3 Proses Memproduksi Berita di Media Cetak

Untuk memproduksi berita di media cetak, ada serangkaian proses yang harus dijalani. Hal itu mulai dari perencanaan pembuatan berita hingga distribusi media cetak ke tangan pembaca.

Serangkaian proses tersebut memperlihatkan bahwa sebenarnya, pekerjaan memproduksi berita merupakan pekerjaan kolektif, yang melibatkan beberapa orang. Kecuali memang, pekerja di media cetak tersebut hanya satu orang, yang bertugas mulai dari perencanaan pembuatan berita sampai mendistribusikannya ke tangan pembaca.

Di seluruh dunia, ada beberapa jenis media cetak, yang umumnya terbagi berdasarkan perbedaan waktu terbit, yakni harian, mingguan, atau bulanan. Perbedaan waktu terbit tentu memengaruhi proses memproduksi berita. Utamanya, Durasi pengerjaan untuk setiap proses tersebut.

Isi artikel ini terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu struktur bagian redaksi atau newsroom, dan alur dalam memproduksi berita. Struktur newsroom memberikan penjelasan mengenai subjek-subjek, yang memiliki kaitan erat dalam memproduksi berita. Karena itu, penjelasan mengenai struktur newsroom dijabarkan lebih dahulu.

BACA JUGA:

Sementara, pemaparan alur dalam memproduksi berita dibagi dalam tiga bagian. Pembuatan tiga bagian itu hanya bertujuan untuk memudahkan penjelasan. Sebab, alur dalam memproduksi berita, selain melibatkan banyak orang, memiliki rangkaian proses yang panjang. Ketiga bagian proses yang akan dijelaskan adalah pengumpulan bahan, penyuntingan hingga pracetak, serta cetak dan distribusi.

Struktur Newsroom

Meski produksi utamanya adalah berita, di dalam pers, ada beberapa bagian, yang saling mendukung satu sama lain, dalam menopang produksi berita. Meski begitu, bagian redaksi atau newsroom, memiliki kaitan paling erat dalam alur proses memproduksi berita. Hal itu karena tugas utama orang-orang yang bekerja di dalam newsroom adalah memproduksi berita.

Sebagian besar orang yang bekerja di newsroom berstatus jurnalis atau wartawan. Sebab, mereka melakukan kegiatan jurnalistik dengan memproduksi berita. Meski begitu, ada beberapa di antara orang yang bekerja di newsroom, tidak masuk kategori sebagai wartawan.

Dalam memproduksi berita, wartawan memiliki tugas berbeda. Hal itu tergantung pada jabatan yang diemban. Setiap media cetak memiliki jumlah wartawan yang berbeda, antara satu dan lainnya. Hal itu termasuk jabatan-jabatan yang diterapkan di dalam newsroom.  Artikel ini akan memaparkan jabatan-jabatan, yang umumnya diterapkan pada media cetak.

Di urutan paling bawah, ada jabatan reporter. Di beberapa tempat, ada jabatan reporter magang atau calon reporter. Biasanya, mereka adalah orang-orang yang baru bekerja dan masih menjalani pelatihan sebagai reporter.

Observasi dalam Reportase

Tugas utama reporter adalah mencari informasi untuk dijadikan berita. Dalam mencari informasi, reporter bisa menggunakan tiga teknik reportase. Reportase adalah upaya pencarian fakta sebagai bahan pembuatan berita. Ketiga teknik reportase meliputi riset, observasi, dan wawancara.

Setelah reportase selesai, reporter menuliskan hasil reportase tersebut. Reporter harus memperhatikan beberapa hal saat menulis hasil reportase, antara lain sudut pandang atau angle, 5W+1H, jenis tulisan, struktur penulisan, dan sebagainya.

Di atas reporter, ada jabatan redaktur. Di beberapa tempat, jabatan redaktur disebut juga editor. Selain redaktur, ada pula jabatan asisten redaktur. Asisten redaktur biasanya jenjang karier persiapan buat seorang reporter sebelum menduduki jabatan redaktur. Meski menjalankan tugas selayaknya redaktur, asisten redaktur biasanya masih diberikan batasan-batasan kewenangan.

Redaktur biasanya bertanggung jawab pada halaman-halaman tertentu di media cetak. Misalnya, redaktur bisnis untuk halaman bisnis, atau redaktur politik untuk halaman politik.

Redaktur mengatasi reporter, yang bertugas khusus di halaman-halaman, yang menjadi tanggung jawab redaktur tersebut. Seorang redaktur bisa hanya bertanggung jawab pada satu halaman tertentu. Bisa juga, redaktur memiliki tanggung jawab pada beberapa halaman sekaligus.

Tugas redaktur adalah menyunting hasil tulisan reporter. Selain itu, redaktur bertugas mengelola isu pada halaman yang ditangani. Karena itu, redaktur bisa memerintahkan reporter untuk melakukan liputan isu tertentu.

Selain redaktur yang bertanggung jawab terhadap halaman, ada pula redaktur bahasa. Berbeda dengan redaktur halaman, redaktur bahasa tidak mengatasi reporter. Sebab, tugas redaktur bahasa adalah memastikan tata bahasa yang digunakan dalam berita yang akan diterbitkan, sudah sesuai aturan.

Di atas redaktur, ada jabatan koordinator liputan atau kerap disingkat korlip. Di beberapa tempat, jabatan koordinator liputan disebut juga manajer liputan. Tugas koordinator liputan adalah mengoordinasikan liputan yang dilakukan seluruh reporter di media cetak. Sehingga, gambaran utuh seluruh berita yang akan disajikan di satu media cetak, sudah dapat diketahui.

Koordinator liputan juga berperan menginstruksikan reporter pada informasi, yang memerlukan reportase beberapa reporter dari lintas halaman. Misalnya, peristiwa kebakaran di sebuah pusat perbelanjaan mengakibatkan seorang kepala daerah terluka. Maka, liputan peristiwa tersebut bisa menyangkut reporter bisnis untuk informasi pusat perbelanjaannya, reporter pemerintahan untuk informasi kepala daerahnya, serta reporter kota untuk informasi peristiwa kebakarannya.

Selain itu, koordinator liputan memiliki peran untuk menghindari terjadinya liputan “bertabrakan”, yang dilakukan reporter. Misalnya pada contoh di atas, jika ternyata kebakaran hanya terjadi dalam “lingkup kecil”, reportase tentunya cukup dilakukan seorang reporter. Lingkup kecil contohnya, kebakaran hanya terjadi di satu toilet pusat perbelanjaan. Sementara, kepala daerah yang terluka cuma mengalami lecet di tangan, akibat berdesakan saat meninggalkan pusat perbelanjaan.

model wawancara dalam reportase

Di atas koordinator liputan, ada jabatan redaktur pelaksana. Redaktur pelaksana merupakan kepanjangan tangan pemimpin redaksi, yang mengurus hal-hal teknis keredaksian. Khususnya, proses memproduksi berita saat penyuntingan hingga pracetak. Redaktur pelaksana biasanya juga menjadi penanggung jawab dalam proses tersebut.

Adapun, jabatan paling tinggi dalam newsroom adalah pemimpin redaksi. Pemimpin redaksi bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan yang terjadi, maupun produk yang dihasilkan, dari newsroom. Selain itu, tugas pemimpin redaksi adalah memastikan semua fungsi keredaksian berjalan sesuai kebijakan.

Selain lima jabatan tersebut, yang berkaitan langsung dalam kegiatan jurnalistik dengan memproduksi berita, ada jabatan lain yang tidak berhubungan dengan kegiatan jurnalistik, yaitu penata letak atau akrab disebut layouter. Penata letak bertugas menyusun peletakan naskah maupun gambar di media cetak yang akan diterbitkan.

Selain penata letak, ada juga jabatan desainer grafis. Tugas seorang desainer grafis adalah membuat grafis untuk mendukung naskah berita di media cetak.

Satu jabatan terakhir yang umumnya ada di newsroom adalah sekretaris redaksi. Sekretaris redaksi bertugas mengurus administrasi awak newsroom. Meski tidak menjadi bagian dalam memproduksi berita, tugas sekretaris redaksi turut menopang kerja-kerja jabatan lain di newsroom.

Demikian, jabatan-jabatan yang terdapat di dalam newsroom. Di mana, tugas utama orang-orang yang bekerja di dalam newsroom adalah memproduksi berita.

Sebelum beralih ke pembahasan selanjutnya mengenai alur dalam memproduksi berita, perlu dicatat, artikel ini hanya akan menjelaskan alur dalam memproduksi berita pada media cetak harian. Sebab, sebagaimana dijelaskan sebelumnya, ada beberapa jenis media cetak, yang umumnya terbagi berdasarkan perbedaan waktu terbit, yakni harian, mingguan, atau bulanan.

Secara umum, alur dalam memproduksi berita pada media-media cetak tersebut tetap sama. Hanya saja, durasi pengerjaan untuk setiap proses tersebut berbeda, tergantung waktu penerbitan.

Alur Memproduksi Berita

Karena artikel ini akan menjelaskan alur dalam memproduksi berita pada media cetak harian, proses-proses yang akan dipaparkan berikut ini, berlangsung setiap hari. Ketiga bagian proses yang akan dijelaskan adalah pengumpulan bahan, penyuntingan hingga pracetak, serta cetak dan distribusi.

Ketiga proses tersebut dibedakan berdasarkan waktu dan lokasi pengerjaan. Pengumpulan bahan biasanya dilakukan sejak pagi hingga sore hari, kecuali untuk informasi tertentu yang memerlukan waktu buat reportase, di luar waktu yang telah ditentukan.

Mengenai lokasi, pengumpulan bahan berlangsung di berbagai tempat, tergantung informasi yang hendak diberitakan. Meskipun untuk rapat-rapat terkait pengumpulan bahan, hal itu umumnya tetap dilakukan di newsroom.

Sementara, pada bagian penyuntingan hingga pracetak, waktunya berlangsung sejak sore hingga tengah malam. Lokasi penyuntingan hingga pracetak berlangsung di dalam newsroom.

Terakhir, bagian cetak dan distribusi berlangsung sejak tengah malam hingga pagi. Lokasinya berlangsung di luar newsroom. Bagi media cetak yang memiliki mesin cetak, mesin cetak umumnya ditempatkan di lokasi yang terpisah dengan kantor, walau berada dalam satu kawasan perkantoran. Sementara, media cetak yang tak mempunyai mesin cetak, tentunya akan mencetak di percetakan.

Pengumpulan Bahan

Dalam proses pengumpulan bahan, mayoritas tanggung jawab berada pada reporter. Meski begitu, jabatan lain di atas reporter turut berperan dalam memberikan pengarahan. Arahan tersebut tentunya terkait perencanaan berita yang akan dipublikasikan.

Pengarahan biasanya dilakukan pada rapat perencanaan atau proyeksi. Pelaksanaan rapat proyeksi di setiap media cetak berbeda-beda. Sebagian media cetak menerapkan kehadiran seluruh jabatan, mulai dari pemimpin redaksi hingga reporter dalam rapat proyeksi.

Sementara, rapat proyeksi pada sebagian media lain hanya dihadiri beberapa jabatan tertentu. Biasanya, jabatan-jabatan yang hadir dalam rapat proyeksi mulai dari reporter hingga koordinator liputan.

Tetapi di sebagian media lain, reporter tidak diikutsertakan dalam rapat proyeksi. Sehingga, rapat hanya dihadiri koordinator liputan dan redaktur. Adapun, informasi mengenai hasil rapat akan disampaikan setiap redaktur halaman ke masing-masing reporter mereka.

Sebagaimana dikatakan sebelumnya, rapat proyeksi membahas perencanaan berita yang akan dipublikasikan. Pada media cetak harian, rapat proyeksi berlangsung pada pagi hari.

Hal yang dibahas seputar informasi yang bisa dijadikan berita. Informasi yang dibahas tersebut merupakan informasi tematik, atau bisa direncanakan. Misalnya, kepala daerah dijadwalkan mengunjungi pasar tradisional untuk mengecek harga pangan.

Pembahasan informasi dilakukan untuk setiap halaman. Nantinya, reporter harus meliput semua informasi, yang telah disepakati untuk dijadikan berita dalam rapat proyeksi.

Selain itu, reporter juga bertugas melakukan reportase informasi berupa peristiwa, yang tidak bisa direncanakan sebelumnya. Misalnya, kecelakaan lalu lintas di jalan protokol.

Dalam media cetak harian, reporter memiliki batas akhir atau deadline untuk melakukan reportase hingga rapat bujeting. Meski pada beberapa berita, meskipun dipublikasikan di media cetak harian, ada yang memiliki deadline mingguan, misalnya liputan gaya hidup yang hanya terbit di hari Minggu. Atau pada peristiwa yang berlangsung jelang atau sesudah rapat bujeting, deadline akan menyesuaikan kondisi tertentu.

lingkaran konsentris

Sebelum rapat bujeting, para reporter melapor kepada redaktur masing-masing terkait informasi yang telah didapatkan, dan dapat dibuat berita. Sementara, deadline penulisan naskah berita yang dilakukan reporter, biasanya menyesuaikan kebijakan masing-masing media cetak.

Laporan reporter kemudian dibawa redaktur ke dalam rapat bujeting. Serupa dengan rapat proyeksi, jajaran yang menghadiri rapat bujeting untuk setiap media berbeda. Ada rapat bujeting di sebuah media dihadiri redaktur hingga pemimpin redaksi. Tetapi, ada juga rapat bujeting yang hanya dihadiri redaktur hingga redaktur pelaksana.

Umumnya, reporter tidak diikutkan dalam rapat bujeting. Sebab, hal yang dibahas dalam rapat bujeting bukan menjadi tugas dan kewenangan reporter.

Rapat bujeting merupakan rapat untuk menentukan informasi yang akan dibuat menjadi berita dan dipublikasikan. Penentuan tersebut diperlukan karena tempat yang terbatas di media cetak. Hal itu membuat tidak semua informasi yang didapat, dapat dipublikasikan.

Selain itu, rapat bujeting juga untuk menentukan informasi mana saja yang akan menjadi berita utama atau headline, yang memiliki porsi lebih banyak dibanding berita lainnya. Berita headline biasanya ditandai dengan ukuran huruf judul yang paling besar, dibanding judul berita lainnya.

Hal lain yang turut dibahas dalam rapat bujeting adalah berita-berita yang akan ditampilkan pada halaman satu. Karena halaman satu mencerminkan “wajah” media cetak harian secara keseluruhan, maka berita yang ditampilkan tentunya harus memiliki informasi paling penting, dari semua berita yang disajikan dalam media cetak tersebut.

Penentuan berita yang akan ditampilkan, headline setiap halaman, hingga berita yang akan dipublikasikan di halaman satu, berdasar pada nilai berita. Penjelasan lebih lanjut mengenai nilai berita bisa dibaca di artikel berjudul 6 Nilai Berita, Penerapan dan Sejarah Kemunculan.

Penyuntingan hingga Pracetak

Selesai rapat bujeting, bersama penata letak, redaktur membuat desain halaman atau dummy, yang akan dipublikasikan. Hal itu meliputi antara lain jumlah kolom naskah, penempatan naskah, penempatan foto, dan sebagainya.

Ketika desain halaman telah ditentukan, redaktur lalu menyunting atau mengedit naskah berita yang dikirimkan reporter. Penyuntingan naskah tentunya disesuaikan dengan ruang yang tersedia pada halaman, yang telah didesain.

Terkadang, halaman perlu dilengkapi grafis untuk memudahkan pembacaan, maupun menarik perhatian pembaca. Misalnya, berita kecelakaan lalu lintas. Keberadaan grafis tentu bisa memperlihatkan kronologis kejadian lebih “hidup”. Pada kondisi itu, desainer grafis berperan membuatkan grafis sesuai keinginan redaktur.

Jika para redaktur menyunting naskah berita pada halaman yang menjadi tanggung jawab mereka, lalu bagaimana dengan halaman satu?

Karena halaman satu mencerminkan “wajah” media cetak secara keseluruhan, penyuntingan naskah berita maupun desain halaman menjadi tanggung jawab redaktur pelaksana.

sejarah media online di Indonesia

Ketika halaman telah selesai dibuat, redaktur akan menyerahkan halaman tersebut kepada redaktur pelaksana, untuk dilakukan evaluasi tahap akhir. Hal itu untuk memastikan kondisi terakhir perwajahan halaman, sebelum dicetak dan didistribusikan.

Halaman yang diserahkan untuk dievaluasi sudah dalam bentuk sebagaimana akan diterima pembaca. Pada beberapa media cetak, halaman yang dievaluasi masih dalam bentuk digital, atau di dalam komputer. Di beberapa media cetak lainnya, penata letak akan mencetak (print) halaman tersebut, sebelum akhirnya redaktur menyerahkan kepada redaktur pelaksana.

Usai dievaluasi, halaman kemudian diberikan kepada redaktur bahasa. Redaktur bahasa akan melakukan pengecekan penggunaan bahasa. Umumnya, hal yang paling diperhatikan adalah kesalahan ketik. Sebab meskipun “kecil”, hal tersebut mampu cukup mengganggu pembaca. Sehingga, pembaca bisa merasa tidak nyaman saat membaca berita.

Saat redaktur bahasa telah selesai melakukan pengecekan dan perbaikan, penata letak akan menyerahkan halaman tersebut kepada bagian cetak. Sampai di titik tersebut, proses memproduksi berita yang dilakukan di dalam newsroom telah selesai.

Cetak dan Distribusi

Serupa dengan reporter yang memiliki deadline dalam menuliskan naskah berita, redaktur juga memiliki deadline untuk menyelesaikan halaman. Deadline penyelesaian halaman tergantung urutan pencetakan halaman tersebut. Sebab, proses pencetakan tidak bisa dilakukan sekaligus untuk semua halaman.

Misalnya, sebuah media cetak memiliki delapan halaman, yang berarti ada dua lembar kertas. Di mana, setiap lembar akan dilipat dua sehingga memiliki empat halaman, untuk kedua sisinya. Lembar pertama berisi halaman satu, dua, tujuh, dan delapan. Sementara, lembar kedua berisi halaman tiga, empat, lima, dan enam.

BACA JUGA:

Umumnya, pencetakan akan dilakukan per lembar. Karena desain setiap lembar berbeda, pencetakan untuk dua lembar tentunya akan dilakukan dua kali. Jika lembar kedua yang akan pertama kali dicetak, maka redaktur halaman tiga, empat, lima, dan enam akan memiliki deadline penyelesaian halaman lebih cepat, dibanding redaktur halaman dua, tujuh, dan delapan, serta redaktur pelaksana sebagai penanggung jawab halaman satu.

Setelah proses pencetakan selesai, proses terakhir adalah distribusi. Pendistribusian biasanya dilakukan ke loper-loper skala besar yang telah bekerja sama. Sementara, loper kecil maupun pedagang eceran akan mendatangi loper besar tersebut.

Proses pencetakan biasanya berlangsung hingga dini hari. Sementara, sejak dini hari hingga pagi, proses distribusi berlangsung.

Jika ditelusuri sejak pengumpulan bahan hingga distribusi, pada media cetak harian, proses memproduksi berita memakan waktu hampir 24 jam setiap harinya. Kondisi tersebut dikecualikan buat media cetak harian yang terbit sore hari. Sebab, deadline yang ditentukan tentunya akan menyesuaikan waktu penerbitan.

Memproduksi Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *