Kenapa Saya Harus Menulis?

Posted on Opini Lepas 156

Kenapa saya harus menulis?

Pertanyaan itu baru terlontar setelah lebih dari 10 tahun, saya berkutat di dunia tulis menulis. Dan ternyata, saya memiliki alasan berbeda pada beberapa masa yang saya lalui.

Saya orang yang terlambat mengenal dunia tulis menulis. Perkenalan itu baru bermula tak lama setelah saya menyelesaikan sekolah berseragam putih abu-abu.

BACA JUGA: Teknik Menulis Deskripsi, Berlatih dengan Mata

Selama 12 tahun mengenyam pendidikan di sekolah, sejak SD hingga SMA, saya sebenarnya beberapa kali mendapat tugas menulis. Meski begitu, saya hanya menganggapnya sebagai kewajiban demi secuil nilai. Saya sama sekali tak memiliki hasrat untuk menulis.

Kenapa saya harus menulis?

Niat itu muncul saat saya mulai hobi membaca, sejak semester kedua kelas XII SMA.

Niat yang berawal dari ketidaksengajaan, usai menemukan sebuah ungkapan latin, yang berbunyi scripta manent, verba volant. Jika diterjemahkan berarti, yang tertulis akan mengabadi, yang terucap akan berlalu bersama angin.

Dan tak beberapa lama, saya juga mendengar sebuah ucapan yang mengatakan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Pada kemudian hari, saya baru tahu bahwa itu adalah ucapan sastrawan besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer.

Maka, saya harus menulis untuk menjadi abadi. Saya ingin dikenal dan diingat dengan tulisan saya.

Saya pun bergabung dengan pers kampus. Dan, beberapa kali mengirim tulisan beragam jenis ke media massa. Sebagian dimuat, sisanya ditolak.

Kenapa saya harus menulis?

Perjalanan berganti haluan. Usai belajar di pers kampus, saya bekerja di pers, yang menerbitkan media cetak harian. Dan di kemudian hari, perusahaan tersebut berkembang hingga turut mengelola media daring.

Sebagai pekerja lapangan, tugas saya adalah mencari informasi dan mengubahnya menjadi berita. Enam hari dalam seminggu, saya harus menulis.

BACA JUGA: Belajar Menulis dengan Bicara

Apakah saya merasa senang? Tentu. Hasrat saya tersalurkan. Tetapi, itu tak bertahan lama.

Ketika menulis menjadi rutinitas yang berulang, dengan bahan tulisan yang tak jauh berbeda, kebosanan mulai menerpa.

Saya pun mulai mencari hobi baru. Dan, hobi itu adalah menulis.

Ketika menulis sebagai pekerjaan terasa membosankan, menulis sebagai hobi justru membawa gairah. Karena sebagai hobi, saya bisa mengembangkan kemampuan tak terbatas, yang sulit dilakukan dalam pekerjaan.

Hingga akhirnya, saya menghasilkan tiga buku. Sebuah hal yang pada awalnya saya anggap tidak mungkin.

Maka pada masa itu, bagi saya, menulis memberi dua arti. Dengan pekerjaan sebagai jurnalis, saya menulis untuk memberi informasi dan pengetahuan kepada masyarakat.

Sebagai hobi, saya menulis untuk memuaskan hasrat. Saya menulis sebagai obat mengatasi kebosanan dan stres pekerjaan, dan mungkin stres yang muncul karena akibat lain.

Kenapa saya harus menulis?

Waktu berganti, tugas dalam pekerjaan saya berubah. Kini, saya tak lagi mencari informasi dan mengubahnya menjadi berita. Tugas saya menyunting berita.

Saya menghapus kata, menambah kata, atau memindahkan kata. Saya juga menghapus tanda baca, menambah tanda baca, atau memindahkan tanda baca.

Sama sekali, saya tak menulis. Saya hanya memoles karya orang lain. Saya tak menghasilkan karya.

Meskipun, kalau beruntung, saya bisa mendapatkan kesempatan menulis. Satu-satunya kesempatan itu adalah menuliskan judul. Jika judul yang dibuat si penulis, saya anggap kurang menarik.

Saya tidak bosan dengan pekerjaan tersebut. Meski, hasrat untuk menulis selalu ada.

Dan akhirnya, saya memutuskan membuat blog ini. Wadah untuk saya menulis.

Sebelum berkehendak membuat blog, saya sempat merenung. Selama 10 tahun lebih, saya belajar menulis, dan beberapa ilmu komunikasi yang saya dalami.

Dan sedikit demi sedikit, karena saya terus bertemu hal baru di hari kemudian, ilmu-ilmu yang pernah saya pelajari mulai terlupakan.

BACA JUGA: Membuat Kerangka Karangan dengan Teknik Visualisasi

Maka, saya harus menulis untuk membantu menyegarkan ingatan saya. Saya harus menulis untuk belajar kembali, hal-hal yang pernah saya pelajari.

Saya harus menulis untuk mengasah otak.

Kenapa saya harus menulis? Silakan Anda yang menjawabnya.

Kenapa saya harus menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *