Kesalahan Penggunaan Kata Jika

Posted on Istilah 452

Kesalahan penggunaan kata bisa berimbas pada penerjemahan makna kalimat.

Isi pesan dalam kalimat dapat menjadi bias. Bahkan mungkin, isi pesan sama sekali tak dimengerti pembaca.

Kesalahan penggunaan kata

Padahal, penulisan kalimat bertujuan utama untuk menyampaikan pesan.

Karena alasan tersebut, kesalahan penggunaan kata sebisa mungkin harus dihindari.

Pada artikel kali ini, saya memfokuskan pada penggunaan kata “jika”. Saya akan memulai pembahasan kata “jika” melalui contoh kalimat di bawah ini.

Punya ratusan kaset, Aulia mengakui jika dirinya senang mengoleksi barang kuno.

Sepintas, kalimat tersebut tampak sudah benar. Ada beberapa hal yang membuat kalimat itu seolah-olah telah benar.

BACA JUGA: 5 Jenis Karangan dari 4 Referensi

Pertama, satu atau beberapa kata dalam kalimat luput terbaca. Sehingga secara tidak sengaja, pembaca mendapat isi pesan yang sesungguhnya.

Kedua, otak pembaca memberi kesimpulan isi pesan lebih dahulu, sebelum seluruh kalimat selesai dibaca. Padahal, kesimpulan tersebut belum tentu sesuai dengan kalimat yang tertera.

Ketiga, pemaknaan kata yang salah. Tetapi, hal itu justru membuat isi pesan seolah benar.

Buat hal pertama dan kedua, menurut saya, penyelesaiannya cukup dengan membaca lebih teliti.

Sementara buat hal ketiga, solusinya hanya bisa melalui penafsiran kata menurut arti sesungguhnya.

Jika Berarti Pengandaian

Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “jika” merupakan kata penghubung untuk menandai syarat atau janji. Arti kata “jika” serupa dengan kata “kalau”.

Dalam KBBI, kata “kalau” berarti kata penghubung untuk menandai syarat. Arti kedua kata “kalau” adalah seandainya.

Sementara, arti ketiga kata “kalau” bermakna bagi atau adapun.

Khusus buat arti ketiga kata “kalau”, saya secara pribadi kurang sepakat. Sebab, arti tersebut memiliki makna yang sangat berbeda dibanding dua arti lainnya.

Kesimpulan saya, kata “jika” dan “kalau” merujuk pada sebuah hal yang belum terjadi atau belum dilakukan, baik berupa syarat maupun pengandaian.

Penggunaan kata “jika” pada kalimat yang berarti syarat, misalnya:

Susi boleh masuk bioskop jika memiliki tiket.

Kalimat tersebut menunjukkan Susi belum masuk bioskop. Supaya bisa masuk bioskop, Susi harus memiliki tiket.

Sementara, penggunaan kata “jika” pada kalimat yang berarti pengandaian, misalnya:

Jika dapat bonus Rp 500 juta, Bobi akan berlibur ke Inggris.

Kalimat itu memperlihatkan Bobi belum mendapat bonus. Sehingga, rencana Bobi berlibur ke Inggris masih berupa pengandaian.

BACA JUGA: 6 Nilai Berita, Penerapan dan Sejarah Kemunculan

Setelah mengetahui arti kata “jika”, saya ingin mengajak pembaca kembali ke contoh kalimat pertama.

Kalimat itu bertuliskan, “Punya ratusan kaset, Aulia mengakui jika dirinya senang mengoleksi barang kuno.”

Kata “jika” dalam kalimat tersebut tidak memenuhi unsur sebagai syarat maupun pengandaian. Hal itu karena Aulia sudah mempunyai ratusan kaset.

Sedangkan, kata “jika” dan “kalau” merujuk pada sebuah hal yang belum terjadi atau belum dilakukan, baik berupa syarat maupun pengandaian.

Penempatan kata “jika” dalam kalimat itu justru membuat isi pesan menjadi janggal. Kesalahan penggunaan kata menimbulkan kerancuan makna pada kalimat.

Jika diartikan, Aulia punya ratusan kaset. Akibat hal itu, Aulia baru akan merasa senang di masa mendatang. Atau dengan kata lain, rasa senang Aulia belum terwujud.

Kehadiran kata “jika” membuat ide pokok kalimat itu menjadi tidak jelas. Padahal, satu buah kalimat seharusnya mampu mewakili satu ide pokok.

Bahwa Menyatakan Isi

Supaya isi pesan menjadi benar, penempatan kata “jika” sudah seharusnya diganti. Karena, penempatan kata itu tidak tepat.

Melihat kalimat yang tertera, pengganti kata “jika” seharusnya kata yang memiliki arti menyatakan.

Maka, kata pengganti yang tepat adalah kata “bahwa”.

Merujuk KBBI, kata “bahwa” memiliki arti kata penghubung untuk menyatakan isi atau uraian bagian kalimat yang di depan.

Arti berikutnya kata “bahwa” adalah kata penghubung untuk mendahului anak kalimat yang menjadi pokok kalimat.

Maka, kalimatnya akan berbunyi, “Punya ratusan kaset, Aulia mengakui bahwa dirinya senang mengoleksi barang kuno.”

Dalam beberapa kasus yang saya temui, penggunaan kata “bahwa” dan “jika” atau “kalau” kerap tertukar.

BACA JUGA: Teknik Menulis Deskripsi, Berlatih dengan Mata

Kata “jika” kerap digunakan untuk menggantikan kata “bahwa”. Seolah-olah, kata “bahwa” dan “jika” memiliki arti yang sama.

Padahal, kedua kata itu memiliki makna yang bertolak belakang. Meski begitu, kesalahan penggunaan kata-kata itu masih sering terjadi.

kesalahan penggunaan kata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *