Model Wawancara dalam Reportase

Model wawancara dalam reportase terbagi menjadi dua, yaitu wawancara langsung dan wawancara tidak langsung.

Dua model wawancara dalam reportase itu, dibagi lagi menjadi delapan bentuk wawancara.

Selain menjelaskan dua model wawancara dalam reportase serta delapan bentuk wawancara di dalamnya, artikel ini akan dilengkapi dengan contoh kasus.

Penyampaian contoh kasus bertujuan untuk memberikan gambaran tentang kondisi di lapangan, saat proses wawancara benar-benar terjadi. Sehingga diharapkan, pembaca artikel ini mampu mendapatkan pemahaman secara mendalam, mengenai model wawancara dalam reportase.

model wawancara dalam reportase

Tetapi sebelum mengurai lebih lanjut tentang model wawancara dalam reportase, pembahasan akan terlebih dahulu dimulai dari pertanyaan di bawah ini.

Apa itu reportase?

Reportase merupakan upaya pencarian fakta sebagai bahan pembuatan berita, yang akan dipublikasikan.

Setiap jurnalis yang hendak membuat berita, pasti melakukan reportase. Dan sebaliknya, jurnalis yang tidak melakukan reportase, pasti tak bisa membuat berita.

Ada tiga teknik dalam melakukan reportase, yaitu observasi, riset, dan wawancara.

Observasi merupakan upaya pengumpulan bahan melalui pengamatan.

Observasi mensyaratkan kehadiran jurnalis dalam fakta, yang hendak dijadikan berita. Fakta tersebut bisa berupa peristiwa, tempat, tokoh, dan lain-lain.

Contohnya, jurnalis ingin membuat berita tentang sebuah destinasi wisata. Pada berita semacam itu, observasi mutlak dilakukan.

Mengapa?

Karena pada berita yang memublikasikan destinasi wisata, satu di antara informasi yang ingin diketahui pembaca, pendengar, atau penonton adalah kondisi yang ada. Dan, jurnalis bisa memaparkan kondisi destinasi wisata tersebut melalui observasi.

Teknik selanjutnya dalam reportase adalah riset. Riset merupakan upaya pengumpulan bahan yang umumnya berupa data atau kepustakaan.

Data tersebut biasanya diperlukan sebagai bahan penunjang dalam reportase, setelah wawancara maupun observasi.

BACA JUGA: Belajar Menulis dengan Membaca Novel

Misalnya, seorang jurnalis ingin membuat berita tentang pembangunan sebuah pelabuhan. Maka selain wawancara dan observasi tentang proses pembangunan pelabuhan, hal lain yang perlu dimiliki jurnalis tersebut adalah blueprint atau cetak biru pelabuhan.

Sehingga, jurnalis itu, melalui berita yang dipublikasikan, bisa dengan mudah memberikan gambaran kepada pembaca, terkait wujud pelabuhan saat telah selesai.

Tak hanya sebagai pendukung, riset pun bisa menjadi bahan utama dalam reportase.

Contohnya, berita yang memublikasikan tentang anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Tentunya, berita itu akan lebih dalam penyajiannya, jika jurnalis telah mempelajari isi dokumen APBD.

Teknik terakhir dalam reportase adalah wawancara.

Apa itu wawancara?

Wawancara merupakan percakapan antara dua orang atau lebih, yang terjadi antara pewawancara dan narasumber.

Wawancara bertujuan untuk mendapatkan informasi berupa fakta dari narasumber. Sehingga, pewawancara bertindak sebagai pemberi pertanyaan, dan narasumber memberikan jawaban.

Praktik wawancara dapat ditemukan dalam beberapa kegiatan. Beberapa di antaranya rekrutmen pegawai baru perusahaan, penelitian ilmiah, dan tentu saja, reportase.

Saat melakukan wawancara, hal paling utama yang perlu diperhatikan adalah daftar pertanyaan.

Karena tujuan wawancara adalah mendapatkan fakta, pertanyaan yang disusun harus mampu mengupas fakta tersebut.

Misalkan, Anda ingin mengetahui cara membuat ayam goreng dari seorang juru masak. Maka tentu, pertanyaan yang diajukan harus terkait cara membuat ayam goreng.

Pertanyaannya bisa berupa:

– apa saja bahan yang dibutuhkan?

– apa saja peralatan masak yang dibutuhkan?

– bagaimana cara memasaknya?

– dan sebagainya.

Dalam melakukan reportase, pertanyaan umumnya harus bisa menjawab 5W+1H. Biasanya, penitikberatan pertanyaan dilakukan pada unsur why dan how.

model wawancara dalam reportase

Meski, hal itu tergantung pada fakta yang hendak digali oleh jurnalis.

Jika fakta terkait proses, unsur how tentu lebih dominan. Tetapi kalau fakta mengenai sebab akibat, unsur why akan lebih diutamakan.

Penjelasan lebih lanjut tentang 5W+1H bisa dibaca di artikel 5W+1H, Unsur Berita dari Rudyard Kipling.

Supaya bisa mendapatkan informasi seakurat mungkin terkait fakta yang terjadi, jurnalis harus memperhatikan narasumber yang hendak diwawancarai, apapun model wawancara dalam reportase yang digunakan.

Bagaimana cara menentukan narasumber?

Dalam melakukan reportase, jurnalis tidak boleh sembarangan melakukan wawancara. Sebab, hal itu akan berpengaruh pada berita yang dibuat.

Jurnalis harus mampu memilih narasumber yang tepat. Narasumber yang benar-benar mengetahui fakta, yang hendak ditanyakan jurnalis.

Pemilihan narasumber yang tepat akan turut menentukan akurasi sebuah berita.

Untuk memilih narasumber yang tepat, David Protess memberikan Teori Lingkaran Konsentris.

Pada teori tersebut, David Protess membuat sebuah lingkaran. Di dalamnya, sebuah lingkaran dibuat lagi. Dan untuk ketiga kali, sebuah lingkaran dibuat kembali di dalam lingkaran kedua. Sehingga, ada tiga lingkaran yang dibuat.

Ketiga lingkaran itu menunjukkan posisi kepentingan seorang narasumber dengan suatu fakta. Narasumber yang berada di lingkaran paling dalam, merupakan narasumber paling penting. Narasumber di lingkaran pertama adalah narasumber yang berhubungan langsung dengan fakta, misalnya korban, pelaku, atau saksi mata.

Narasumber yang berada di lingkaran kedua adalah narasumber yang tidak berhubungan langsung dengan fakta, tetapi masih memiliki keterkaitan dengan fakta. Misalnya, petugas pemadam kebakaran, polisi, atau pengelola lalu lintas pelayaran laut. Narasumber di lingkaran kedua biasanya memiliki catatan kronologis terkait fakta.

Adapun, narasumber atau sumber di lingkaran ketiga, meski tidak berhubungan langsung dan memiliki keterkaitan dengan fakta, mengetahui kronologis fakta. Misalnya, laporan-laporan mengenai fakta yang telah tersebar.

Pemaparan tentang Teori Lingkaran Konsentris bisa dibaca di artikel Lingkaran Konsentris, Upaya Hasilkan Akurasi.

2 Model Wawancara dalam Reportase

Model wawancara dalam reportase dibedakan berdasarkan keberadaan jurnalis dan narasumber, terdiri dari wawancara langsung dan wawancara tidak langsung. Pemilahan model wawancara dalam reportase hanya bertujuan untuk memudahkan klasifikasi.

Wawancara Langsung

Dalam wawancara langsung, jurnalis dan narasumber saling bertemu.model wawancara dalam reportase

Wawancara langsung memiliki keunggulan soal akurasi. Karena tidak memiliki jarak dalam melakukan komunikasi, peluang terjadinya gangguan komunikasi maupun kesalahan persepsi, lebih mudah diminimalisasi.

Jurnalis juga memiliki peluang lebih besar, untuk menggali informasi mengenai fakta secara lengkap.

Kalaupun durasi wawancara ternyata tidak memadai untuk mendapatkan informasi lengkap, jurnalis bisa sekaligus melakukan observasi, saat melaksanakan wawancara langsung.

Observasi bertujuan menggambarkan suasana saat wawancara berlangsung. Penggambaran suasana bisa memberikan informasi tambahan dari hasil wawancara.

Observasi juga bisa menjadi alternatif, apabila narasumber memberikan informasi sangat minim saat wawancara. Atau, informasi yang disampaikan narasumber diragukan kebenarannya.

Misalnya, seorang tersangka baru selesai menjalani pemeriksaan di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Di depan Gedung KPK, para jurnalis telah menanti. Namun ternyata, saat diajukan pertanyaan, tersangka tersebut hanya menggelengkan kepala sambil berjalan memasuki mobil, meninggalkan Gedung KPK.

Dalam kondisi tersebut, observasi tentu bisa memberikan gambaran lebih jelas, ketimbang hasil wawancara.

Wawancara langsung pada model wawancara dalam reportase, bisa dibagi tiga bentuk, yaitu wawancara bertamu, wawancara di tempat peristiwa atau on the spot, dan wawancara pencegatan atau doorstop.

  1. Wawancara Bertamu

Wawancara bertamu dilakukan dengan cara mendatangi “kediaman” narasumber. kediaman narasumber bisa berupa tempat tinggal, ruang kerja, maupun tempat tertentu lainnya.

Wawancara bertamu bisa dilakukan tanpa pemberitahuan, melalui pembuatan janji, atau berdasarkan undangan narasumber.

Wawancara bertamu tanpa pemberitahuan biasanya dilakukan jurnalis, yang ditugaskan di tempat tertentu. Misalnya, Kompleks DPR atau kantor pemerintahan daerah.

Karena dalam tempat tersebut, umumnya terdapat banyak kantor, jurnalis bisa dengan mudah mendatangi narasumber di kantor-kantor itu tanpa pemberitahuan.

Meski ada kemungkinan, jurnalis tidak bertemu narasumber. Karena, narasumber sedang tidak berada di kantornya.

Untuk meminimalisasi hal tersebut, jurnalis sebaiknya membuat janji untuk bertemu. Atau setidaknya, jurnalis memastikan narasumber berada di kantornya terlebih dahulu, sehingga bisa ditemui untuk wawancara.

Kalaupun narasumber tidak bisa ditemui di kantornya, jurnalis dapat membuat jadwal untuk bertemu di waktu dan tempat lain.

Dalam realitas, ada beberapa kelompok narasumber yang harus dipastikan keberadaannya sebelum melakukan wawancara. Sebab, narasumber tersebut kerap tidak menetap di satu tempat. Misalnya, beberapa pengusaha atau politisi.

Wawancara bertamu terkadang dilakukan karena undangan narasumber. Umumnya, wawancara berdasarkan undangan terjadi pada pelaksanaan konferensi pers.

Wawancara bertamu merupakan bentuk wawancara ideal. Karena, narasumber biasanya sengaja meluangkan waktu untuk melakukan wawancara.

Sehingga, jurnalis harus mampu menggali informasi sedalam mungkin, guna mendapatkan fakta yang lengkap.

  1. Wawancara on the Spot atau di Tempat Peristiwa

Hampir serupa wawancara bertamu, jurnalis juga harus mendatangi narasumber saat melakukan wawancara on the spot. Bedanya, wawancara on the spot bukan dilakukan di “kediaman” narasumber, melainkan di lokasi peristiwa.

Karena itu, wawancara on the spot biasa dilakukan dalam pencarian fakta berupa peristiwa.

Misalnya, banjir terjadi di sebuah desa. Maka, jurnalis mendatangi desa tersebut untuk menggali fakta.

Saat melakukan wawancara terhadap narasumber yang terkait banjir di lokasi banjir, jurnalis telah melakukan wawancara on the spot. Narasumber terkait banjir, seperti korban, petugas bencana, atau pejabat publik yang meninjau lokasi banjir.

Selain di lokasi peristiwa, wawancara on the spot bisa dilakukan di lokasi terkait peristiwa. Hal itu biasanya dilakukan setelah peristiwa terjadi.

Misalnya pada peristiwa banjir di atas, sebagian korban memilih tinggal di tempat penampungan. Maka, wawancara di lokasi penampungan masih termasuk wawancara on the spot.

Wawancara on the spot juga bisa dilakukan pada peristiwa terjadwal, misalnya acara seminar, diskusi atau peresmian.

Reportase lain yang membutuhkan wawancara on the spot biasanya pada berita yang mengangkat fakta sebuah tempat, semisal destinasi wisata. Wawancara on the spot bisa dilakukan, satu di antaranya, kepada pengunjung destinasi wisata tersebut.

  1. Wawancara Doorstop atau Pencegatan

Mirip dengan wawancara on the spot, wawancara doorstop dilakukan di lokasi peristiwa. Wawancara doorstop dilakukan karena jurnalis tidak bisa mengikuti peristiwa tersebut.

Sebab, peristiwa yang hendak diliput jurnalis berlangsung tertutup.

Sehingga, jurnalis akan menunggu kesempatan menemui narasumber di sela-sela atau seusai acara.

Mengutip contoh sebelumnya, terkait seorang tersangka yang menjalani pemeriksaan di Gedung KPK.

Karena pemeriksaan berlangsung tertutup, wawancara kepada tersangka baru bisa dilakukan setelah pemeriksaan selesai.

Meski begitu, wawancara doorstop terhadap seorang narasumber tidak selalu berkaitan dengan peristiwa, yang diikuti narasumber saat itu.

Isi wawancara bisa fakta berupa peristiwa lain atau fakta berupa opini.

Misalnya, seorang menteri menghadiri peresmian sebuah gedung.

Karena narasumber yang hendak diwawancara seorang menteri, yang notabene mengurus banyak hal sesuai kewenangannya, wawancara doorstop bisa saja menanyakan hal-hal lain tersebut.

Dalam praktiknya, pejabat publik yang sulit ditemui dalam kesehariannya, biasanya selalu ditunggu jurnalis saat menghadiri acara-acara tertentu.

Untuk kemudian, jurnalis melakukan wawancara doorstop, guna menanyakan atau mengonfirmasi beragam fakta.

Umumnya, wawancara doorstop memiliki durasi waktu yang singkat.

Karena itu, jurnalis sebisa mungkin mengajukan pertanyaan, yang mengarah langsung pada informasi yang ingin diketahui.

Irisan Wawancara Langsung

Wawancara langsung pada model wawancara dalam reportase, terkadang memang bisa saling “tumpang tindih”. Wawancara bertamu, on the spot, dan doorstop dapat mengalami irisan pada kasus-kasus tertentu.

Misal, sebuah perusahaan melakukan peresmian kantor cabang baru. Dalam peresmian itu, pihak penyelenggara kemudian mengundang jurnalis untuk mengikuti konferensi pers.

Maka, wawancara yang dilakukan bisa berupa wawancara bertamu, on the spot, maupun doorstop.

Jika proses wawancara berlangsung selama konferensi pers, jurnalis melakukan wawancara bertamu.

Tetapi kalau wawancara berlangsung di sela-sela acara peresmian berlangsung, jurnalis melakukan wawancara on the spot.

Namun jika wawancara dilakukan seusai peresmian dan konferensi pers, jurnalis melakukan wawancara doorstop. Sebab selama peresmian, jurnalis tak bisa melakukan wawancara. Dan, waktu konferensi pers yang singkat, membuat pertanyaan jurnalis tak bisa diakomodasi semua.

model wawancara dalam reportase

Wawancara Tidak Langsung

Dalam wawancara tidak langsung, jurnalis dan narasumber tak saling bertemu.

Wawancara tidak langsung sebenarnya tidak disarankan untuk dilakukan. Prioritas utama tetaplah wawancara langsung.

Tetapi jika karena suatu hal wawancara langsung tak bisa dilakukan, wawancara tidak langsung terpaksa dipilih. Wawancara tidak langsung menjadi alternatif terakhir, apabila setelah melakukan berbagai cara, jurnalis tetap tak bisa menemui narasumber.

Alasan wawancara tidak langsung tak menjadi prioritas karena akurasi berita yang dihasilkan.

Berita yang dihasilkan dari wawancara tidak langsung memiliki akurasi lebih rendah, dibandingkan berita yang dihasilkan dari wawancara langsung.

Sebab dalam wawancara tidak langsung, gangguan komunikasi maupun kesalahan persepsi memiliki peluang lebih besar untuk terjadi, dibandingkan wawancara langsung.

Hal itu karena wawancara tidak langsung membutuhkan alat atau media lain. Jika kualitas alat atau media yang digunakan tidak baik, gangguan komunikasi sangat mungkin terjadi.

BACA JUGA: Judul Menarik, Perhatikan Kata Kunci dan Pendek

Karena itu, jurnalis harus memastikan alat atau media yang digunakan dalam wawancara tidak langsung, dalam kondisi baik, sebelum melakukan wawancara.

Selain itu, dalam wawancara tidak langsung, jurnalis tidak bisa melakukan observasi jika narasumber enggan memberikan jawaban. Lantaran, keberadaan narasumber yang tak terjangkau jurnalis.

Misalnya, narasumber langsung memutuskan saluran telepon saat diberikan pertanyaan. Atau, narasumber justru tidak mengangkat telepon. Kerap terjadi juga, narasumber menonaktifkan ponselnya.

Ketika situasi-situasi tersebut terjadi, jurnalis biasanya hanya menyampaikan keterangan bahwa narasumber belum berhasil dihubungi.

Jurnalis tidak bisa memberikan deskripsi karena tak dapat melakukan observasi, dalam wawancara tidak langsung.

Wawancara tidak langsung juga berpeluang mengalami ketidakakuratan lain, saat menggunakan media berbentuk teks, seperti wawancara tertulis, pesan singkat, atau surat elektronik (surel).

Hal itu karena muncul peluang, orang yang menjawab pertanyaan jurnalis, belum tentu narasumber yang dituju.

Sebagai gambaran, beberapa politisi dan pejabat publik memercayakan ponsel mereka dipegang oleh asisten. Beberapa di antara asisten tersebut pun memiliki kewenangan tertentu, untuk menjawab telepon dan pesan singkat yang masuk.

Jadi seandainya seorang jurnalis mengirim pertanyaan melalui pesan singkat, ada kemungkinan jawaban yang diberikan berasal dari asisten narasumber tersebut.

Wawancara tidak langsung pada model wawancara dalam reportase, dibagi dalam lima bentuk, yaitu wawancara tertulis, wawancara melalui telepon dan pesan singkat, wawancara melalui surel, wawancara melalui media sosial, dan wawancara melalui aplikasi percakapan.

  1. Wawancara Tertulis

Wawancara tertulis masih ditetelunjukjempol.comrapkan beberapa instansi. Biasanya, mereka meminta jurnalis menyampaikan pertanyaan melalui surat resmi, yang ditandatangani dan distempel.

Pada kasus tertentu, wawancara tertulis bisa terjadi tiba-tiba.

Misal, jurnalis mendatangi narasumber hendak melakukan wawancara bertamu. Tetapi saat jurnalis datang, narasumber tidak bisa menemui karena harus menjalani kegiatan lain.

Narasumber kemudian meminta jurnalis untuk meninggalkan daftar pertanyaan secara tertulis.

Dalam melakukan wawancara tertulis, jurnalis sulit memprediksi kemampuan narasumber dalam memberikan jawaban.

Sebab, ada narasumber yang mampu memberikan jawaban rinci, meski hanya diberi pertanyaan umum. Tetapi, ada juga narasumber yang hanya menjawab singkat, meski diberi pertanyaan sangat rinci.

Untuk mengantisipasi jawaban narasumber tersebut, jurnalis sebaiknya membuat pertanyaan rinci. Sehingga ketika narasumber ternyata memberikan jawaban singkat,  jurnalis tidak kesulitan membuat berita.

Karena pertanyaan yang diberikan rinci, jumlah pertanyaan biasanya lebih banyak.

  1. Wawancara Melalui Telepon dan Pesan Singkat

Wawancara melalui telepon biasanya paling banyak dilakukan jurnalis. Apalagi jika jelang deadline, konfirmasi narasumber belum didapatkan.

Tetapi karena kemudahan telepon, banyak jurnalis justru mengandalkan telepon dalam melakukan wawancara. Karena kebiasaan itu, saat awal kemunculan ponsel, istilah wartel muncul.

Wartel merupakan singkatan wartawan telepon. Yaitu, wartawan yang mengandalkan telepon untuk melakukan wawancara.

Padahal, prioritas utama jurnalis seharusnya melakukan wawancara langsung, sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Pada beberapa kasus, ada narasumber yang lebih senang menjawab pertanyaan narasumber dengan pesan singkat atau short message service (SMS), dibandingkan telepon.

Mereka beralasan, hal itu untuk menghindari kesalahan persepsi dari informasi yang diberikan. Selain itu, mereka memiliki bukti teks, jika ternyata jurnalis salah persepsi terhadap informasi yang diberikan, saat memublikasikan berita.

  1. Wawancara Melalui Surel

Mirip wawancara tertulis, wawancara melalui surel menggunakan teks.

Hanya saja, wawancara melalui surel dilakukan secara online atau daring. Biasanya, wawancara menggunakan surel baru dilakukan apabila wawancara telepon atau pesan singkat sulit dilakukan.

Pada beberapa kasus, wawancara melalui surel dilakukan karena narasumber berada di luar kota atau luar negeri. Sehingga, penggunaan surel dianggap lebih murah dan mudah dibandingkan telepon atau pesan singkat.

Dalam praktiknya, ada narasumber yang justru senang menggunakan surel.

Alasannya, mereka bisa memberikan jawaban lebih rinci. Sebab, telepon maupun pesan singkat memiliki keterbatasan, baik durasi maupun jumlah teks. Hal itu membuat narasumber kesulitan memberikan jawaban rinci.

  1. Wawancara Melalui Media Sosial

Wawancara melalui media sosial hampir serupa dengan wawancara melalui surel.

Sebab, wawancara melalui media sosial biasanya dilakukan menggunakan pesan pribadi, yang tersedia dalam media sosial.

Perbedaan keduanya mungkin hanya pada tren penggunaannya. Surel masih banyak digunakan saat media sosial belum ada maupun berkembang.

Meskipun tidak punah, era tersebut mulai berubah ketika media sosial banyak bermunculan dan menguasai pasar.

  1. Aplikasi percakapan

Wawancara menggunakan aplikasi percakapan mirip dengan wawancara menggunakan telepon dan pesan singkat.

Sebab, aplikasi percakapan bisa disebut sebagai perkembangan terbaru, dari telepon dan pesan singkat.

BACA JUGA: 6 Nilai Berita, Penerapan dan Sejarah Kemunculan

Bedanya, aplikasi percakapan menggunakan koneksi internet, yang tidak digunakan pada telepon dan pesan singkat.

Ada beberapa aplikasi percakapan yang beredar. Tiga di antaranya yang terkenal adalah BlackBerry Messenger, WhatsApp, dan Line.

Demikian, penjelasan tentang model wawancara dalam reportase. Semoga bermanfaat.

model wawancara dalam reportase

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *