruang video rama.

Film sejarah tersebut diputar setiap jam sejak pukul 08.00 Wib.

Monumen Kapal Selam

Peta lokasi Monkasel. Sumber: Google Maps

Monumen Kapal Selam terletak di Bantaran Sungai Kalimas, Jalan Pemuda No 39, Surabaya.

BACA JUGA: 6 Nilai Berita, Penerapan dan Sejarah Kemunculan

Karena terletak di tengah Kota Surabaya, Monumen Kapal Selam tak sulit untuk dijangkau.

Berdasarkan Google Maps, dari Gedung Grahadi, Monumen Kapal Selam hanya berjarak sekitar 1 kilometer (km) ke arah timur. Sementara dari Stasiun Gubeng, jarak Monkasel hanya sekitar 280 meter ke arah barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *