Membuat Tulisan Deskripsi Berdasarkan Penuturan Orang Lain, Perhatikan 4 Hal Ini

Membuat tulisan deskripsi berdasarkan penuturan orang lain memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi, dibanding teknik menulis deskripsi berdasarkan pengamatan langsung menggunakan pancaindra.

Karena itu, prinsip kehati-hatian harus benar-benar diterapkan, saat membuat tulisan deskripsi berdasarkan penuturan orang lain.

Hal itu bertujuan supaya artikel yang ditulis, mampu memberikan gambaran secara detail, sesuai penuturan orang yang diwawancara.

Artikel ini akan menjelaskan cara membuat tulisan deskripsi berdasarkan fakta. Sebab, teknik menulis deskripsi juga bisa diterapkan pada karya fiksi.

Membuat Tulisan Deskripsi

Teknik menulis deskripsi memiliki keunggulan pada karya tulis yang dihasilkan. Teknik menulis deskripsi mampu menggambarkan cerita secara detail.

Bahkan, kedetailan tersebut mampu membuat pembaca seolah-olah berada di dalam cerita. Penjelasan lebih lanjut mengenai keunggulan teknik menulis deskripsi, bisa dilihat di artikel Bikin Tulisan Panjang, Jangan Gunakan Kata Sifat.

Pada artikel sebelumnya, saya pernah menjelaskan cara berlatih menulis deskripsi. Cara berlatih tersebut melalui pengamatan menggunakan pancaindra.

Pengamatan merupakan teknik dasar. Saat melakukan pengamatan, penulis harus turut berada bersama objek yang akan ditulis.

Penulis kemudian menceritakan ulang objek itu berdasarkan hal yang dilihat, didengar, dicium, dikecap, atau dirasa.

Hasil tulisan deskripsi sangat bergantung pada seberapa cermat pengamatan yang dilakukan. Pengamatan yang semakin cermat, akan menghasilkan tulisan yang semakin detail.

Deskripsi menjadi baik tatkala penulis mampu mengajak pembaca seolah-olah melihat, mendengar, mencium, mengecap, atau merasa hal yang ditulis penulis. Cara berlatih menulis deskripsi melalui pengamatan dapat dibaca di artikel Teknik Menulis Deskripsi, Berlatih dengan Mata.

Kini, dalam artikel ini, saya akan menguraikan teknik yang lebih sulit, yaitu cara membuat tulisan deskripsi berdasarkan penuturan orang lain.

Mengapa kita membutuhkan penuturan orang lain dalam membuat tulisan deskripsi?

Jawaban singkatnya, waktu yang tidak memungkinkan.

Sebagaimana dijelaskan di atas, menulis deskripsi berdasarkan pengamatan memerlukan kehadiran penulis, bersama objek yang akan ditulis.

Persoalannya, bagaimana jika objek yang hendak ditulis berada pada masa lalu?

Misalkan, saya ingin bercerita tentang sebuah bioskop, yang pernah berjaya pada 1980. Sementara pada masa kini, bioskop tersebut sudah tak lagi operasional.

Bahkan, gedung bioskopnya sudah berganti menjadi lapangan sepak bola.

Dalam kondisi tersebut, pengamatan langsung tentu tak bisa dilakukan, untuk menceritakan kondisi bioskop itu.

Sebab, gedung bioskopnya sudah tak ada. Sebab kedua, kita belum memungkinkan untuk bisa kembali ke masa lalu, supaya dapat melihat bioskop itu saat masih berjaya.

Maka, cara membuat tulisan deskripsi tentang bioskop tersebut, melalui wawancara saksi mata, yang mengetahui tentang seluk beluk bioskop itu.

Kalaupun dimungkinkan, data sebagai unsur pendukung berupa dokumentasi bisa turut menjadi bahan tulisan. Tetapi jika unsur pendukung itu tak ada, saksi mata akan menjadi satu-satunya sumber informasi.

Selain contoh di atas, teknik membuat tulisan deskripsi melalui penuturan orang lain, umumnya digunakan pada pembuatan biografi.

Kesimpulannya, penuturan orang lain melalui wawancara, diperlukan untuk mengungkapkan fakta masa lalu. Di mana, fakta tersebut akan disajikan menggunakan teknis menulis deskripsi.

Supaya menghasilkan tulisan deskripsi yang detail berdasarkan penuturan orang lain, setidaknya, ada empat hal yang perlu diperhatikan saat mengumpulkan bahan tulisan.

  1. Pilih Narasumber Kompeten

Narasumber dibutuhkan supaya dapat memberikan informasi. Supaya informasi yang disampaikan kredibel dan sesuai fakta, penulis harus benar-benar memperhatikan kompetensi seorang narasumber.

Pemilihan narasumber yang tepat merupakan hal pertama dan utama, yang harus diperhatikan.

Membuat Tulisan Deskripsi

Setidaknya, ada dua seleksi dalam menetapkan narasumber kompeten.

Pertama, narasumber mengetahui objek yang akan kita ulas. Mengetahui objek berarti narasumber memiliki keterkaitan langsung dengan objek.

Narasumber yang memiliki keterkaitan langsung dengan objek dapat kita masukkan dalam kategori saksi mata.

Sementara, narasumber yang tidak mempunyai keterkaitan langsung dengan objek, dapat kita “kesampingkan”.

Cara mudah mengetahui narasumber yang tidak memiliki keterkaitan langsung dengan objek, melalui pertanyaan, “Apakah Anda tahu tentang … ?”

Jika narasumber menjawab, “Dengar-dengar sih …”, atau “Katanya …”, atau jawaban lain yang mengindikasikan narasumber itu tahu informasi dari orang lain, maka bisa dipastikan, narasumber tersebut tidak mempunyai keterkaitan langsung dengan objek.

Sebab, mereka hanya mendapatkan cerita tentang objek yang kita tuju, dari narasumber lain. Maka, narasumber lain itu yang menjadi “buruan” kita.

Setelah mendapatkan narasumber yang memiliki keterkaitan dengan objek, seleksi kedua berupa pemilahan narasumber, berdasarkan kedalaman informasi yang dimiliki.

Semakin dalam informasi yang dimiliki, ia akan mampu bercerita semakin detail. Cerita detail narasumber tentu akan memudahkan kita dalam membuat tulisan deskripsi.

Cara mengetahui narasumber yang mempunyai informasi mendalam adalah melalui wawancara.

Baru setelah itu, kita menyeleksi hasil wawancara yang akan digunakan sebagai bahan tulisan.

Narasumber yang hanya memberi informasi minim, dan isi informasinya serupa dengan narasumber lain, yang memberi informasi lebih detail, sebenarnya bisa “disingkirkan”.

Meski dalam beberapa hal, informasi minim tersebut bisa digunakan sebagai penguat informasi dari narasumber utama. Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut pada poin keempat.

Cara mencari narasumber utama bisa berpegang pada teori Lingkaran Konsentris, yang disampaikan David Protess. Penjelasan tentang teori Lingkaran Konsentris bisa dibaca di artikel Lingkaran Konsentris, Upaya Hasilkan Akurasi.

  1. Ajukan Pertanyaan Umum dan Rinci

Pertanyaan merupakan kunci untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dari narasumber. Terlebih jika, narasumber yang kita temui bukanlah pencerita yang ulung.

Sejauh pengalaman saya mewawancara narasumber, setidaknya, ada tiga tipe narasumber yang pernah saya temui.

Pertama, narasumber yang mampu bicara banyak secara detail, sesuai pertanyaan. Narasumber tersebut mampu menyampaikan informasi dengan bercerita secara runut.

Narasumber tipe ini merupakan narasumber impian. Sebab, pewawancara bisa dengan mudah menggali informasi, hanya berbekal pertanyaan-pertanyaan yang bersifat umum.

Kedua, narasumber yang mampu bicara banyak tetapi tidak detail, malah kerap, jawabannya tidak sesuai pertanyaan.

Ketiga, narasumber yang irit bicara. Narasumber tipe ini biasanya hanya menjawab sesuai pertanyaan. Bahkan terkadang, jawaban yang ia sampaikan sebenarnya belum menjawab pertanyaan.

Ketika ingin mendapatkan informasi detail, supaya bisa membuat tulisan deskripsi, narasumber tipe kedua dan ketiga tentu akan menjadi kesulitan tersendiri.

Karena itu, pertanyaan yang kita ajukan selaku pewawancara, akan sangat menentukan keberhasilan melakukan wawancara.

Ada dua jenis pertanyaan untuk bisa menggali informasi secara mendalam, yaitu pertanyaan umum dan pertanyaan rinci. Kedua jenis pertanyaan itu berhubungan satu sama lain.

Penggunaan kedua jenis pertanyaan tersebut dilakukan secara berurut, mulai dari satu pertanyaan umum berlanjut ke beberapa pertanyaan rinci.

Jika satu pertanyaan umum, berikut pertanyaan-pertanyaan rinci yang menyertainya, telah terjawab secara detail, kita bisa beralih ke pertanyaan umum berikutnya.

Mari kembali ke contoh bioskop di atas.

Misalnya, sebagai permulaan, saya ingin tahu lokasi keberadaan bioskop. Maka, saya tentu akan bertanya, “Di mana bioskop itu berada?”

Pertanyaan itu merupakan pertanyaan umum. Dari pertanyaan itu, kita kemungkinan hanya mendapatkan informasi tentang alamat bioskop.

Untuk membuat tulisan deskripsi, kita tentu membutuhkan gambaran lokasi sekeliling bioskop tersebut.

Supaya mendapatkan gambaran lokasi sekeliling bioskop, kita dapat mengajukan beberapa pertanyaan rinci, misalnya:

  1. Ada apa di samping kiri, kanan, depan, belakang bioskop?
  2. Bagaimana kondisi keramaian di lokasi sekeliling bioskop? Ada berapa orang setiap harinya?
  3. Apakah lokasi bioskop tersebut mudah dijangkau kendaraan umum? Berapa rute angkutan umum yang melalui bioskop itu?
  4. Dengan kondisi saat itu, apakah bioskop tersebut termasuk berada di tengah kota atau pinggiran kota?

Pertanyaan-pertanyaan rinci tersebut tentu bisa dikembangkan lagi sesuai kebutuhan pewawancara. Tentunya, kebutuhan itu menyangkut detail cerita yang ingin dibuat.

  1. Perjelas Fakta, Pisahkan Asumsi

Saat melakukan wawancara, narasumber secara tidak sadar, terkadang mencampurkan antara fakta dan asumsi pribadinya.

Pewawancara tentu harus berhati-hati terhadap hal tersebut, supaya fakta tidak bercampur dengan asumsi. Hal itu bertujuan supaya tulisan yang dihasilkan, mampu memberikan deskripsi fakta sebaik mungkin.

Untuk memudahkan penjelasan, saya ingin mengajak Anda menengok kembali contoh pertanyaan rinci huruf b.

BACA JUGA: Tugas Mengarang SD Ajang Latihan Menulis Deskripsi

Di huruf itu, ada pertanyaan, “Bagaimana kondisi keramaian di lokasi sekeliling bioskop?”

Pertanyaan itu kemudian ditegaskan lagi dengan pertanyaan, “Ada berapa orang setiap harinya?”

Pertanyaan pertama sebenarnya mengarah ke asumsi narasumber. Sementara, pertanyaan kedua merupakan upaya memisahkan fakta dengan asumsi.

Jika pada akhirnya asumsi tidak digunakan, mengapa harus ada pertanyaan pertama?

Pertanyaan pertama dibutuhkan sebagai pancingan secara psikologi. Sebab pada umumnya, manusia akan merasa senang jika ditanyakan pendapatnya, yang umumnya berupa asumsi.

Sehingga diharapkan, perasaan senang tersebut mampu berimplikasi baik terhadap jawaban-jawaban narasumber, selama wawancara berlangsung.

Sebagai catatan, wawancara untuk mendapatkan informasi mendalam, biasanya membutuhkan waktu lama. Karena itu, upaya menjaga perasaan narasumber tetap senang, wajib dilakukan.

Sebab, waktu wawancara yang lama, sangat mungkin membuat narasumber bosan. Alhasil, narasumber yang merasa bosan, bisa saja akan menjawab pertanyaan “semaunya”, yang tidak sesuai fakta.

Sehingga, pewawancara sebisa mungkin harus dapat menjaga perasaan narasumber. Satu di antara caranya dengan menyelipkan pertanyaan “sampingan”, yang mengarah ke asumsi narasumber.

Asumsi narasumber sebenarnya tetap bisa dijadikan bahan tulisan. Meski begitu, dalam belajar membuat tulisan deskripsi, saya menyarankan asumsi diletakkan terpisah dari penjelasan deskripsi.

Asumsi bisa saja ditaruh di bagian akhir tulisan. Setelah pada awal dan tengah tulisan, Anda membuat pemaparan secara deskripsi.

Itulah mengapa pada poin ketiga ini saya mengatakan, “Pisahkan asumsi.” Dan, saya tidak mengatakan, “Hilangkan asumsi.”

Kembali ke dua pertanyaan di atas, pertanyaan pertama memiliki kemungkinan jawaban ramai atau tidak. Sementara, jawaban pertanyaan kedua berupa jumlah orang.

Semisal, narasumber menjawab ramai untuk pertanyaan pertama, jawaban itu mampu menimbulkan persepsi yang berbeda-beda.

Satu rumah yang ditinggali 20 orang bisa dibilang ramai. Tetapi, satu pasar yang dikunjungi 20 orang mungkin dapat dikatakan sepi.

Kesimpulannya, kata ramai memiliki ukuran yang berbeda-beda. Karena persepsi yang belum pasti itulah, pertanyaan pertama saya sebut sebagai asumsi.

Hal itu berbeda dengan pertanyaan kedua yang memberikan jawaban pasti, berupa jumlah orang, meski hanya perkiraan. Tetapi, itu adalah fakta yang lebih mudah dipahami.

Karena itu, pewawancara sebisa mungkin mampu menggali fakta-fakta dari narasumber, dan mengesampingkan asumsi-asumsi.

  1. Pastikan Fakta

Meski pewawancara sudah melakukan seleksi narasumber, informasi yang diberikan narasumber, terkadang belum sepenuhnya sesuai fakta. Walaupun, persentase ketidaksesuaian tersebut mungkin saja kecil.

Membuat Tulisan Deskripsi

Kembali ke contoh bioskop di atas, misalnya, narasumber mampu mengingat seluruh konstruksi bangunan, sejarah, dan sebagainya.

Tetapi, ia lupa alamat bioskop itu. Alhasil, ia hanya memberikan kemungkinan nama jalan, atau malah memberi jawaban yang salah.

Pada kondisi itu, unsur pendukung diperlukan.

Unsur pendukung bertujuan memastikan kebenaran informasi yang sesuai fakta.

Unsur pendukung bisa berupa dokumen semisal catatan, foto, atau dalam bentuk lain.

Misalnya pada contoh bioskop di atas, narasumber ternyata memiliki foto. Di mana di dalam foto itu, nama jalan tempat bioskop berdiri tertera.

Atau, pewawancara ternyata menemukan sebuah artikel surat kabar lama, yang mencantumkan alamat bioskop tersebut.

Dokumen-dokumen tersebut bisa digunakan selama menghadirkan fakta.

Unsur pendukung lain bisa berupa narasumber utama kedua, ketiga, dan seterusnya.

Bagaimana caranya?

Hal itu dilakukan melalui cek silang atau crosscheck.

Cek silang bisa dikerjakan dengan menanyakan kembali jawaban seorang narasumber ke narasumber lain.

Misalnya, narasumber A mengatakan alamat bioskop di Jalan Y.

Tetapi saat wawancara dengan narasumber B, ia menjawab di Jalan Z. Meski begitu, narasumber B tidak yakin dengan jawabannya.

Maka, jawaban narasumber A bisa dipertanyakan kembali ke narasumber B untuk memastikan jawaban narasumber B.

Jika narasumber B membenarkan jawaban narasumber A, pewawancara telah mendapatkan informasi sesuai fakta.

Kalaupun pewawancara masih memiliki keraguan terkait kebenaran informasi yang didapat, ia dapat terus mencari unsur pendukung yang lain.

Atau misalnya, narasumber A dan narasumber B memberikan informasi yang berbeda, maka pencarian unsur pendukung yang lain wajib dilakukan. Hal itu bisa berupa dokumen atau cek silang narasumber ketiga, keempat, dan seterusnya.

BACA JUGA: 5 Jenis Karangan dari 4 Referensi

Ketika semua fakta telah dipastikan, dan asumsi telah dipisahkan, Anda telah bisa memulai membuat tulisan deskripsi.

Di akhir artikel ini, saya sedikit memberi saran, ada baiknya bahan tulisan dikumpulkan sebanyak-banyaknya terlebih dahulu, sebelum mulai menulis deskripsi. Tentunya, pengumpulan bahan tulisan memperhatikan empat hal di atas.

Sebab dengan memiliki bahan tulisan yang banyak, pemaparan secara detail diharapkan dapat lebih mudah diwujudkan, saat membuat tulisan deskripsi.

Membuat Tulisan Deskripsi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *