Membuat Tulisan Enak Dibaca dengan 3 Hal

Menghasilkan tulisan yang enak dibaca tentu menjadi keinginan setiap penulis. Meski begitu, membuat tulisan enak dibaca bukanlah persoalan mudah, walau tak sepenuhnya juga sulit.

Setidaknya, ada tiga hal yang perlu diperhatikan ketika ingin membuat tulisan enak dibaca. Ketiga hal tersebut adalah kalimat efektif, bahasa sederhana, dan uraian runut.

Ketiga hal itu sebenarnya telah dipublikasikan dalam tiga artikel terpisah di Telunjukjempol.com. Masing-masing artikel dapat dilihat pada tautan di atas. Adapun, penerbitan artikel ini bertujuan sebagai rangkuman dari tiga artikel yang terpisah tersebut.

Penjelasan dalam artikel ini dibuat dengan tujuan sebagai pengetahuan dasar, dalam belajar menulis. Sehingga, hal yang disampaikan berupa metode-metode tingkat dasar.

Pada tingkatan yang lebih tinggi, metode-metode dasar ini diharapkan bisa menjadi fondasi, dalam membuat tulisan enak dibaca.

Tanpa berpanjang lebar, mari, kita mulai dari hal pertama dalam proses membuat tulisan enak dibaca.

Membuat Tulisan Enak Dibaca – Kalimat Efektif

Pada dasarnya, kalimat efektif bertujuan supaya pembaca cepat memahami isi tulisan. Pembaca bisa dengan mudah mengetahui pesan yang terkandung dalam kalimat, sesuai maksud yang ingin disampaikan penulis.

Karena itu, seorang penulis harus sebisa mungkin menyampaikan pesan yang jelas, dalam setiap kalimat yang dibuat.

Perhatikan, dua kalimat berikut ini.

  1. Sebagai karyawan ayah di gedung bertingkat bekerja.
  2. Ayah bekerja di kantor.

Dari dua kalimat tersebut, mana kalimat yang lebih mudah Anda pahami?

Jika Anda menjawab kalimat kedua, kita punya pilihan yang sama.

Mengapa kalimat kedua lebih mudah dipahami?

Alasannya sederhana. Karena, kalimat kedua menerapkan teori kalimat efektif.

Sehingga, pesan yang terkandung dalam kalimat, mudah dipahami pembaca.

Dalam membuat kalimat efektif, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

1. Kenali Unsur Kalimat dan Pola Kalimat

Seorang penulis wajib mengetahui kedua teori tersebut. Akan lebih baik, seorang penulis menghafal kedua teori itu.

Unsur kalimat terdiri dari subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (K).

Dari kelima unsur itu, ada delapan pola kalimat dasar yang bisa dibuat, yaitu S-P, S-P-O, S-P-Pel, S-P-O-Pel, S-P-O-Pel-K, S-P-K, S-P-O-K, dan S-P-Pel-K.

Penjelasan dalam artikel ini tidak menyampaikan detail mengenai unsur kalimat dan pola kalimat. Penjelasan lengkap terkait unsur kalimat dan pola kalimat, bisa dibaca di artikel berjudul 5 Unsur Kalimat dan Kesalahan dalam Penulisan.

Seperti disebutkan sebelumnya, seorang penulis setidaknya mengenal unsur kalimat dan pola kalimat. Karena itu, penjelasan dalam artikel ini hanya memberikan pengenalan terhadap unsur kalimat dan pola kalimat.

Seorang penulis harus mengenal unsur kalimat dan pola kalimat karena kedua hal itu berhubungan dengan kalimat efektif. Sebab, kalimat efektif hanya bisa terbentuk apabila sesuai pola kalimat.

tips melakukan wawancara dalam reportase

Memang, kedua teori tersebut sejatinya dihafalkan, untuk memudahkan penulis dalam membuat kalimat efektif. Meski begitu, ada trik khusus yang bisa digunakan, jika penulis ternyata belum hafal kedua teori itu.

Bagaimana menerapkan trik khusus tersebut?

Simak, penjelasan berikut ini.

2. Awali dengan Subjek dan Predikat

Seperti dijelaskan sebelumnya, ada delapan pola kalimat dasar yang bisa dibuat.

Jika diperhatikan, seluruh pola kalimat itu diawali dengan subjek. Lalu berikutnya, ada predikat. Silakan, Anda lihat lagi pada penjelasan sebelumnya, untuk memastikan hal tersebut.

Karena itu, hal yang perlu diingat adalah menempatkan subjek, dan diikuti predikat, pada awal kalimat. Setelah itu, ketiga unsur lain bisa menjadi pilihan untuk ditempatkan, setelah predikat.

Penerapan pola kalimat yang benar, akan memudahkan penyampaian pesan dalam kalimat.

Simak, dua kalimat berikut.

  1. Ibu memasak di dapur.
  2. Di dapur ibu memasak.

Kalimat pertama memiliki pola S-P-K. Subjek di awal, dan diikuti predikat.

Kalimat pertama memiliki pesan bahwa ibu sedang melakukan kegiatan memasak di dapur. Pesan yang disampaikan cukup jelas dan mudah dipahami.

Sementara, pola kalimat dalam kalimat kedua tidak jelas. Hal itu membuat kalimat tersebut menjadi multitafsir.

Kalimat itu bisa bermakna ibu sedang memasak di dapur. Bisa juga, ada orang sedang memasak di dapur ibu. Atau justru, dapur ibu yang sedang memasak.

Karena selalu berada di awal kalimat, subjek dan predikat disebut sebagai unsur inti. Keberadaan unsur inti berkaitan dengan penjelasan selanjutnya tentang kalimat efektif, guna membuat tulisan enak dibaca.

3. Prioritaskan Kalimat Tunggal

Penjelasan dalam bagian ini diawali sedikit teori, mengenai kalimat tunggal dan kalimat majemuk.

Kalimat tunggal merupakan kalimat yang terdiri dari unsur inti. Kalimat tersebut boleh diperluas dengan unsur tambahan, berupa objek, pelengkap, atau keterangan. Syaratnya, seluruh unsur tersebut hanya membentuk satu pola kalimat.

Berikut, contoh kalimat tunggal.

  1. Bapak pulang. (S-P)
  2. Adik menulis surat di kertas. (S-P-O-K)

Sementara, kalimat majemuk terbentuk dari dua pola kalimat atau lebih.

Berikut, contoh kalimat majemuk.

  1. Ibu pergi ke pasar dan ayah berangkat ke kantor.
  2. Perempuan mengenakan baju biru berjalan ke kota.

Kalimat tunggal memiliki prioritas untuk digunakan, saat membuat kalimat efektif. Hal itu supaya pesan yang disampaikan dalam kalimat, mudah dipahami.

Kalimat tunggal yang terdiri dari satu pola kalimat, memiliki satu pesan. Sementara, kalimat majemuk umumnya memiliki lebih dari satu pesan.

Perhatikan, contoh kalimat majemuk di atas.

Pada contoh kesatu, pesan pertama yang muncul adalah ibu pergi ke pasar. Sementara, pesan keduanya adalah ayah pergi ke kantor.

Pada contoh kedua, pesan pertama yang muncul adalah ada seorang perempuan memakai baju biru. Sedangkan, pesan keduanya adalah perempuan itu sedang berjalan ke kota.

Kalimat yang mengandung lebih dari satu pesan, rawan terjadi kekeliruan pemaknaan. Untuk menghindari hal tersebut, setiap kalimat diharapkan hanya berisi satu pesan.

Karena itu, penulis sebaiknya memiliki prioritas untuk membuat kalimat tunggal. Sebab sebenarnya, kalimat majemuk bisa diurai menjadi dua atau lebih kalimat tunggal. Sehingga, pesan yang disampaikan bisa lebih mudah dimengerti.

Kembali pada contoh kalimat majemuk di atas, kalimat pertama bisa dipecah menjadi dua kalimat tunggal berikut ini.

  1. Ibu pergi ke pasar.
  2. Ayah berangkat ke kantor.

Sementara, contoh kalimat kedua bisa diubah sebagai berikut.

  1. Perempuan mengenakan baju biru.
  2. Perempuan itu berjalan ke kota.

Jika ternyata kalimat majemuk sulit diurai menjadi kalimat tunggal, pesan yang disampaikan harus sebisa mungkin mudah dimengerti. Caranya, hemat dalam penggunaan kata.

4. Berprinsip Hemat Kata

Sebenarnya, penghematan dalam penggunaan kata berlaku pada kalimat tunggal maupun kalimat majemuk.

Prinsipnya sederhana, semakin sedikit kata dalam kalimat, semakin mudah pesan terbaca.

Beberapa ahli menyatakan, satu kalimat tunggal maksimal berisi 10 kata. Ada pula yang mengatakan paling banyak 12 kata. Sementara, kalimat majemuk bisa memiliki antara 17 kata sampai 19 kata.

Aturan baku penggunaan kata dalam sebuah kalimat, sebenarnya tak ada.

Meski begitu, ada cara mudah untuk mengetahui, apakah kalimat yang Anda buat terlalu panjang atau tidak.

salah satu

Anda bisa coba membaca kalimat yang dibuat dalam satu tarikan napas. Jika napas Anda sudah habis sebelum selesai membaca satu kalimat, berarti, kalimat itu terlalu panjang.

Pada kalimat majemuk yang penggunaan katanya lebih banyak dibanding kalimat tunggal, tanda koma digunakan di dalam kalimat. Satu di antara fungsi tanda koma supaya pembaca bisa mengambil jeda napas, saat menyelesaikan membaca satu kalimat.

Meski begitu, prioritas pertama tetap berupaya hemat dalam penggunaan kata.

Contoh mengenai prinsip hemat dalam penggunaan kata bisa dilihat di artikel berjudul 7 Kesalahan Penulisan, Mubazir Kata.

Setelah memahami kalimat efektif, hal berikutnya yang perlu diperhatikan saat ingin membuat tulisan enak dibaca adalah bahasa sederhana.

Membuat Tulisan Enak Dibaca – Bahasa Sederhana

Tujuan penggunaan bahasa sederhana dalam proses membuat tulisan enak dibaca, serupa dengan pemakaian kalimat efektif. Yaitu supaya, pesan yang terkandung dalam artikel, yang ditulis seorang penulis, mudah dimengerti pembaca.

Penjelasan mengenai bahasa sederhana akan diawali dengan pembahasan mengenai persepsi salah penggunaan bahasa. Selanjutnya, pembahasan terkait cara penggunaan bahasa sederhana, dalam membuat tulisan enak dibaca.

1. Persepsi Salah Penggunaan Bahasa

Ada sebuah persepsi yang berkembang pada beberapa penulis. Bahwa, artikel yang hebat adalah artikel yang menggunakan banyak bahasa rumit, yang hanya diketahui segelintir orang di bidang tertentu.

Artikel semacam itu dianggap mampu memperlihatkan kecerdasan penulisnya. Sebab, penulisnya mampu menguasai bahasa-bahasa rumit, yang belum tentu dipahami semua orang.

Pertanyaannya, jika belum tentu semua orang paham bahasa rumit yang digunakan si penulis, bagaimana pesan yang terkandung dalam artikel, bisa dimengerti pembaca?

Kalau pembaca tidak mengerti maksud dalam artikel yang ditulis, bagaimana kecerdasan penulisnya akan diketahui?

Kesimpulannya, penggunaan bahasa rumit justru membuat artikel menjadi lebih sulit dipahami secara umum. Alhasil, pesan yang ingin disampaikan penulis melalui artikel, memiliki kemungkinan besar untuk tidak tersampaikan dengan baik kepada pembaca.

Ada pernyataan yang menyebutkan, jika pembaca mengernyitkan dahi sekali saat membaca artikel, ada sebuah pesan yang kemungkinan gagal tersampaikan. Apalagi kalau pembaca sampai berkali-kali mengernyitkan dahi, pesan-pesan yang ada dalam artikel sangat mungkin tidak tersampaikan.

Lebih parah lagi, pembaca enggan meneruskan membaca artikel tersebut. Dalam kondisi itu, bisa dikatakan, penulis telah gagal membuat tulisan enak dibaca.

Sebab, meskipun artikel yang dibuat selesai secara keseluruhan, artikel itu menjadi tidak bermanfaat tanpa kehadiran pembaca. 

2. Bayangkan Pembaca Siswa SMP

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan, artikel yang baik adalah artikel yang menggunakan bahasa sederhana. Sehingga, isi pesan dalam artikel mudah dimengerti pembaca.

Pertanyaannya kemudian, apa batasan bahasa sederhana?

Beberapa penulis menyatakan, bahasa sederhana adalah bahasa yang dimengerti siswa SMP. Beberapa penulis lain bahkan memberi batasan siswa SD.

Maksudnya begini, artikel yang dibuat penulis, jika diberikan ke siswa SMP untuk dibaca, siswa tersebut mampu memahami pesan dalam artikel dengan baik.

Mungkin timbul pertanyaan, mengapa batasannya siswa SMP?

Sebab, jika siswa SMP saja mampu mengerti isi pesan dalam artikel yang dibuat penulis, pembaca lain dengan tingkat pendidikan lebih tinggi, tentu akan lebih mudah dalam memahami.

Maka ketika menulis, seorang penulis harus tetap memperhatikan bahasa yang digunakan. Apakah bahasa yang dipakai sudah sederhana sehingga mudah dibaca, atau belum?

Hal itu tentu menjadi sebuah tantangan bagi penulis. Apalagi, penulis yang menguasai bidang ilmu tertentu, yang memiliki bahasa-bahasa ilmiah tersendiri.

3. Bahasa Sederhana Berlaku Umum

Pada era modern, masyarakat dipisahkan ke dalam bidang-bidang tertentu. Di mana, bidang-bidang itu, utamanya, akan berkaitan dengan pekerjaan yang dilakoni masyarakat.

Pada beberapa bidang tertentu, penggunaan bahasa ilmiah yang hanya dimengerti segelintir orang, harus digunakan saat membuat artikel.

Misalnya, artikel kesehatan yang membahas penyakit tertentu. Atau, artikel yang membahas mengenai tata kota.

Permasalahannya, saat artikel dibuat dengan bahasa ilmiah bidang tertentu, hal itu berpotensi menurunkan jumlah pembaca artikel tersebut. Sebab, pembaca yang kemungkinan tertarik membaca artikel itu, cuma orang-orang yang memang berhubungan dengan bidang tertentu tersebut.

Alasannya, orang-orang itu yang memahami bahasa-bahasa ilmiah yang digunakan dalam artikel.

Maka, seorang penulis hebat adalah penulis yang artikelnya mampu memberikan pemahaman kepada pembaca dari lintas bidang.

Lalu, bagaimana menyederhanakan bahasa ilmiah yang hanya dimengerti segelintir orang?

Penulis bisa memberikan penjelasan mengenai kata dalam bahasa ilmiah tersebut, menggunakan bahasa sederhana. Penjelasan serupa berlaku buat kata-kata dari bahasa asing maupun daerah.

Contohnya, dalam berita politik, istilah fit and proper test terkadang muncul.

Selain memberikan terjemahan dalam bahasa Indonesia, penulis juga bisa memberikan penjelasan mengenai fit and proper test.

Sehingga, pembaca yang tidak memiliki latar belakang pendidikan politik atau pemerintahan, tetap mampu memahami istilah tersebut.

4. Gunakan Kamus

Kamus merupakan buku penting yang wajib dibawa setiap penulis. Di era digital, penulis dimudahkan dengan keberadaan kamus online atau daring.

Satu di antara manfaat kamus berguna untuk memilih kata, yang mudah dipahami pembaca. Sehingga, penulis dapat menggunakan bahasa sederhana secara maksimal, dalam membuat tulisan enak dibaca.

Berikut, beberapa manfaat kamus buat penulis.

a. Cek Penulisan Kata

Berbeda dengan bahasa lisan, bahasa tulis memiliki aturan tertentu. Satu di antara aturan tersebut mengenai penggunaan kata, yang sesuai ejaan.

Karena itu, penulisan kata dalam bahasa tulisan harus menyesuaikan ejaan. Pengecekan kata tersebut bisa menggunakan kamus.

Misalnya, dalam bahasa lisan, kerap terucap kata “antri”, “pingin”, atau “pecinta”. Sementara, bahasa baku kata-kata tersebut adalah “antre”, “ingin”, “pencinta”.

Meskipun telah menggunakan bahasa sederhana, ejaan yang salah terkadang membuat pembaca terganggu.

b. Kebenaran Makna Kata

Penulis bisa mengecek makna kata yang ditulis menggunakan kamus. Sehingga, pembaca tak keliru dalam menangkap pesan, akibat penulis salah menggunakan kata.

Misalnya, ada kalimat seperti ini.

Jalan itu dibangun berdasarkan inisiasi warga.

Penulis bermaksud menyampaikan pesan bahwa sebuah jalan dibangun karena kemauan, ide, prakarsa, atau gagasan warga. Tetapi, penggunaan kata inisiasi menjadikan pesan dalam kalimat itu menjadi kabur.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, inisiasi berarti upacara atau ujian yang harus dijalani orang, yang akan menjadi anggota suatu perkumpulan, suku, kelompok umur, dan sebagainya.

Sehingga, kata inisiasi dalam kalimat di atas harus diubah, misalnya dengan kata inisiatif. Maka, kalimat di atas akan berubah menjadi kalimat di bawah ini.

Jalan itu dibangun berdasarkan inisiatif warga.

Dalam KBBI daring, inisiatif berarti prakarsa.

Di dalam keseharian, ada beberapa kata yang kerap diucapkan namun sebenarnya memiliki makna berbeda. Hal itu kemungkinan muncul karena kebiasaan. Satu di antaranya kata “inisiasi” di atas.

Puncak Mas

Karena itu, penulis harus memastikan kebenaran makna setiap kata yang ditulis saat membuat artikel.

Selain untuk menghindari kesalahan pesan yang ingin disampaikan melalui tulisan, hal itu juga sebagai pembelajaran. Dengan menuliskan kata sesuai maknanya, penulis telah berjasa menyampaikan bahasa yang sesuai kaidah kepada khalayak.

c. Kata Mudah Dipahami

Seperti dijelaskan sebelumnya, bahasa sederhana membutuhkan kata-kata yang mudah dimengerti banyak orang. Karena itu, kata-kata yang tergolong sulit dipahami, harus dihindari.

Untuk menghindari kata-kata sulit, dan menggantikannya dengan kata-kata yang mudah, kamus merupakan alat pencari yang tepat.

Kalaupun kata-kata sulit itu tidak memiliki kesamaan kata lain, yang lebih mudah dipahami, penulis bisa menggunakan kamus untuk menjelaskan arti kata yang dimaksud, dalam artikel yang ditulis.

d. Alternatif Kata

Penggunaan bahasa sederhana membatasi penulis dalam menggunakan kata-kata. Di mana, penulis harus menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti semua orang.

Meski begitu, penulis bukan berarti harus menggunakan kata-kata yang monoton, atau kata yang itu-itu saja.

Sebab sebenarnya, banyak kata yang bisa digunakan. Meskipun, penulis diharuskan menggunakan bahasa sederhana. Dan, kamus bisa digunakan untuk mencari variasi kata.

Misalnya, kata “agar” bisa divariasikan dengan kata “supaya”. Kata “namun” dan “tetapi”. Kata “meskipun” dan “walaupun”. Serta, beragam kata lain yang bisa digunakan secara bervariasi.

Demikian, pemaparan mengenai bahasa sederhana dalam membuat tulisan enak dibaca. Selanjutnya, hal terakhir yang perlu diperhatikan dalam membuat tulisan enak dibaca adalah uraian runut.

Membuat Tulisan Enak Dibaca – Uraian Runut

Membuat uraian runut merupakan satu dari beberapa cara, untuk menjaga pembaca betah membaca hingga tulisan selesai.

Setiap satu tulisan umumnya memiliki satu buah tema atau pokok pikiran yang hendak disampaikan oleh si penulis. Meskipun tulisan tersebut sangatlah panjang, tema yang ingin disampaikan penulis, biasanya tetap satu.

Misalnya, tulisan berjudul Bagelen, Tanah Kolonisasi Pertama di Indonesia memiliki tema tentang proses kolonisasi sebagai cikal bakal transmigrasi di Indonesia. Tulisan tersebut terdiri dari 4.000 kata lebih. Walau begitu, tulisan itu tetap on the track, dengan hanya berisi hal yang sesuai tema.

Cara untuk membuat tulisan tetap dalam jalurnya, satu di antaranya dengan memberikan uraian secara runut. Maksudnya, setiap kalimat yang dibuat tetap saling berkesinambungan, sehingga membentuk satu kesatuan tema.

Pernahkah Anda membaca sebuah tulisan, lalu merasa ada sebagian isi tulisan tersebut tidak sesuai tema?

Contohnya, Anda membaca artikel bertema cara menggambar rumah. Isi artikel itu dibuka dengan penyiapan alat gambar. Lalu, isi artikel mengenai tempat-tempat yang dianggap cocok untuk dibangun rumah. Selanjutnya, artikel berisi tentang proses menggambar rumah mulai dari atap, dinding, pintu, dan jendela. Hingga akhirnya, isi artikel mengenai proses mewarnai gambar rumah tersebut.

Isi artikel tersebut terasa tidak sesuai tema saat ada penjelasan mengenai tempat-tempat yang dianggap cocok untuk membangun rumah. Sebab, penjelasan tersebut tidak memiliki kaitan dengan tema cara menggambar rumah.

Itu satu hal. Hal lainnya, pernahkah Anda membaca sebuah tulisan, dan merasa isi tulisan tersebut “melompat-lompat”?

Misalnya pada contoh di atas, urutan isi artikelnya ternyata diawali dengan penyiapan alat gambar, proses mewarnai, hingga proses menggambar rumah.

Urutan isi artikel tersebut terasa “melompat” karena prosesnya yang tidak sesuai urutan.

Ketidaksesuaian tulisan dengan tema, maupun isi tulisan yang “melompat-lompat”, berpeluang membuat tulisan tak nyaman dibaca. Karena itu, uraian runut perlu mendapat perhatian saat membuat tulisan.

1. Tentukan Alur Tulisan

Uraian runut bukan berarti selalu membuat tulisan “dari A ke Z”. Dalam artian, tulisan hanya mengalir dari penyebab menuju akibat. Ada kalanya, tulisan diawali dengan pemaparan akibat, dan diakhiri dengan menguraikan unsur-unsur penyebab.

Untuk lebih mudahnya, pernahkah Anda membaca novel atau cerita pendek?

Sebagian penulis novel membuat cerita mereka dari masa sekarang ke masa depan, atau dari masa lalu ke masa sekarang.

Tetapi, ada juga penulis novel yang membuat cerita mereka dari masa sekarang, lalu mundur ke masa lalu, dan kembali ke masa sekarang, atau dikenal dengan istilah flashback. Meski begitu, isi ceritanya tetap memiliki uraian runut.

Untuk membuat bermacam uraian tersebut, hal pertama yang perlu dilakukan adalah menentukan alur tulisan. Suratno dan Wahono dalam buku berjudul Bahasa Indonesia untuk SMA dan MA Kelas XII Program IPA dan IPS, menyebutkan, bentuk alur berupa peristiwa-peristiwa yang disusun secara berkaitan menurut hukum sebab akibat dari awal sampai akhir cerita.

Rudyard Kipling

Dalam buku yang diterbitkan Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional pada 2010 itu, Suratno dan Wahono mengungkapkan, secara waktu, alur terbagi menjadi tiga, yaitu alur maju, alur mundur, dan alur campuran.

Pada alur maju, jalan cerita disusun berdasarkan urutan waktu dan urutan peristiwa. Sementara pada alur mundur, cerita dikembalikan ke masa atau waktu sebelumnya. Adapun, alur campuran atau flashback merupakan perpaduan antara alur maju dan alur mundur. Cerita bergerak dari bagian tengah, menuju ke awal, dilanjutkan ke akhir cerita.

Adapun, tahapan-tahapan alur terdiri dari lima hal, yaitu pengenalan (exposition), peristiwa (complication), muncul konflik (rising action), puncak konflik (turning point), dan penyelesaian (resolution).

Pada tahap pengenalan, tokoh, situasi, latar, waktu, dan sebagainya mulai dimunculkan. Selanjutnya pada tahap peristiwa, suatu peristiwa dimunculkan sebagai penggerak cerita. Di tahap muncul konflik, permasalahan yang menimbulkan pertentangan dan ketegangan antartokoh muncul. Berikutnya pada tahap konflik memuncak, permasalahan atau ketegangan berada pada titik paling atas atau puncak. Terakhir, pada tahap penyelesaian, permasalahan mulai ada penyelesaian menuju akhir cerita.

Pada tulisan nonfiksi, alur yang dibuat tak jauh berbeda. Umumnya, tulisan nonfiksi memiliki alur maju. Sementara, isi tulisan nonfiksi biasanya terbagi menjadi pembuka, masalah, dan penutup.

Bagian pembuka, utamanya, menjelaskan kepada pembaca mengenai latar belakang dan gambaran permasalahan yang akan dibahas. Pada bagian kedua, masalah atau konflik diterangkan secara rinci.

Masalah maupun konflik umumnya menjadi hal yang paling menarik dibaca. Karena itu, penyajiannya perlu mendapat perhatian khusus penulis, dengan tanpa mengurangi fokus pada bagian-bagian lain. Untuk bagian penutup pada tulisan nonfiksi, hal itu biasanya berisi solusi dari penulis.

Penetapan alur tulisan bisa dilakukan sebelum mulai menulis. Pembuatan rencana penyusunan alur tulisan agar menghasilkan uraian runut, dapat dilakukan dengan membuat kerangka tulisan.

2. Kerangka Karangan

Kerangka karangan akan menjadi panduan supaya tulisan tetap fokus pada tema. Dan, tulisan bisa “mengalir” antarparagraf, antarkalimat, hingga antarkata. Sehingga, pembaca akan nyaman melihat untaian huruf yang dibuat dalam tulisan hingga akhir. Ada beberapa tahap dalam membuat kerangka karangan.

Pertama-tama, uraikan tema besar yang  dimiliki menjadi beberapa subtema yang lebih kecil. Setelah mendapatkan subtema, tahap selanjutnya adalah menyusun subtema itu berdasarkan urutan tulisan yang ingin dibuat.

Usai menyusun subtema, kembangkan subtema-subtema tersebut ke subtema yang lebih kecil lagi. Satu subtema yang lebih kecil tersebut, nantinya akan menjadi pokok pikiran sebuah paragraf.

Sampai pada tahap itu, gambaran tulisan yang akan dibuat sebenarnya telah terlihat. Bisa dikatakan, draf kasar tulisan sudah terbentuk.

Sekarang, hal yang perlu dilakukan tinggal membalut draf itu dengan rapi. Dari satu subtema yang lebih kecil, perluas lagi menjadi tiga sampai empat pokok pikiran. Tiga sampai empat pokok pikiran tersebut akan menjadi jumlah kalimat yang dibuat dalam satu paragraf.

Sebenarnya, jumlah pokok pikiran yang dibuat bisa lebih dari empat. Tetapi umumnya, satu paragraf hanya berisi tiga sampai empat kalimat. Hal itu supaya paragraf tetap fokus menjelaskan sebuah subtema.

Usai pokok pikiran kalimat selesai dibuat, selanjutnya, proses penulisan sudah bisa dikerjakan. Hal itu dilakukan dengan mengembangkan setiap pokok pikiran menjadi kalimat utuh.

Saat membuat kerangka karangan, alur tulisan bisa ditetapkan. Hal itu umumnya dilakukan saat menguraikan tema besar dalam subtema.

Karena kerangka karangan merupakan fondasi tulisan, penyusunannya penting untuk diperhatikan. Penjelasan lebih detail tentang pembuatan kerangka karangan bisa dilihat di artikel berjudul Membuat Kerangka Karangan hingga Menjadi Tulisan.

Membuat tulisan enak dibaca tentu akan memberikan banyak manfaat terhadap penulis, terlebih kepada pembaca. Sebab, pembaca akan mudah mendapat pesan yang disampaikan penulis. Sementara, penulis bisa mendapatkan pembaca loyal karena menikmati tulisan yang disajikan.

membuat tulisan enak dibaca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *