Ini Beda Jurnalis dan Reporter

Posted on Jurnalistik 1175

Di masyarakat umum, sebagian orang mempersepsikan bahwa jurnalis sama dengan reporter. Bahwa, jurnalis dan reporter adalah orang-orang yang bekerja mencari informasi, kemudian menyampaikannya kepada masyarakat berupa berita.

Sebenarnya, persepsi tersebut tidak sepenuhnya salah. Sebab, kedua istilah tersebut memang memiliki persinggungan. Meski begitu, pengertian jurnalis dan reporter tetap memiliki perbedaan.

Jurnalis atau disebut juga wartawan merupakan sebuah profesi, serupa dengan guru, pengacara, maupun dokter. Meskipun begitu, jurnalis merupakan profesi, yang bisa dikatakan unik, apabila dibandingkan dengan profesi lainnya tersebut.

BACA JUGA: Membuat Kerangka Karangan hingga Menjadi Tulisan

Berbeda dengan pekerjaan, profesi dibatasi dengan kode etik dan pendidikan profesi. Dengan adanya batasan tersebut, maka tidak semua pekerjaan bisa disebut profesi. Misalnya, tukang becak adalah sebuah pekerjaan dan bukan profesi.

Karena untuk menjadi pengayuh becak, seseorang tidak perlu mengikuti pendidikan profesi terlebih dahulu. Pun demikian, penggenjot becak tidak memiliki kode etik tertentu.

Kembali ke profesi jurnalis, kenapa profesi tersebut dibilang unik?

Serupa dengan profesi lain, jurnalis memiliki kode etik. Tetapi untuk menjadi jurnalis, seseorang tidak memerlukan pendidikan profesi.

Padahal, kode etik dan pendidikan profesi merupakan dua hal yang saling terkait. Pendidikan profesi akan menggembleng calon profesional, supaya taat kode etik saat menjalankan profesi mereka kelak.

Untuk menjadi seorang advokat, misalnya, seseorang harus menempuh pendidikan di fakultas hukum. Begitu pula, calon dokter dan sebagainya. Dan sesaat sebelum bisa menjalani profesinya, seseorang harus menghadapi ujian kompetensi profesi, sebagai batasan agar kelak tetap taat pada kode etik profesi.

Nah, untuk menjadi jurnalis, seseorang tak perlu bergelar sarjana ilmu komunikasi dan semacamnya. Bahkan, lulusan SMA pun bisa menjadi seorang jurnalis.

Sebagian pihak beralasan, seorang jurnalis nantinya akan menghadapi beberapa bidang.  Hal itu tergantung penempatan saat bekerja. Misalnya, jurnalis bidang ekonomi, bidang politik, bidang pendidikan, dan lain-lain. Sehingga, latar belakang pendidikan jurnalis yang sesuai bidang, seharusnya lebih diutamakan.

Sementara, ilmu jurnalistik bisa dipelajari kemudian. Beberapa pers memang memberikan pelatihan jurnalistik bagi jurnalis baru. Tetapi, banyak pula pers yang menyerahkan pembelajaran ilmu jurnalistik ke masing-masing jurnalis. Alhasil, para jurnalis baru yang berasal dari latar belakang berbeda, harus bekerja sambil tetap belajar jurnalistik.

Bertentangan dengan alasan di atas, sebagian pihak justru menyatakan, dasar seseorang menjadi jurnalis adalah kemampuan di bidang jurnalistik. Sebab, hal itu merupakan pekerjaan utama seorang jurnalis. Sedangkan, ilmu lain yang akan menjadi bidang seorang jurnalis saat bekerja, bisa dipelajari kemudian.

BACA JUGA: 5W+1H, Unsur Berita dari Rudyard Kipling

Pada kenyataannya, pers di Indonesia banyak membuka lowongan jurnalis tanpa mengkhususkan pada pendidikan tertentu. Dan pada akhirnya, latar belakang pendidikan yang bermacam-macam memunculkan ketimpangan dalam penerapan kode etik. Meskipun, hal tersebut hanya satu di antara berbagai persoalan kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik.

Untuk mengurangi ketimpangan antara penerapan kode etik jurnalistik, serta kemampuan jurnalistik seorang jurnalis, Dewan Pers telah menerbitkan Peraturan Dewan Pers Nomor 1/Peraturan-DP/II/2010 tentang Standar Kompetensi Wartawan.

Di mana, kompetensi profesional jurnalis ditentukan melalui sebuah ujian kompetensi. Ujian kompetensi tersebut lebih banyak berisi tentang ilmu jurnalistik. Sebab, ilmu tersebut merupakan ilmu dasar bagi seorang jurnalis.

Dengan adanya ujian kompetensi, seorang jurnalis, meskipun berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, diharapkan memiliki kemampuan ilmu jurnalistik standar, dan menerapkan kode etik jurnalistik dengan baik.

Lalu, apa beda jurnalis dengan reporter?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, saya akan membahas tentang pers terlebih dahulu. Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers menyebutkan, pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa, yang melaksanakan kegiatan jurnalistik, meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi, baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik, maupun dalam bentuk  lainnya, dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.

Jurnalis bekerja di pers. Di dalam lembaga tersebut, ada jabatan-jabatan. Dan, reporter merupakan salah satu jabatan dalam pers.

Sehingga jelas, perbedaan jurnalis dan reporter. Di mana, jurnalis adalah sebuah profesi dan reporter merupakan salah satu jabatan.

Umumnya, jabatan reporter selalu ada di seluruh pers. Di atas reporter, ada jabatan asisten redaktur atau asisten editor. Lalu, ada redaktur atau editor, koordinator liputan, asisten redaktur pelaksana, redaktur pelaksana, hingga pemimpin redaksi.

BACA JUGA: 4 Persiapan Sebelum Wawancara

Jumlah maupun penyebutan jabatan di setiap pers berbeda. Ada beberapa jabatan digunakan di sebuah pers, tetapi di pers lain tidak dipakai.

Seluruh jabatan dalam pers, mulai reporter sampai pemimpin redaksi, selama pekerjaannya berkaitan dengan jurnalistik, orang yang mengerjakannya disebut jurnalis atau wartawan. Demikianlah, perbedaan jurnalis dan reporter.

jurnalis dan reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *