Kesalahan Menulis Akibat Deiksis

Kesalahan menulis bisa berupa kekurangan, kelebihan, atau kekeliruan saat menulis sebuah kata. Misalnya, kata “aktivis” ditulis menjadi “aktvis” (kurang), “aktivisi” (lebih), atau “aktifis” (keliru).

Selain itu, kesalahan menulis juga bisa terjadi karena kekeliruan menempatkan kata dalam kalimat. Akibat kesalahan itu, pesan yang dimaksud penulis, dapat diartikan berbeda oleh pembaca.

Beberapa kesalahan menulis karena kekeliruan penempatan kata, ada yang mudah ditemukan. Biasanya, itu terjadi pada kata yang memiliki arti atau makna jelas.

BACA JUGA: Belajar Menulis dengan Membaca Novel

Misalnya, sebuah kalimat tertulis, “Bapak atau ibu membuat kue bersama.”

Kata “atau” dalam contoh di atas menjadi tak tepat karena tidak berkesesuaian dengan kata “bersama”, yang ada dalam satu kalimat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, kata “atau” berarti kata penghubung untuk menandai pilihan di antara beberapa hal. Sementara, kata “bersama” menunjukkan keserentakan yang dilakukan beberapa subjek.

Sehingga, supaya kalimat pada contoh di atas menjadi tepat, kata “atau” harus diganti kata “dan”. Dalam KBBI Daring, kata “dan” berarti penghubung satuan bahasa (kata, frasa, klausa, dan kalimat) yang setara, yang termasuk tipe yang sama, serta memiliki fungsi yang tidak berbeda.

Karena mudah ditemukan, kesalahan menulis akibat kekeliruan penempatan kata, yang memiliki makna jelas, lebih gampang buat diperbaiki.

Tetapi, beberapa kesalahan menulis karena kekeliruan penempatan kata lainnya, terjadi karena makna kata yang ambigu. Perbaikan kesalahan menulis tersebut biasanya lebih sulit karena terkadang, penulis tidak sadar bahwa ia telah menempatkan kata yang tidak tepat, dalam sebuah kalimat.

Padahal, kondisi itu bisa berdampak buruk pada penafsiran pembaca terhadap isi pesan, yang tertulis dalam kalimat. Sangat mungkin, pembaca memiliki tafsir berbeda dengan maksud penulis.

Deiksis Itu…

Merujuk Abdul Chaer dalam buku Kesantunan Berbahasa, deiksis adalah kata atau kata-kata yang rujukannya tidak tetap. Kata-kata yang bisa mengalami deiksis adalah kata-kata yang menyatakan waktu, menyatakan tempat, dan berupa kata ganti.

Dalam penjelasannya, Abdul Chaer memberikan tiga contoh. Pada contoh pertama, ia menulis kalimat, “Sebagai saksi, dia akan diperiksa besok.”

Kata “besok” merupakan deiksis. Karena kalau sekarang hari Senin, besok berarti hari Selasa. Kalau sekarang hari Selasa, besok berarti hari Rabu. Pengulangan demikian pun akan terjadi pada hari-hari berikutnya.

model wawancara dalam reportase

Untuk menghindari deiksis, kata “besok” sebaiknya jangan digunakan. Lebih tepat, penyebutan dilakukan pada nama hari dan tanggalnya.

Pada contoh kedua, Abdul Chaer menuliskan sebuah percakapan. Percakapan telepon tersebut terjadi antara A di Rawamangun dan B di Kebayoran. Berikut, percakapan kedua orang tersebut.

A: Saya tidak jadi pergi karena di sini hujan lebat dan banjir.

B: Wah, di sini tidak ada hujan.

Kata “di sini” pada kedua percakapan tersebut merupakan deiksis. Sebab, buat si A, di sini berarti di Rawamangun. Sementara buat si B, di sini berarti di Kebayoran.

Pada contoh terakhir, Abdul Chaer juga memberikan sebuah percakapan, yang terjadi antara C dan D di kampus.

C: Saya tidak bisa ujian karena belum bayar SPP.

D: Saya juga belum.

Kata “saya” pada contoh di atas juga merupakan deiksis. Sebab, kata saya pada ucapan C mengacu pada C. Sedangkan, kata saya pada ucapan D mengacu pada D.

Buku Kesantunan Berbahasa membahas bahasa tutur atau bahasa lisan. Meski begitu,  deiksis juga bisa terjadi pada bahasa tulis.

Untuk menghindari kesalahan menulis akibat deiksis, menurut saya, ada tiga hal yang perlu diperhatikan.

  1. Sebutkan Langsung

Poin pertama ini berhubungan dengan kata-kata yang menyatakan waktu. Jika pada contoh di atas, muncul kata “besok” sebagai deiksis, kata-kata serupa itu antara lain, “kemarin”, “dini hari”, “malam”, “siang”, dan sebagainya.

Supaya pembaca tidak salah tafsir, penulis sebaiknya menuliskan langsung waktu yang tepat. Hal itu bisa berupa jam, hari, bulan, tahun, tanggal, dan seterusnya.

Misalkan, sebuah kalimat berbunyi, “Saya tertidur pukul 02.15 Wib.” Kalimat itu lebih mudah dipahami, dibanding menulis, “Saya tertidur saat dini hari.”

Sebab pada kalimat kedua, pembaca sangat mungkin masih akan menerka waktu dini hari yang dimaksud penulis, apakah pukul 01.00, pukul 01.15, pukul 01.40, dan seterusnya.

Penulis pun perlu mengecek kembali saat menulis kata-kata yang menyatakan waktu. Penulis mesti memastikan bahwa kata-kata yang dibuat, tidak memiliki penafsiran lain, yang mungkin muncul di benak pembaca.

Terkadang, ada kalimat berisi kata yang sudah menyebutkan waktu secara langsung. Tetapi di sisi lain, deiksis masih muncul di kalimat yang sama. Berikut, contoh kalimatnya.

Dian membeli kasur, kemarin (20/3/2017).

Ketika kalimat di atas dibaca pada tanggal 21 Maret 2017, kalimat tersebut tentu sudah tepat. Persoalannya, jika kalimat itu baru dibaca pada 22 Maret 2017, kalimat itu menjadi janggal akibat keberadaan kata kemarin.

Sebab, waktu kemarin dari tanggal 22 Maret 2017 adalah tanggal 21 Maret 2017, bukan tanggal 20 Maret 2017 sebagaimana tercantum dalam contoh kalimat tersebut.

Karena itulah, penyebutan langsung untuk kata yang menyatakan waktu, penting buat dilakukan, guna menghindari kesalahan menulis akibat deiksis.

  1. Perspektif Pembaca

Poin kedua ini berhubungan dengan kata-kata yang menyatakan tempat. Jika pada contoh sebelumnya muncul kata “di sini” yang menjadi deiksis, kata serupa itu antara lain “di sana”, “di tempat ini”, “di lokasi itu”, dan sebagainya.

Umumnya, dalam bahasa tulis, kata yang merujuk sebuah tempat, dilakukan dengan menyebut nama tempat tersebut. Tetapi kemudian, pada kalimat-kalimat selanjutnya, kata tersebut berganti.

Kata pengganti tersebut biasanya berupa kata “di sini” atau “di sana”. Contohnya bisa dilihat pada kalimat berikut ini.

Udara di Bogor sangat sejuk. Di sini, kita tidak akan merasa gerah.

Kalimat di atas memperlihatkan tulisan berperspektif penulis, yang sedang berada di Bogor, dan merasakan kesejukan udara di Bogor.

Jika tulisan itu dibaca orang yang sedang berada di Bogor, kalimat itu masih tepat. Persoalannya, kalimat itu akan menjadi janggal kalau dibaca orang, yang misalnya sedang berada di Jakarta. Karena, Bogor merupakan wilayah yang berada “di sana”, apabila ditinjau dari Jakarta.

Perspektif pembaca perlu menjadi perhatian karena pada akhirnya, sebuah tulisan akan dibaca orang lain. Di mana, hal itu juga menjadi tujuan seorang penulis pada umumnya.

promosi kuliner menggunakan tulisan deskripsi

Untuk menuliskan kata pengganti yang menyatakan tempat secara tepat, penulis dapat melakukan antisipasi melalui perkiraan calon pembaca.

Misalnya, tulisan akan dimuat di media cetak lokal. Maka, kata pengganti tempat yang masih berada dalam cakupan media itu, bisa menggunakan kata “di sini”.

Tetapi, jika tempat yang ditulis tidak dijangkau sebaran media tersebut, kata “di sana” lebih tepat buat digunakan.

Lalu, bagaimana jika tulisan disebar melalui internet?

Dalam kondisi tersebut, saya secara pribadi, akan menggunakan kata “di sana”, sebagai kata pengganti tempat. Alasannya, tulisan yang dibagikan melalui internet berpeluang dibaca orang dari seluruh dunia.

Jumlah orang itu tentu lebih mayoritas, dibandingkan jumlah orang pada tempat yang kita tulis. Sehingga, mayoritas orang akan menyebut tempat yang kita tulis, dengan ucapan “di sana”.

Meskipun pada akhirnya, jumlah pembaca tulisan yang dibuat, tidak sebanyak jumlah orang pada tempat yang kita tulis. Hal itu tidak menjadi masalah karena patokannya adalah potensi keterbacaan.

Perlu dicatat, perspektif pembaca sebenarnya tidak hanya pada kata pengganti tempat. Pada beberapa hal lain, ada penulis yang terkadang tak sadar bahwa ia menulis berdasarkan perspektif pribadi. Akibatnya, tulisannya terasa janggal saat dibaca.

Biasanya, kondisi tersebut muncul saat penulis menyebutkan sebuah subjek atau objek. Contohnya bisa dilihat di bawah ini.

Brad Pitt merupakan aktor terkenal Hollywood. Pria ini telah memerankan banyak film.

telunjukjempol.com

Bagi penulis yang mewawancarai langsung Brad Pitt lalu menuliskan artikel tentangnya, kata “ini” akan terasa wajar. Karena, Brad Pitt berada, atau pernah berada, di dekatnya, sehingga ia menggunakan kata “ini”.

Tetapi buat pembaca yang tidak bertemu langsung dengan Brad Pitt, kata “ini” menjadi terasa janggal. Karena dengan adanya kata “ini” dalam artikel yang dibaca, pembaca seharusnya bisa bertemu langsung dengan Brad Pitt, yang pada kenyataannya tidak demikian.

  1. Berkesesuaian

Poin ketiga ini berhubungan dengan kata-kata yang menyatakan kata ganti. Umumnya, kesalahan menulis kata ganti terletak pada jumlah, yaitu antara tunggal atau jamak.

Berikut, contoh kesalahan menulis kata ganti.

Orangtua sudah seharusnya menjadi panutan anak. Ia juga harus mampu membuat anak merasa aman.

Kata yang perlu digarisbawahi adalah kata “ia” sebagai kata pengganti “orangtua”.

Kata ganti “ia” menjadi tidak tepat karena bermakna tunggal. Sementara, orangtua bermakna jamak. Sebab, orangtua terdiri dari ayah dan ibu. Sehingga seharusnya, contoh kalimat di atas menggunakan kata ganti “mereka” yang bermakna jamak.

BACA JUGA: Judul Menarik, Perhatikan Kata Kunci dan Pendek

Contoh lain kesalahan menulis kata ganti bisa dilihat pada kalimat berikut.

Budi dan Bagus sedang tidur di rumahnya.

Serupa dengan contoh kalimat sebelumnya, kata “nya” yang bermakna tunggal seharusnya diubah menjadi “mereka”. Karena, Budi dan Bagus merupakan dua orang, yang berarti jamak.

Kesalahan menulis akibat deiksis kerap tidak disadari. Karena itu, cek dan ricek saat melakukan penyuntingan tulisan, sebaiknya dilakukan seorang penulis.

Kesalahan Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *