Lingkaran Konsentris, Upaya Hasilkan Akurasi

Akurasi dalam berita merupakan sebuah hal yang wajib dipenuhi. Hingga kemudian, David Protess memperkenalkan Teori Lingkaran Konsentris, dalam melakukan wawancara. Bagaimana dua hal itu menemukan keterkaitan?

Jawaban atas pertanyaan tersebut merupakan isi dari artikel ini. Pembahasan akan dimulai dari akurasi berita.

BACA JUGA: Judul Menarik, Perhatikan Kata Kunci dan Pendek

Berita merupakan upaya penyampaian kembali sebuah fakta. Berita yang baik adalah berita yang mampu menyampaikan informasi semirip mungkin, dengan fakta yang terjadi. Penyebutan semirip mungkin karena berita yang melakukan rekonstruksi 100 persen sama dengan fakta sebenarnya, sangat sulit dilakukan.

Salah satu faktornya karena tenggat waktu pembuatan berita, yang wajib dipenuhi setiap reporter. Sehingga, dengan waktu yang terbatas, reporter harus merekonstruksi fakta semirip mungkin dengan aslinya, saat membuat berita.

Dengan alasan tersebut, profesionalitas seorang reporter akan selalu diuji, dengan seberapa akurat berita yang dibuat. Ujian itu akan sangat berpengaruh terhadap tingkat kepercayaan pembaca, pendengar, maupun penonton.

Karena itu, pers umumnya memiliki sistem cek dan ricek, untuk memastikan kevalidan data dalam berita. Di pers barat, tugas itu menjadi tanggung jawab seorang fact checker.

Meski begitu, penanggung jawab pertama terkait akurasi berita tetap berada di tangan seorang reporter.

Teori Lingkaran Konsentris

Salah satu metode pengumpulan bahan berita adalah wawancara. Bahkan bisa dikatakan, sebagian besar berita dibuat berdasarkan wawancara, dibandingkan bahan berupa dokumen. Dan pada kenyataannya, bahan berupa dokumen kerap masih harus dikonfirmasi kepada pembuat dokumen, atau orang-orang yang terkait dengan dokumen tersebut, melalui wawancara.

Karena memegang peran penting, wawancara tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Termasuk, pemilihan narasumber yang akan diwawancarai. Sebab, pemilihan narasumber yang tepat turut menentukan akurasi sebuah berita.

Untuk mendapatkan narasumber yang sesuai, David Protess memperkenalkan Teori Lingkaran Konsentris. Riwayat singkat tentang David Protess akan disampaikan di akhir artikel ini.

Pada Teori Lingkaran Konsentris, David Protess membuat sebuah lingkaran. Di dalamnya, sebuah lingkaran dibuat lagi. Dan untuk ketiga kali, sebuah lingkaran dibuat kembali di dalam lingkaran kedua. Sehingga, ada tiga lingkaran yang dibuat.

Ketiga lingkaran itu menunjukkan posisi kepentingan seorang narasumber dengan suatu fakta. Narasumber yang berada di lingkaran paling dalam, merupakan narasumber paling penting. Narasumber di lingkaran pertama adalah narasumber yang berhubungan langsung dengan fakta, misalnya korban, pelaku, atau saksi mata.

BACA JUGA: 7 Kesalahan Penulisan, Mubazir Kata

Narasumber yang berada di lingkaran kedua adalah narasumber yang tidak berhubungan langsung dengan fakta, tetapi masih memiliki keterkaitan dengan fakta. Misalnya, petugas pemadam kebakaran, polisi, atau pengelola lalu lintas pelayaran laut. Narasumber di lingkaran kedua biasanya memiliki catatan kronologis fakta.

Adapun, narasumber atau sumber di lingkaran ketiga, meski tidak berhubungan langsung dan memiliki keterkaitan dengan fakta, mengetahui kronologis fakta. Misalnya, laporan-laporan mengenai peristiwa yang telah tersebar.

Untuk memudahkan penjabaran tentang posisi penting seorang narasumber dalam Teori Lingkaran Konsentris, saya coba membuat ilustrasi pada permainan pesan berantai, yang pernah saya mainkan saat SD.

Pada permainan tersebut, misalnya, ada lima siswa berdiri sejajar. Oleh guru, siswa pertama akan diperlihatkan sebuah kalimat. Isi kalimat itu, contohnya, keledai makan kedelai di kedai.

Siswa pertama kemudian membisikkan kalimat itu ke orang kedua dalam waktu lima detik. Orang kedua membisikkan kalimat yang sama ke orang ketiga dalam waktu yang serupa, dan begitu seterusnya sampai orang terakhir.

Hingga kemudian, orang terakhir diminta untuk menyampaikan pesan yang ia terima. Ia pun berucap, “kedelai makan keledai di kedai.” Terkadang malah, pesan yang diucapkan tidak selengkap itu. Padahal, pesan pertama adalah keledai makan kedelai di kedai.

Permainan pesan berantai memberikan pelajaran bahwa gangguan dalam komunikasi memiliki peluang terjadi. Sehingga, hal itu mampu menimbulkan distorsi informasi. Salah satu cara untuk menghindari distorsi informasi adalah mendapatkan pesan langsung dari si penyampai pesan pertama.

Karena itu, dalam Teori Lingkaran Konsentris, narasumber dalam lingkaran terdalam memiliki peran sangat penting. Hal itu bertujuan untuk meminimalisasi peluang distorsi informasi. Sehingga, berita yang disampaikan memiliki persentase keakuratan tinggi dengan fakta sebenarnya.

Simulasi Peristiwa

Umumnya, contoh penggunaan Teori Lingkaran Konsentris diberikan dengan fakta peristiwa sebuah kecelakaan. Misalnya, kecelakaan kereta menabrak mobil. Untuk bisa mendapatkan penggambaran peristiwa kecelakaan secara detail, dan fakta yang sebenarnya, seorang reporter wajib mendapatkan informasi dari beberapa narasumber utama.

Merujuk Teori Lingkaran Konsentris, narasumber utama, yang berkaitan langsung dengan peristiwa tersebut, terbagi menjadi tiga kelompok. Pertama, masinis atau penumpang kereta. Kedua, sopir atau penumpang mobil. Ketiga, saksi mata yang melihat langsung kejadian.

Masinis atau penumpang kereta diperlukan untuk memberikan keterangan, mengenai hal-hal seputar perjalanan kereta, hingga mengalami kecelakaan. Narasumber tersebut pun bisa memberikan penggambaran suasana di dalam kereta, ketika terjadi kecelakaan.

Saya sebut masinis atau penumpang karena ada kemungkinan, satu di antara keduanya tidak bisa memberikan keterangan. Misalnya, masinis langsung tewas di tempat kecelakaan. Atau, penumpang tertidur sejak dari stasiun sampai terjadi kecelakaan. Sehingga, ia tidak bisa menjelaskan kronologi peristiwa.

Karena itu, reporter harus jeli dalam memilih keterangan narasumber. Sekali lagi saya katakan, keterangan narasumber, bukan narasumbernya. Dengan catatan, reporter sudah menemukan narasumber yang memang berada di lingkaran terdalam, merujuk Teori Lingkaran Konsentris, di mana dalam contoh ini adalah penumpang kereta.

Maksudnya seperti ini, dalam kejadian tersebut, reporter, sebagai orang yang baru datang ke lokasi peristiwa, tentu tidak tahu mana penumpang kereta yang mampu memberikan keterangan detail, dan mana yang tidak. Karena itu, reporter harus mencoba mewawancarai beberapa penumpang kereta.

Setelah itu, reporter baru menentukan narasumber mana yang menjadi prioritas, supaya keterangannya dikutip. Sementara, keterangan narasumber lainnya yang dianggap tidak detail, cukup menjadi pendukung keterangan narasumber utama.

Hal serupa juga dilakukan pada narasumber kelompok kedua, yaitu antara sopir atau penumpang mobil. Serta, narasumber kelompok ketiga, yakni saksi mata yang melihat langsung kejadian.

Mungkin muncul pertanyaan, kenapa reporter harus mengambil keterangan dari ketiga kelompok narasumber tersebut? Bukankah keterangan saksi mata sudah cukup untuk memberikan penggambaran peristiwa yang terjadi?

Jawabannya sederhananya, sekali lagi, supaya berita yang disampaikan lebih akurat.

BACA JUGA: Ini Beda Jurnalis dan Reporter

Saksi mata yang melihat langsung kejadian mungkin bisa berkata, “Jalan yang mengalami persimpangan dengan rel kereta tersebut, memang tidak memiliki pintu kereta. Di sore itu, kereta melintas cepat dari timur menuju barat. Suara peluit terdengar kencang seiring laju kereta. Meski begitu, satu unit mobil tetap berjalan dari selatan menuju utara. Hingga kemudian, mobil tersebut terpental setelah tertabrak kereta.”

Secara runut, saksi mata yang melihat langsung memang sudah bisa menceritakan kronologi peristiwa. Meski begitu, pemaparannya belum mendalam. Sehingga, fakta yang muncul, jika diibaratkan, baru sebatas kulit luar. Sementara, faktor penyebab kecelakaan belum terjawab.

Karena itu, reporter harus mewawancarai dua kelompok narasumber lain seperti disebut di atas. Hal itu karena, walaupun terpisah, masinis, sopir, maupun penumpang kedua kendaraan tersebut, diharapkan bisa memberikan fakta lebih mendalam. Sehingga, berita yang disampaikan tidak sekadar “menyampaikan” peristiwa kecelakaan, tetapi juga “memaparkan” peristiwa sedetail-detailnya.

Jika ternyata, misalnya, seluruh narasumber utama dalam peristiwa itu tidak bisa dikonfirmasi, maka seperti dalam Teori Lingkaran Konsentris, reporter harus segera mulai mencari narasumber di lingkaran kedua.

Pun halnya, narasumber di lingkaran kedua tidak ada yang bisa diwawancarai, reporter harus beralih ke narasumber di lingkaran ketiga.

Sekilas David Protess

David Protess merupakan seorang profesor di Medill School of Journalism di Northwestern University, Amerika Serikat.

Merujuk laman American Press Institute, Protess juga tercatat sebagai direktur di Medill Innocence Project. Di tempat itu, bersama mahasiswanya, ia telah berhasil mengeluarkan 12 narapidana, yang sebenarnya tidak bersalah.

Protess menggunakan kasus-kasus tersebut sebagai pendekatan, saat mengajarkan mahasiswa jurnalistik, tentang kepentingan melakukan verifikasi fakta.

BACA JUGA: 6 Nilai Berita, Penerapan dan Sejarah Kemunculan

Setiap tahun, David Protess menerima ribuan surat dari orang yang telah dijatuhi vonis, namun mengaku bahwa mereka tidak bersalah. Protess memilih secara hati-hati surat-surat tersebut, dan menugaskan mahasiswanya untuk melakukan penelusuran.

“Mungkin, cara terbaik untuk memahami metode saya, yang saya berikan ke mahasiswa saya saat mereka masuk ke kelas,” Protess menjelaskan dalam sebuah wawancara. “Saya menggambar satu set lingkaran konsentris di papan tulis. Lingkaran paling luar adalah dokumen sumber kedua. Lingkaran di dalamnya adalah dokumen sumber utama. Lingkaran ketiga adalah orang yang sebenarnya, saksi mata. Dan di lingkaran terdalam itu, saya menyebutnya target.”

lingkaran konsentris

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *