Malaysia dan Kisah Paha di Balik Sarung

Posted on Resensi 179

Malaysia dan Kisah Paha di Balik Sarung (2016) merupakan sebuah buku yang berisi cerita petualangan. Sebuah kisah nyata tentang sepuluh pemuda asal kota kecil Metro, Lampung, yang melakukan perjalanan ke dua negara, Malaysia dan Singapura.

Petualangan yang mereka lakukan guna menikmati liburan akhir tahun pada 2015 lalu. Meski bertajuk liburan, mereka menerapkan efisiensi biaya selama perjalanan tersebut. Alhasil, selama empat hari tiga malam berada di Malaysia dan Singapura, setiap mereka hanya mengeluarkan uang Rp 2,2 juta.

BACA JUGA: Kenapa Saya Harus Menulis?

Satu hal yang penting, usai berlibur, sepuluh orang tersebut membuat catatan perjalanan. Uniknya, catatan setiap orang berbeda satu sama lain. Hal itu terjadi lantaran mereka memiliki penafsiran yang beragam, meski berpetualang bersama.

Catatan yang mereka buat kemudian diterbitkan dalam laman Pojoksamber.com, sebuah portal jurnalisme warga Metro, Lampung yang mereka kelola, dalam wadah bernama Komunitas CangKir Kamisan.

Hingga akhirnya, sepuluh kisah yang telah diterbitkan itu, dirangkum dalam sebuah buku digital (ebook) berjudul Malaysia dan Kisah Paha di Balik Sarung.

Ke Luar Negeri Karena Sampah

Satu di antara sepuluh petualang tersebut bernama Erik Pujianto. Saat itu, ia berstatus mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Metro. Meski masih menjadi mahasiswa, Erik membiayai sendiri kehidupannya. Berbagai usaha ia lakoni demi mendapatkan rupiah.

Dengan kondisi tersebut, bagi Erik Pujianto, pergi ke luar negeri hanyalah sebuah impian. Tetapi bukan berarti, mimpi tak bisa diwujudkan. Terlebih buat Erik, ia justru menganggap mimpi adalah sebuah kekuatan untuk direalisasikan.

Salah satu usaha yang dilakukan Erik adalah mengumpulkan sampah. Sampah tersebut kemudian disetor ke bank sampah. Setiap sampah yang diberikan, kemudian akan diakumulasikan dalam bentuk rupiah.

Demi mewujudkan mimpinya ke luar negeri, Erik Pujianto menabung dari hasil usaha menyetor sampah tersebut. Hingga kemudian, uang tabungan itu membawanya ke Malaysia dan Singapura.

Kisah Erik Pujianto menjadi salah satu kisah pembuka dalam buku Malaysia dan Kisah Paha di Balik Sarung. Erik memang tidak banyak bercerita tentang pengalamannya saat berada di Malaysia dan Singapura. Ia  justru lebih memberikan pendalaman pemaparan tentang upayanya untuk ke luar negeri, dengan kondisinya yang terbatas.

BACA JUGA: 4 Langkah Sederhana Menjadi Penulis

Buat saya, cerita yang disampaikan Erik Pujianto menjadi menarik karena mampu menginspirasi. Sebab saya yakin, banyak orang di Indonesia memiliki keinginan untuk bisa pergi ke luar negeri. Tetapi, hal itu baru sebatas mimpi. Sementara, Erik telah merealisasikan impiannya.

Berada di Kota yang Selesai

Kota yang selesai, begitulah pendapat Rahmatul Ummah seusai mengunjungi Singapura. Penilaian itu ia berikan terhadap pembagian ruang kota, yang sesuai fungsi dan tema.

Ia menyebut, Pemerintah Singapura mampu meletakkan ruang-ruang privat dan publik secara apik. Serta, aspek keterhubungan antarruang yang baik, di mana akses dan sarana transportasi publik tersedia dengan memadai.

Bersama sembilan temannya, Rahmatul berkeliling Singapura sepanjang hari, sejak pagi hingga malam. Mereka berjalan kaki dari Stasiun Raffles Place hingga Merlion Park.

Meski secara umum membicarakan tata ruang, kisah yang diungkap Rahmatul Ummah mampu mengajak pembaca seolah hadir di Singapura bersamanya. Keunggulan gaya bercerita Rahmatul Ummah tersebut, mampu membuat buku Malaysia dan Kisah Paha di Balik Sarung terasa lebih “hidup”.

Ia memulai ceritanya di Singapura dengan memaparkan kondisi Kantor Imigrasi Singapura, saat ia tiba. Serta, berbagai pemeriksaan yang ia lalui di kantor itu. Lalu, setahap demi setahap, Rahmatul Ummah memaparkan perjalanannya. Semua ceritanya dituliskan secara berurutan.

Saat perjalanannya tiba di satu titik, Rahmatul Ummah mampu menggambarkan kondisi yang ia lihat. Sesekali, ia menambahkan persepsi yang ia miliki atas pemandangan yang terhampar di depannya.

BACA JUGA: Latihan Menulis, Mulai dengan Kalimat Sederhana

Lalu, bagaimana dengan kisah paha di balik sarung yang menjadi judul buku ini?

Menurut saya, Anda sebaiknya mengunduh langsung secara gratis buku Malaysia dan Kisah Paha di Balik Sarung. Tautan unduhannya tersedia di sini.

Malaysia dan Kisah Paha di Balik Sarung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *