Komunikasi Populer dan Bahasan Menulis Buku

Buku Komunikasi Populer, Kajian Komunikasi dan Budaya Kontemporer diterbitkan oleh Pustaka Bani Quraisy pada Agustus 2004. Dalam kata pengantarnya, penulis buku, Prof Dr Deddy Mulyana MA menyampaikan, isi buku tersebut beraneka ragam. Tetapi, kebanyakan tulisan dalam buku itu masih memperlihatkan benang merah, yakni tulisan-tulisan yang membahas berbagai aspek komunikasi, yang bersifat omnipresent (hadir di mana-mana).

Buku Komunikasi Populer, Kajian Komunikasi dan Budaya Kontemporer merupakan bunga rampai, yang sebagian isinya merupakan makalah-makalah yang pernah disajikan Deddy Mulyana, dalam berbagai forum ilmiah tingkat lokal, nasional, dan internasional. Sejumlah tulisan lain dalam buku tersebut pernah dimuat di media cetak di Indonesia serta beberapa jurnal ilmiah.

BACA JUGA: Belajar Menulis dengan Membaca Novel

Deddy Mulyana merupakan Guru Besar Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Pria kelahiran Bandung, 28 Januari 1958 itu juga pernah mengajar di beberapa perguruan tinggi dalam negeri, dan menjadi dosen tamu di beberapa perguruan tinggi luar negeri. Deddy Mulyana pun dikenal sebagai penulis produktif yang telah menghasilkan banyak artikel populer dan ilmiah, cerpen, cerita bersambung untuk anak-anak, puisi, dan buku.

Buku Komunikasi Populer, Kajian Komunikasi dan Budaya Kontemporer berisi 36 artikel. Artikel-artikel tersebut dikelompokkan dalam tiga bagian.

Bagian pertama membahas komunikasi politik, komunikasi organisasi, dan komunikasi sosial. Pada bagian pertama tersebut, ada 10 judul artikel, yaitu:

  1. Kejayaan dan Kejatuhan Soekarno
  2. Membedah Gaya Komunikasi Gus Dur
  3. Pencitraan Capres dan Cawapres
  4. Dendam yang Tertunaikan
  5. Teroris
  6. Membangun Birokrasi di Indonesia
  7. Merancang Peran Baru Humas dalam Pengembangan Otonomi Daerah
  8. Mempersiapkan Para Jurnalis untuk Menyongsong Era Global
  9. Menyosialisasikan Pangan Alternatif: Suatu Pendekatan Komunikasi
  10. How Indonesian Can Contribute to the Development of Communication Theories

Bagian kedua buku Komunikasi Populer, Kajian Komunikasi dan Budaya Kontemporer mengenai komunikasi massa dan budaya populer. Bagian kedua berisi 12 judul artikel, yaitu:

  1. Ritualisme Piala Dunia 2002
  2. Dialektika antara Film dan Budaya Bangsa
  3. Peran Ideal Pers dalam Era Transisi Demokrasi di Indonesia
  4. Peran Pers Lokal dalam Kehidupan Masyarakat Multibudaya
  5. Peluang dan Tantangan TVRI
  6. Prospek Surat Kabar dalam Kepungan TV Swasta di Indonesia
  7. Teori Penjulukan, Pers dan Konstruksi Sosial Realitas
  8. Peran Teknologi Komunikasi dalam Komunikasi Politik Domestik dan Internasional
  9. Menulis Buku: Kendala dan Prospek
  10. Intergroup Labelling in Indonesia
  11. Freedom of Speech: Indonesia Vs Amerika
  12. Globalizing Indonesia Through Television

komunikasi populer

Pada bagian ketiga, ada 14 judul artikel. Bagian ketiga membahas komunikasi lintas budaya dan catatan pengembaraan. Ke-14 judul artikel tersebut, yakni:

  1. Memahami Etika Komunikasi Bisnis dalam Era Global
  2. Komunikasi Nonverbal Orang Jerman
  3. Orang Jerman: Disiplin atau Kaku?
  4. Panduan Buang Hajat pun Sangat Rinci
  5. Suatu Musim Panas di Ceko
  6. Mengunjungi Kota Salzburg
  7. Pengunjung Pertama Australia: Orang-orang Makassar
  8. Kaum Revolusioner Indonesia di Australia
  9. Orang Jawa di Australia
  10. Komunikasi antara Orang Indonesia dan Orang Australia di Melbourne
  11. Menemukan Tuhan di Perantauan
  12. “Mengindonesia” sebagai Transformasi Kesadaran
  13. The Role of the Intercultural Person in Overcoming Intercultural Misunderstanding
  14. The Multiplicity of Ethnic Identities: Indonesians in Melbourne

 

Sebagaimana terlihat dari 36 judul dalam buku Komunikasi Populer, Kajian Komunikasi dan Budaya Kontemporer, ada 1 artikel yang membahas tentang menulis buku. Artikel itu berjudul Menulis Buku: Kendala dan Prospek.

Deddy Mulyana mengawali artikel tersebut dengan menyampaikan jumlah buku yang terbit di sejumlah negara. Mengutip artikel Lestari HN yang dimuat di Kompas pada 31 Mei 1997, Deddy menerangkan, jumlah buku yang terbit di Jepang sebanyak 44 ribu judul setiap tahun, Amerika Serikat (100 ribu judul per tahun), serta Inggris (61 ribu judul per tahun). Sementara, jumlah buku yang terbit di Indonesia sebanyak 2.500 judul setiap tahun.

Kondisi tersebut, menurut Deddy Mulyana, merupakan indikasi rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Penyebabnya antara lain fakta bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa berbudaya lisan, yang kurang tertarik pada kegiatan membaca dan tulis menulis.

Selanjutnya, Deddy Mulyana menulis, sedikitnya jumlah buku yang terbit di Indonesia, sebenarnya mengisyaratkan betapa rendahnya minat baca di kalangan masyarakat Indonesia, yang pada gilirannya, juga mengisyaratkan sedikitnya jumlah penulis buku di negara kita. Korelasinya, semakin tinggi minat baca di kalangan masyarakat, semakin banyak penulis buku, dan semakin rendah minat baca di kalangan masyarakat, semakin sedikit jumlah penulis buku. Sebab pada umumnya, orang tidak akan tergerak untuk menulis buku bila mereka sendiri tidak gemar membaca buku.

Selain minat baca rendah, ada beberapa penyebab lain jumlah penulis buku sedikit. Pertama, imbalan penulis buku yang kurang.

Akibatnya, Deddy Mulyana menerangkan, banyak buku yang terbit merupakan kumpulan tulisan lepas, yang telah disunting dan diperbarui, yang aslinya telah diterbitkan di media massa atau makalah seminar. Sebab, sebagian besar, kalaupun tidak semua, dari tulisan-tulisan itu telah diberi imbalan.

Faktor kedua penyebab jumlah penulis buku sedikit adalah iklim komunikasi yang kurang demokratis dalam keluarga dan di lembaga pendidikan. Deddy menuturkan, pendidikan di negara kita pada umumnya berlangsung satu arah. Murid harus sepenuhnya patuh pada guru, dan memahami pelajaran sebagaimana guru itu memahaminya.

Iklim pengajaran yang kaku, “otoriter”, dan paternalistik (untuk tidak mengatakan feodalistik), adalah juga hambatan terhadap pemupukan minat baca dan menulis buku. Bila suasana di rumah ternyata sama seperti di sekolah, dalam arti bahwa anak-anak tidak diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri mereka, maka sifat masa bodoh anak akan semakin berkembang hingga mereka dewasa.

telunjukjempol.com

Untuk menumbuhkan minat baca anak, yang pada gilirannya juga minat menulis, Deddy Mulyana menuturkan, orangtua bukan saja perlu memberikan iklim yang demokratis atau terbuka, orangtua juga perlu memberikan contoh-contoh konkret yang bisa diidentifikasi dan diinternalisasikan anak. Sehingga, kegiatan membaca dan menulis tersebut menjadi bagian dari perilaku mereka yang alami, dan menjadi bagian dari kesadaran mereka, yakni bahwa membaca dan menulis adalah suatu kegiatan yang penting dalam kehidupan.

Sementara, faktor ketiga penyebab jumlah penulis buku sedikit karena mentalitas bangsa kita yang – menggunakan istilah Sudjoko – krocojiwa. Sikap itu menganggap bahwa apapun yang datang dari Barat, termasuk buku-buku yang sebenarnya tidak cocok untuk masyarakat karena muatan nilai yang permisif, adalah baik dan bagus.

Deddy Mulyana menuturkan, sebenarnya, penerjemahan buku-buku berbahasa asing ke dalam bahasa Indonesia itu positif, sejauh buku-buku yang diterjemahkan itu bermutu.

BACA JUGA: Malaysia dan Kisah Paha di Balik Sarung

Sebagai penutup artikelnya, Deddy Mulyana menulis, kurangnya minat baca dan minat menulis pada masyarakat kita merupakan masalah yang rumit. Berbagai usaha diperlukan, yang dilakukan keluarga, masyarakat, sekolah, dan pemerintah untuk meningkatkan minat-minat tersebut.

Sebagaimana diungkap di atas, tulisan dalam buku Komunikasi Populer, Kajian Komunikasi dan Budaya Kontemporer, membahas berbagai aspek komunikasi yang bersifat omnipresent. Hal itu menjadikan buku tersebut menjadi layak baca.

Komunikasi Populer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *