18 Kisah Inspiratif Meraih Sukses dari Lampung

“Melalui buku ini, banyak anak muda lainnya diharapkan termotivasi,” demikian tulis Senior Program Officer Skill to Succeed Project Save the Children International, Renvi Liasari dalam sekapur sirih buku berjudul Baju Baru dari Gadis Pemalu. Buku yang diterbitkan Indepth Publishing pada 2014 itu memuat 18 kisah inspiratif meraih sukses dari Lampung.

Sebanyak 18 kisah inspiratif tersebut dipilah dari ratusan peserta yang mengikuti Program Skill to Succeed di Lampung. Resensi buku ini akan memaparkan mengenai Program Skill to Succeed, kisah pelarian seorang ibu muda, kisah gadis yang menyingkirkan dunia malam, serta kisah remaja yang merawat adik penderita lupus, dan tentang para penulis.

Tentang para penulis perlu mendapat perhatian karena ternyata, keberadaan mereka justru menjadi faktor, yang membuat buku tersebut menjadi unik. Keunikan tersebut terasa saat membaca kisah demi kisah yang dihadirkan dalam buku Baju Baru dari Gadis Pemalu.

Program Skill to Succeed

Buku setebal 96 halaman itu diawali dengan sekapur sirih yang ditulis Senior Program Officer Skill to Succeed Project Save the Children International, Renvi Liasari. Renvi menjelaskan terkait Program Skill to Succeed.

Save the Children membuat program tersebut bersama Accenture dan tiga mitra mereka di Lampung dan Bandung. Adapun, mitra di Lampung adalah Yayasan Amanah Pendidik Insan Kamil (APIK).

Kisah Inspiratif

Program Skill to Succeed dilatarbelakangi kondisi banyaknya remaja putus sekolah yang tidak memiliki keterampilan, akses ke pelatihan keterampilan, maupun akses informasi lowongan pekerjaan. Renvi pun memperlihatkan data Badan Pusat Statistik (BPK) terkait angka pengangguran, untuk memperkuat latar belakang tersebut.

Program Skill to Succeed ditujukan buat remaja berusia 16 tahun-24 tahun, yang berada dalam kondisi rentan, yaitu putus sekolah, tamat sekolah tetapi belum bekerja, atau tamat sekolah tetapi tidak memiliki keahlian.

Renvi menjelaskan, program tersebut bertujuan mempersiapkan anak muda dengan bekal keterampilan sesuai minat dan bakat, serta menyelaraskan dengan peluang kerja dan usaha yang ada. Hal itu agar peserta program dapat segera terserap dalam pasar kerja dan usaha.

Di Lampung, sejak April 2013 hingga Juni 2014, Program Skill to Succeed telah memberikan layanan terhadap sekitar 600 remaja. Layanan tersebut berupa pelatihan kecakapan hidup (life skills training), pelatihan keterampilan (vocational training), magang, dan pelatihan kewirausahaan.

Pelarian Seorang Ibu Muda

Cerita seorang ibu muda berusia 19 tahun menjadi pembuka 18 kisah inspiratif meraih sukses dari Lampung, yang diberi judul Anakku, Semangatku. Namanya Sumiati. Tanpa alasan jelas, ia kerap menerima pukulan dari suaminya. Ia pun sering mendapat hinaan, caci maki, hingga pelecehan.

BACA JUGA: Fungsi Trotoar dan Menyelesaikan Persoalan PKL

Kondisi itu membuat Sumiati tak tahan dan berniat kabur. Niat itu ia realisasikan beberapa kali, ketika suaminya bekerja atau tak ada di rumah. Niat itu ia wujudkan sejak masih mengandung anak pertamanya. Tetapi, usahanya selalu gagal.

Hingga pada akhirnya, Sumiati berhasil kabur dengan membawa anaknya, Tiara. Ia hendak pulang ke rumah orangtuanya di Kangkung, Telukbetung Selatan, Bandar Lampung.

Dalam buku Baju Baru dari Gadis Pemalu, penulisnya tidak menjelaskan lokasi Sumiati, saat tinggal bersama suaminya. Narasi dalam buku tersebut hanya menjelaskan Sumiati berangkat ke Jakarta, sebelum ke Merak, Banten. Di Merak, ia mendapat pertolongan seorang ibu, yang memberikannya tempat tinggal sementara. Sampai kemudian, kakak sulungnya menjemput.

Setelah tinggal di rumah orangtuanya, Sumiati mendapat motivasi dari Abah Bedi, agar bangkit dari keterpurukan. Abah Bedi merupakan tokoh masyarakat setempat, sekaligus tetangga rumah orangtua Sumiati. Selain itu, Abah Bedi juga menjabat ketua forum komunitas di Yayasan APIK. Abah Bedi yang kemudian memperkenalkan dengan program Skill to Succeed.

Sumiati tertarik mengikuti pelatihan tata boga. Sebab, ia melihat anak-anak di lingkungannya menggemari penganan. Sumiati berpendapat, itu merupakan peluang buatnya mendapatkan penghasilan. Ia semakin semangat kala meniatkan uang yang didapatkan untuk membeli susu buat anaknya.

Sebanyak 11 orang yang tinggal di lingkungan sekitar rumah Abah Bedi, termasuk Sumiati, mengikuti pelatihan tata boga. Pelatihan berlangsung selama 10 hari pada Februari 2014. Setiap harinya, pelatihan dimulai pukul 10.00 Wib hingga pukul 14.00 Wib. Selain gratis, Sumiati diperbolehkan mengajak anaknya selama mengikuti pelatihan.

Para peserta diajarkan teknik membuat kue, pengemasan, hingga teknik pemasaran. Semua metode pembuatan kue yang diajarkan merupakan kue yang memerlukan modal kurang dari Rp50 ribu. Hal itu karena mempertimbangkan daya beli masyarakat setempat, yang bekerja sebagai nelayan dan buruh. Dengan modal minim tersebut, para peserta diharapkan bisa langsung berusaha, setelah pelatihan selesai.

Dalam pelatihan itu, Sumiati meminta diajarkan cara membuat tekwan. Menurutnya, pedagang tekwan belum ada di sekitar rumahnya. Usai pelatihan, bermodal Rp50 ribu, Sumiati langsung memulai usaha tekwannya. Untuk peralatan masak, Sumiati meminjam orangtuanya.

Sambil menjaga anaknya, Sumiati berdagang tekwan di depan rumahnya, mulai pukul 10.00 Wib sampai pukul 13.00 Wib. Jika dagangannya habis, ia bisa mendapat untung Rp40 ribu. Uang itu ia gunakan untuk makan bersama Tiara.

Sumiati tidak bisa berjualan lebih pagi. Sebab, ia harus berbagi dapur dengan anggota keluarga lainnya. Di dalam rumah berukuran 3×3 meterpersegi yang ia tempati, ada 15 orang yang tinggal, termasuk Sumiati dan anaknya.

Tak hanya menjual tekwan, untuk menambah penghasilan, Sumiati mulai memproduksi dan menjajakan kue. Karena tak punya peralatan untuk membuat kue, Sumiati memulai usaha bersama Ade, anak Abah Bedi. Ade menyiapkan peralatan, Sumiati membuat dan memasarkan kue. Kue-kue itu dititipkan ke warung-warung. Dari dua usaha itu, Sumiati bisa meraih penghasilan antara Rp45 ribu-Rp60 ribu per hari.

Jika Sumiati melarikan diri akibat kekerasan dalam rumah tangga, Lestari (17) harus bertahan hidup di antara lingkungan, yang sebagian besar penghuninya bekerja sebagai penjaja cinta. Kisah tentang Lestari merupakan kisah ketujuh, yang dituliskan dalam buku Baju Baru dari Gadis Pemalu. Adapun, lima judul kisah yang berada di antara kisah Lestari dan Sumiati, yaitu Amir, Mimpi, dan Ikan LeleDengan Salon, Kelak Kubawa Keluargaku PergiGitar Kecil dan Nyanyian HidupRepihan Mimpi; dan Menjahit Rongsokan Mimpi.

Gadis yang Menyingkirkan Dunia Malam

Dari 18 kisah inspiratif meraih sukses dari Lampung yang tertuang, kisah Lestari dipilih menjadi judul buku Baju Baru dari Gadis Pemalu. Meski begitu, penjelasan mengenai alasan pemilihan judul tersebut tak diungkapkan dalam buku.

Kisah Lestari diawali dengan penggambaran suasana tempat tinggalnya, yang bergeliat saat malam. Ada sekitar 50 kafe di sekitar rumah orangtua Lestari. Suara musik dan kebisingan selalu terdengar setiap malam hingga jelang Subuh. Dalam keadaan seperti itu, Lestari harus memaksakan diri buat tidur. Sebab, ia harus membantu ibunya berjualan nasi uduk sejak pukul 06.00 Wib.

Hasil jualan itu menjadi penyambung hidup keluarga Lestari. Sebab, ayahnya tak lagi peduli dengan nasib istri dan enam anaknya. Sebagai buruh harian lepas, ayahnya malah menghabiskan penghasilannya yang tak menentu untuk mabuk-mabukan.

Pada Juli 2012 hingga Agustus 2012, Lestari mengikuti Program Skill to Succeed. Ia menjalani pelatihan cara membuat dan mengolah keripik, bakso, dan abon yang terbuat dari singkong, pisang, lele, ataupun nangka. Program pelatihan berlangsung di Jurusan Teknologi Hasil Pertanian (THP) Fakultas Pertanian (FP) Universitas Lampung (Unila).

Lestari mengaku tidak pernah membayangkan bisa datang ke kompleks kampus negeri itu. Apalagi, rumahnya jauh dari tempat tersebut. Maka, ia berusaha memanfaatkan sebaik mungkin pelatihan yang ia dapat.

Pelatihan tata boga berlangsung sebanyak 12 kali pertemuan setiap Sabtu dan Minggu, sejak pukul 08.00 Wib hingga pukul 12.00 Wib. Dalam pelatihan itu, Lestari dan 29 peserta lainnya diminta memasarkan keripik yang dibuat. Sehingga, para peserta bisa langsung belajar pemasaran, selain cara membuat keripik.

Usai pelatihan, Lestari bersama tujuh temannya membuat kelompok usaha bersama (kube) bernama Long City. Modal awal berasal dari iuran anggota kelompok dan hasil berjualan saat pelatihan. Total modal sebesar Rp315 ribu. Yayasan APIK membantu memberikan sebuah sealer atau perekat plastik.

Setiap hari, kelompok itu memproduksi 100 bungkus keripik rasa cokelat, gurih, dan strawberi. Setiap bungkus berisi 100 gram. Sementara, harga per bungkus Rp5 ribu. Keripik ditawarkan ke kafe dan toko makanan. Saban minggu, setiap anggota kelompok bisa mendapatkan Rp30 ribu.

Keberadaan kelompok itu tak berlangsung lama. Kube Long City bubar karena masing-masing anggotanya sibuk. Lestari pun menjadi karyawan di toko makanan, yang pernah ia jajakan keripik. Meski begitu, ia tetap membuat keripik. Walaupun, hal itu ia lakukan sendiri, tidak lagi bersama kelompoknya.

Dari penghasilannya bekerja dan berjualan keripik, Lestari menabung Rp10 ribu setiap hari. Ia juga bisa membeli baju baru buat dirinya, ibunya, dan adiknya.

Kisah Lestari terasa “menggantung” apabila dihubungkan dengan pemilihan judul. Sebab, penjelasan mengenai membeli baju baru hanya muncul di kalimat terakhir. Dan, itu menjadi satu-satunya penjelasan yang muncul. Hal tersebut membuat judul dan paparan dalam cerita terasa tidak memiliki kesesuaian.

Setelah cerita kehidupan Lestari, ada 10 kisah inspiratif meraih sukses dari Lampung lainnya dalam buku Baju Baru dari Gadis Pemalu. Kesepuluh kisah itu berjudul Never Give Up!Man Jadda Wa JaddaIbu, Maafkan AkuMotor Baru untuk Mamak dan BapakMendapatkan Pekerjaan ImpianServis Skill untuk Memperbaiki HidupI Want to Change My FateRumah dan Tanah untuk IbuNisa dan Secercah Asa; serta Buruh Bangunan Masuk Restoran. Adapun, kisah terakhir dalam buku Baju Baru dari Gadis Pemalu berjudul Buah Penantian Oji.

Remaja yang Merawat Adik Penderita Lupus

Namanya Muhammad Al Fajri, biasa disapa Oji. Sejak ayahnya meninggal saat ia berusia 16 tahun, seluruh anggota keluarganya saling menopang guna memenuhi kebutuhan hidup.

Ibunya yang tadinya seorang ibu rumah tangga, bekerja sebagai office girl. Kakak pertamanya bekerja di perusahaan tempat ayahnya bekerja dulu. Kakak keduanya bekerja sebagai keamanan di sebuah perumahan. Sementara, Oji yang merupakan anak ketiga, dan dua adiknya masih sekolah.

Jumlah gaji ketiga orang yang bekerja sebesar Rp2,9 juta. Jumlah itu masih jauh dari harapan hidup sejahtera. Apalagi, adik Oji yang merupakan satu-satunya anak perempuan, menderita penyakit lupus sejak bangku SMP. Tentu saja, biaya untuk menebus obat tak sedikit. Termasuk apabila, adik Oji menjalani rawat inap di rumah sakit.

Oji sebenarnya sempat kuliah. Ia mendapat beasiswa buat anak yatim. Walaupun mendapat beasiswa, Oji masih harus menanggung biaya lain, mulai dari fotokopi modul, buku, biaya praktik, dan beberapa kebutuhan lain. Karena tak mampu menanggung biaya-biaya tersebut, Oji memutuskan berhenti kuliah pada semester tiga. Ia pun mulai bekerja serabutan guna membantu perekenomian keluarga.

Hingga kemudian, Oji mengikuti Program Skill to Succeed. Oji mengikuti pelatihan komputer dengan jurusan desain grafis. Untuk mengikuti pelatihan yang berlangsung di Balai Latihan Kerja (BLK) tersebut, Oji rela berjalan sejauh 1,5 kilometer (km). Sebab, ia tak memiliki kendaraan maupun uang untuk ongkos menumpang angkutan kota.

Oji juga tak memiliki komputer jinjing atau laptop di rumahnya. Sehingga, ia tak bisa mengulang pelajaran yang ia dapatkan saat pelatihan. Ketika berada di rumah, ia hanya membaca-baca modul. Ia beruntung jika ada temannya yang memiliki laptop, datang ke rumahnya. Sehingga, ia bisa meminjam laptop buat belajar.

Selepas pelatihan di BLK, Oji mengikuti pelatihan komputer di Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Araycom. Di tempat itu, Oji belajar Corel Draw dan Photoshop. Setelah itu, di tempat yang berbeda, Oji belajar Autocad. Sampai kemudian, Oji diterima bekerja di sebuah perusahaan konsultan di Bandar Lampung pada Januari 2014.

Ia menerima upah Rp1 juta per bulan. Uang tersebut tidaklah besar. Tetapi, Oji tetap bersyukur. Sebab, ia bisa membantu perekonomian keluarga. Ia pun masih menyimpan mimpinya untuk bisa melanjutkan kuliah, dan membiayai pengobatan adiknya.

Tentang Penulis Kisah Inspiratif Meraih Sukses dari Lampung

Hal unik dari buku Baju Baru dari Gadis Pemalu adalah para penulis yang terlibat. Ada 14 penulis yang terlibat dalam pembuatan buku tersebut. Biografi singkat mengenai para penulis tersebut tercantum di beberapa halaman akhir buku.

Para penulis tersebut adalah pendamping peserta Program Skill to Succeed. Setiap peserta memiliki satu pendamping, yang akan terus mengawasi dan memberikan motivasi kepada peserta. Sementara, setiap pendamping bisa memiliki lebih dari satu peserta yang didampingi.

Para pendamping tersebut bersifat melekat. Dalam arti, mereka mengetahui secara detail pribadi orang yang didampingi. Sebab, para pendamping tersebut memiliki tujuan untuk mengubah kondisi yang sedang dialami peserta, untuk menjadi lebih baik setelah mengikuti Program Skill to Succeed.

“Kondisi mereka (peserta skill to succeed) yang kurang beruntung menjadikan mereka sosok yang pemalu, rendah diri, ataupun merasa tidak berarti. Namun di balik itu semua, ternyata mereka semua juga punya mimpi. Mimpi yang menanti untuk diwujudkan. Dan tentu saja, dengan dukungan orang-orang yang peduli,” tulis Renvi dalam sekapur sirih buku Baju Baru dari Gadis Pemalu.

BACA JUGA: 6 Nilai Berita, Penerapan dan Sejarah Kemunculan

Karena setiap kisah dalam buku tersebut dibuat orang yang berbeda, gaya menulis yang dilakukan pun beragam. Hal itu membuat penuturan setiap kisah dalam buku Baju Baru dari Gadis Pemalu terasa lebih variatif, tidak monoton pada satu gaya menulis.

Meski begitu, kekurangakuratan masih terdapat pada beberapa kisah. Satu di antaranya tampak pada kisah berjudul Anakku, Semangatku yang telah dijelaskan di atas. Kekurangakuratan tentunya membuat pembacaan menjadi kurang nyaman.

Terlepas dari itu, cerita-cerita yang dihadirkan mampu memberikan gambaran perjuangan para remaja yang, sebagaimana dikatakan Renvi, merasa tidak berarti, mampu mewujudkan mimpi mereka. Cerita mereka merupakan kisah inspiratif meraih sukses dari Lampung, yang bisa dijadikan contoh.

Kisah Inspiratif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *