Melukis Mawar

Aku hanya hendak melukis mawar. Setangkai. Kelopak merah dan tangkai hijau. Selesai.

Itu seharusnya mudah. Itu semestinya tak memerlukan banyak waktu. Hanya saja, tanganku serasa membeku. Kaku.

Kutarik napas panjang yang kemudian kuembuskan sekaligus melalui mulut. Kanvas di depanku masih berwarna putih. Dan, aku hanya memandanginya. Hampa.

BACA JUGA: Pulang dan Menunggu Pulang

Seharusnya, melukis menjadi kegiatan menyenangkan buatku. Aku selalu melakukannya di waktu senggang. Atau ketika, pikiranku jenuh karena pekerjaan. Melukis memberiku ruang untuk tenang. Tetapi, malam ini tidak.

Aku ingin melukis mawar karena ucapanmu. Suaramu sepekan lalu masih terngiang di kepalaku. Nada bicaramu serius. Dan, aku merasakan ketegangan. Berbeda dengan sebelumnya yang masih penuh kehangatan, meski bahasannya sama, keinginanmu menikahiku.

“Aku benar-benar ingin menikahimu, kamu siap?” ucapmu sambil menggenggam tanganku, setelah kita menyelesaikan makan malam di kedai satai pinggir jalan.

“Aku mau,” jawabku dalam hati. Sementara, bibirku membisu. Akibat, pikiranku berkelana mengenang ucapan-ucapanmu selama ini. Kamu yang kerap menyatakan sosok istri ideal di matamu. Dan, aku belum sepaham dengan tuturmu itu.

“Minimal sarjana,” ungkapmu.

“Kenapa?”

“Karena, kamu nanti harus mendidik anak-anakmu. Kamu akan menjadi guru pertama buat mereka,” katamu sambil memandangku. Perkataanmu penuh keyakinan bahwa aku akan menjadi istrimu kelak.

“Terus, buat apa aku kuliah kalau cuma tinggal di rumah nantinya?” aku menggerutu. Dan, kamu cuma tersenyum.

Begitulah, caramu mengatasi perselisihan denganku. Membalas setiap kekesalanku dengan senyuman. Aku tak suka, tetapi menikmatinya.

“Itu mulia lho,” jawabmu singkat.

Aku tak menanggapi serius perbincangan yang kita lakukan beberapa bulan sebelum aku lulus kuliah itu. Hingga kemudian, aku meniti karier sebagaimana dirimu. Tetapi ternyata, sosok istri ideal di matamu tak berubah.

Angin yang berembus dari jendela mengibaskan rambutku ke kanan. Aku tersentak, tersadar dari kenangan. Kepalaku menunduk menatap kuas di tangan kanan. Kuas yang hendak kugunakan untuk melukis mawar. Kuas yang tergeletak di telapak tangan yang terkulai.

“Siap?” aku berusaha mengingat ucapanmu.

“Aku benar-benar ingin menikahimu, kamu siap?” aku mengulangi perkataanmu pelan-pelan, kata demi kata, dan memberi penekanan pada kata terakhir.

Aku merasa bodoh. Kamu tidak mengajakku menikah. Kamu bertanya kesiapanku untuk menikah denganmu. Dan aku menerka, itu berkaitan dengan sosok istri ideal di matamu. Sebuah peran yang, mau tidak mau, harus aku jalani saat berada di sisimu. Karena itu, kamu menanyakan kesiapanku, bukan kemauanku.

“Kenapa semuanya tidak bisa berjalan beriringan?” pikiranku bertanya tanpa jawab.

Kutamatkan kuliahku dengan susah payah. Aku rela mengantre berjam-jam menyelesaikan segala urusan administrasi demi mendapatkan beasiswa. Aku ikhlas menghabiskan malam bekerja di kafe pinggir jalan, untuk menyambung hidup di kota. Bisakah kamu bayangkan, seorang perempuan menghidupi dirinya sendirian, sekaligus berusaha merancang masa depannya. Setelah semua usaha itu, kamu ingin aku menyimpan rapat ijazahku di dalam lemari.

Tidak. Aku ingin kehidupan yang lebih baik. Aku harus menjalani kehidupan yang lebih baik. Aku akan mewujudkan hal itu. Dan, aku tak ingin mengandalkan orang lain untuk mencapai tujuanku itu. Sebab, kenikmatannya akan terasa berbeda saat semuanya telah tercapai.

Taakkk. Suara itu seketika mengosongkan pikiranku. Mendinginkan emosi yang tersulut di hatiku. Kuas di tanganku terjatuh. Aku menunduk mengambilnya. Bayangan mawar perlahan mulai mengisi lagi ruang kosong di kepalaku. Tetapi, keinginan untuk melukis mawar kini mulai sirna.

Ah, mawar,” ucapku setengah berbisik, sambil menegakkan badan kembali ke posisi semula.

Pernah, kulihat rupamu di sebuah taman kota. Merah kelopakmu membuatku terpesona. Hingga kemudian, aku mendekat, mengulurkan tangan, dan mengimpitkan telunjuk dengan jempol, untuk berusaha merengkuhmu, memetikmu di tangkai. Karena, kelopakmu terlalu istimewa untuk disentuh.

Tetapi, ah. Aku malah meringis, menahan sakit akibat duri yang menghunus. Duri yang bersembunyi dibalik indah kelopak, dan menancap sepanjang tangkai.

“Kenapa?” tanyamu penuh kecemasan, saat kuisap jempolku untuk menghilangkan rasa sakit.

Nggak apa-apa.”

Sekali lagi, kita berbincang tentang pernikahan pada sore itu, meski sekadar angan tentang pakaian yang hendak dikenakan. Aku membayangkan dirimu mengenakan jas hitam. Sementara, aku memakai gaun putih. Kita duduk di pelaminan, di hadapan para tamu yang menatap iri pada kebahagiaan kita. Iri dengan senyuman yang selalu merekah di bibir kita. Iri pada kita yang akan menjalani hidup baru.

Hidup baru yang kita belum bersepakat. Hidup baru yang mungkin penuh pertengkaran karena perbedaan yang ada, antara kamu dan aku. Pertengkaran yang mungkin timbul karena aku tak memenuhi inginmu. Ah, pernikahan, mengapa rupamu tiba-tiba menjadi kelam. Engkau serupa mawar, awalnya kulihat indah tetapi melukaiku kemudian.

“Lantas, bagaimana kita hidup nantinya?” tanyaku tiba-tiba, mencoba membahas hal yang sebenarnya sering kita pertentangkan berulang-ulang, tanpa pernah menemui kesepakatan.

Kulihat bibirnya bergerak, hendak berucap. Tetapi sebelum suara keluar dari mulutnya, aku telah berceloteh.

“Jika penghasilan kita digabung, itu akan cukup untuk mencicil rumah, mobil, dan tabungan buat anak sekolah nantinya. Tetapi, kalau aku berhenti bekerja…”

Aku menghela napas. Sore yang cerah itu akhirnya kuisi dengan mendung di hati. Kamu pun kulihat begitu. Dan, sepanjang perjalanan pulang, aku mulai berpikir, “Haruskah aku menikahimu?”

Aku mencintaimu karena perhatian yang kamu berikan. Kamu menjagaku sangat baik. Kegelisahanmu langsung terlihat saat sesuatu menimpaku, seperti ketika aku tiba-tiba pingsan dulu. Kamu bergegas meninggalkan pekerjaanmu untuk menemuiku, dan menjagaku sepanjang malam.

Tetapi, itu semua tak cukup saat kita menikah kelak. Perhatianmu tak cukup sekadar rasa sayang. Karena, rasa sayang tidak bisa mengenyangkan perut. Rasa sayang tidak bisa membeli rumah buat ditinggali. Pernikahan butuh materi. Sebab, banyak hal yang perlu dibiayai. Apakah kamu telah memikirkan itu? Apakah kamu sudah menghitung semua kebutuhan kita? Apakah kamu telah merancang dari mana kita bisa mendapatkan uang untuk memenuhi itu? Apakah gajimu cukup?

Maaf. Maaf jika aku terlalu lancang berpikir seperti itu. Tetapi, itu kenyataan yang akan kita hadapi. Atau mungkin, aku tak cocok menjadi istri ideal di matamu. Istri yang selalu menyambut di pintu rumah saat suaminya pulang kerja pada sore hari. Setelah seharian, ia mengerjakan pekerjaan rumah tangga sambil mengasuh anak. Istri yang cuma menuruti semua keinginanmu.

“Tidak,” aku menggeleng, mengusir khayalan yang telah muncul berkali-kali di kepala.

Aku tak lagi berniat melukis mawar. Kuletakkan kuas, lalu kualihkan pandangan dari kanvas yang masih putih. Di atas meja, foto yang mengabadikan senyummu tergeletak. Senyum yang selalu kurindu. Senyum yang ingin kulihat setiap pagi, saat aku baru membuka mata.

Aku berjalan mendekat menghampiri meja di sebelah jendela. Ragu sesaat segera sirna, saat tangan kananku menjangkau fotomu. Pelan, kuusap senyummu dengan ujung telunjukku. Tanpa terasa, pipiku telah basah.

“Setelah tujuh tahun, waktu ini pun tiba. Waktu di mana kamu mengajakku menikah. Tetapi, aku tak membayangkan akan seperti ini. Mengapa harus ada pilihan-pilihan?”

Aku tak kuasa untuk sekadar mengangkat fotomu ke dalam dekapanku. Aku cuma bisa berdiri kaku, berusaha mengalahkan ego. Aku hanya terdiam, meski ingin menyalahkan pendirianmu. Hingga kemudian, aku merasakan getaran.

BACA JUGA: Amplop Putih

Sebuah pesan masuk di ponsel yang kutaruh di saku kiri celana. Ponsel yang tak pernah sekalipun kubunyikan. Meski enggan, tanganku akhirnya merogoh, membuka kode pengaman, memencet simbol surat, dan menemukan namamu, yang telah kuhindari sejak sepekan lalu. Pekan yang mendekatkanku pada sepi dan renungan.

“Ra, ke depan, hidup memang tak terlihat mudah. Tetapi, apakah aku pernah membuat air mata mengalir di wajahmu? Nanti pun, tidak.”

Aku membuka mulut, tertawa tanpa suara. Kubawa diriku kembali di depan kanvas. Kini, aku benar-benar mulai melukis mawar.

melukis mawar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *