Membuat Rilis yang Baik

Membuat rilis yang baik merupakan salah satu keahlian yang harus dimiliki seorang pejabat hubungan masyarakat (humas) atau public relation. Sebab, rilis adalah satu jembatan untuk berhubungan dengan media massa, baik untuk memasarkan produk atau memublikasikan kegiatan.

Dengan membuat rilis yang baik, maka informasi yang Anda sampaikan memiliki kemungkinan lebih besar untuk dipublikasikan, di media massa yang Anda tuju. Ini alasannya.

Redaktur media massa, terlebih media massa online, memiliki waktu terbatas untuk menyunting setiap bahan tulisan yang masuk. Maka ketika rilis yang Anda sampaikan dianggap tidak memenuhi kriteria sebagai informasi yang perlu dipublikasikan, rilis Anda berpeluang besar “dibuang”.

Untuk itu, dalam membuat rilis yang baik, Anda perlu berpikir seperti seorang jurnalis. Di mana, dalam memublikasikan informasi, jurnalis berpedoman pada nilai berita. Maka sebisa mungkin, Anda membuat rilis serupa sebuah berita yang dibuat jurnalis.

Setidaknya, ada empat hal penting yang perlu Anda perhatikan dalam membuat rilis yang baik, yaitu judul, konsep 5w+1h, konsep narasi, dan kontak pengirim.

Mari mulai dengan hal pertama, judul. Judul merupakan hal penting untuk menarik perhatian redaktur media massa. Buatlah judul yang unik, tetapi tetap berkaitan dengan isi rilis.

Hal lain yang perlu diperhatikan, jangan buat judul terlalu panjang. Umumnya, enam kata menjadi batas maksimal pembuatan judul. Lebih ringkas, judul akan tampak lebih baik.

Beralih ke konsep 5w+1h. Ini merupakan konsep paling dasar dalam membuat berita.

Konsep 5w+1h merupakan serangkaian pertanyaan untuk memperjelas isi sebuah berita. Pertanyaan-pertanyaan tersebut, meliputi what, who, when, where, why, dan how.

Di paragraf awal rilis, empat unsur pertama dari 5w+1h wajib ada, yakni what, who, when, dan where. Penjelasan lebih lengkap tentang konsep 5W+1H bisa dibaca di 5W+1H, Unsur Berita dari Rudyard Kipling.

Hal sepele namun kerap terlupakan adalah memunculkan narasumber, yang memberikan pernyataan terkait rilis yang diberikan. Sebab, keberadaan narasumber akan menguatkan setiap pernyataan dalam rilis.

Narasumber bisa berupa pimpinan tertinggi perusahaan. Atau, penanggung jawab acara. Hal itu tergantung informasi yang disampaikan dalam rilis.

Sementara, dua unsur terakhir dari konsep 5W+1H akan berhubungan dengan konsep narasi. Konsep narasi memberikan penjelasan rinci mengenai isi rilis. Penjelasan rinci harus mampu menjawab pertanyaan why dan how.

Hal terakhir dalam membuat rilis yang baik adalah mencantumkan kontak. Pencantuman kontak biasanya ditulis di bagian bawah narasi rilis.

Kontak berisi nama pejabat humas, nomor telepon, alamat surat elektronik (surel), dan alamat perusahaan. Pencantuman kontak penting, supaya jika redaktur memerlukan informasi tambahan, mereka bisa dengan mudah melakukan konfirmasi.

Selain empat hal itu, ada baiknya seorang pejabat humas memiliki nomor telepon dan surel dua jurnalis dalam satu media, meliputi reporter dan redaktur. Hal tersebut guna memastikan rilis yang dikirim, benar-benar diterima. Jangan lupa, seusai mengirim surel berisi rilis, kirim pesan singkat ke jurnalis bersangkutan.

Membuat rilis yang baik sebenarnya bukanlah hal sulit. Hanya saja terkadang, ada beberapa hal luput dari perhatian. Karena itu, pengecekan kembali sebelum rilis dikirimkan, merupakan hal yang wajib dilakukan.

membuat rilis yang baik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *