Human Tripod, Tips Bikin Video Pakai Smartphone

Human tripod merupakan salah satu teknik untuk membuat alat perekam, baik foto maupun video, berada dalam posisi stabil, saat hendak memotret ataupun merekam video. Hal itu bertujuan supaya hasil foto tidak berbayang atau blur. Sementara untuk video, gambar yang dihasilkan tidak bergetar akibat alat perekam yang bergoyang.

Dalam dunia fotografi, videografi, maupun film, ada berbagai macam alat perekam. Setiap macam alat perekam tentunya memiliki keunggulan masing-masing.

Meski begitu, untuk mendapatkan tingkat kestabilan yang lebih baik, para fotografer, videografer, ataupun pembuat film, umumnya memilih menggunakan alat bantu berupa tripod, guna menopang alat perekam yang dipakai.

BACA JUGA: Observasi dalam Reportase

Kestabilan alat perekam biasanya tergantung pada bobot. Semakin berat alat perekam, tingkat kestabilan biasanya semakin baik. Hal berkebalikan pun berlaku.

Tetapi di sisi lain, bobot alat perekam yang berat juga mampu membuat penggunanya cepat lelah. Antara lain, tangan menjadi bergetar karena terlalu letih akibat memegang alat perekam yang berat. Alhasil, tingkat kestabilan alat perekam berbobot berat pun bisa mengalami penurunan, setelah digunakan untuk beberapa waktu.

Hingga pada akhirnya, tripod tetap menjadi pilihan, untuk membantu alat perekam berada dalam posisi stabil. Namun ada kalanya, tripod urung dibawa karena berbagai macam alasan.

Untuk menyiasatinya, teknik human tripod dapat menjadi pilihan untuk diterapkan. Teknik human tripod memakai tubuh sebagai penyangga, untuk menggantikan kaki-kaki pada tripod.

Pada alat perekam yang berbobot berat, biasanya, ukuran yang dimiliki juga besar. Penerapan teknik human tripod untuk alat perekam yang berukuran besar, umumnya mengandalkan bahu. Di mana, alat tersebut diletakkan di bahu. Sehingga, beban alat lebih tertopang dibandingkan hanya dipegang menggunakan tangan.

Kebanyakan, alat perekam berbobot berat digunakan para profesional. Sementara untuk kebutuhan amatir, atau rata-rata mayoritas orang, alat perekam dibuat lebih kecil dengan bobot ringan. Tujuannya tentu supaya mudah dibawa.

Hal itu dapat terlihat pada camera pocket untuk menghasilkan foto maupun handycam untuk merekam video. Karena berbobot ringan, tingkat kestabilan alat-alat tersebut biasanya lebih rendah.

Pakai Smartphone

Di era terbaru, ukuran alat untuk menghasilkan foto dan video semakin kecil, dengan bobot yang semakin ringan. Pembuatan foto maupun video tak perlu lagi menggunakan dua alat yang berbeda. Semua bisa dilakukan hanya menggunakan ponsel pintar atau smartphone.

Selain berfungsi sebagai alat komunikasi, smartphone yang memiliki banyak fitur pendukung, akhirnya memiliki kemampuan multifungsi. Satu di antara fitur pendukung tersebut adalah kamera, yang sekaligus berfungsi sebagai camcorder atau kamera perekam video.

Dengan adanya fitur tersebut, pemilik smartphone bisa dengan mudah memotret atau merekam video kapan saja. Dan dengan keberadaan media sosial, mereka bisa langsung membagikan hasil foto maupun video.

Bahkan kekinian, media sosial menyediakan layanan siaran langsung, khususnya untuk video. Di mana, pemilik smartphone dapat langsung menyebarkan video yang sedang ia rekam.

Tetapi dengan ukuran yang kecil dan bobot yang ringan, penggunaan smartphone, khususnya untuk video, berpotensi menghasilkan gambar yang bergetar. Sementara untuk foto, karena umumnya menggunakan mode automatis, bobot ringan tak terlalu berpengaruh pada hasil.

Untuk meningkatkan kestabilan smartphone, penggunaan tripod bisa menjadi solusi. Dan ketika tripod tidak ada, teknik human tripod dapat menjadi alternatif untuk diterapkan.

Langkah-langkah Teknik Human TripodĀ 

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menerapkan teknik human tripod, ketika bikin video pakai smartphone. Khususnya, posisi tubuh saat memegang smartphone, guna menghasilkan posisi yang stabil.

Karena menjadi hal utama dalam teknik human tripod, posisi tubuh akan menentukan hasil dari perekaman video. Selayaknya tripod, tubuh harus mampu tegak, tidak bergoyang, dan mampu menahan smartphone sebaik mungkin.

  1. Posisi Kaki

Kaki memiliki peran signifikan saat menerapkan teknik human tripod. Kaki merupakan fondasi, yang menjadi faktor penentu keberhasilan penerapan teknik human tripod. Hal itu karena posisi kaki berhubungan dengan keseimbangan tubuh.

Agar seimbang, tubuh harus dalam posisi tegak. Tetapi, posisi tegak belum tentu membuat tubuh seimbang. Agar tubuh bisa seimbang dalam posisi tegak, kaki harus diletakkan dalam posisi yang pas.

Pada posisi berdiri, kedua kaki sebaiknya memiliki jarak selebar bahu. Posisi kaki tersebut dianggap paling pas dalam menopang tubuh. Kedua kaki yang rapat, maupun lebih lebar dari bahu, masih berpotensi lebih besar membuat tubuh tidak seimbang, dibanding kedua kaki yang memiliki jarak selebar bahu.

Jika ingin merekam video dengan sudut pandang rendah, hal itu bisa dilakukan dengan posisi duduk. Posisi jongkok tidak disarankan karena memiliki potensi lebih besar membuat tubuh tidak seimbang. Apalagi, jongkok dengan kondisi kaki jinjit.

  1. Lengan Menempel Sisi Tubuh

Setelah posisi kaki dan tubuh, lengan dan tangan menjadi hal berikutnya yang perlu diperhatikan, dalam menerapkan teknik human tripod saat bikin video pakai smartphone.

Lengan diletakkan menjulur ke bawah, dan rapat dengan sisi tubuh. Hal itu membuat tubuh menjadi penopang lengan. Sehingga, lengan dan tubuh menjadi satu kesatuan.

Lengan yang tidak menopang dengan tubuh dikhawatirkan mudah bergerak. Kondisi itu tentunya akan berpengaruh langsung terhadap smartphone, yang dipegang menggunakan telapak tangan.

Ketika lengan sudah rapat dengan tubuh, posisi tangan, atau ada juga yang menyebut lengan bawah, yaitu dari siku hingga pergelangan tangan, ditekuk ke atas. Pastikan, layar pada smartphone yang dipegang tetap dapat terlihat.

  1. Posisi kamera smartphone

Sebenarnya, poin ini tidak termasuk dalam teknik human tripod. Meski begitu, penempatan posisi kamera perlu menjadi perhatian karena akan berpengaruh terhadap video yang dihasilkan.

Smartphone umumnya memiliki bentuk persegi panjang. Di mana, sisi kiri dan kanan lebih panjang dibanding sisi atas dan bawah. Atau dengan kata lain, itu disebut posisi vertikal.

Jika merekam pada posisi tersebut, kemudian diunggah ke media sosial atau laman berbagi video, hasil video biasanya tidak akan memenuhi satu layar yang tersedia. Sehingga, ada bagian kosong di sisi kiri dan kanan. Kalaupun akan dibuat memenuhi satu layar, saat diunggah ke media sosial atau laman berbagi video, maka ada bagian atas dan bawah dalam rekaman video yang akan terpotong.

Dalam pembuatan video, smartphone disarankan pada posisi horizontal, yaitu sisi yang lebih panjang, atau sisi kiri kanan, diubah menjadi sisi atas bawah. Dan tentu saja, sisi atas bawah akan menjadi sisi kiri kanan.

Posisi tersebut akan menghasilkan video yang bisa memenuhi layar, jika diunggah ke media sosial atau laman berbagi video. Walaupun ada juga, di sebagian media sosial, posisi itu akan menghasilkan bagian kosong di sisi atas bawah.

Meski tetap menghasilkan bagian kosong, posisi horizontal masih lebih disarankan karena mampu memperlihatkan gambar secara lebih luas kepada penonton.

  1. Jempol dan Jari Tengah

Kembali ke teknik human tripod, hal berikutnya yang perlu menjadi perhatian adalah posisi jari saat memegang smartphone.

Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan ketika memegang smartphone, yaitu letak lensa kamera dan mikrofon. Jangan sampai, tangan menutupi kedua fitur tersebut.

Apalagi, lensa kamera yang mempunyai peran vital dalam pembuatan video. Sementara, penggunaan mikrofon menjadi sama pentingnya dengan lensa kamera, jika hendak mengambil suara secara langsung. Kondisi tersebut menjadi berbeda kalau suara dalam video akan digantikan musik atau disulih suara (dubbing).

Lensa kamera utama umumnya berada di bagian atas sebelah belakang smartphone. Sementara, mikrofon berada di sisi bagian bawah.

Maka jika hendak bikin video dengan membuat smartphone dalam posisi horizontal, lensa kamera akan berada di bagian kiri dan mikrofon di sisi bagian kanan.

Guna mengantisipasi lensa kamera ataupun mikrofon tertutup tangan, yang bisa membuat gambar dan suara tak terekam, cara memegang smartphone dapat mengandalkan jari tengah dan jempol

Pertama-tama, telapak tangan dibuat saling berhadapan seperti orang yang hendak bertepuk tangan. Telapak tangan sebaiknya tak disandarkan pada sisi bagian kiri dan kanan smartphone.

Untuk memegang smartphone, jari tengah dan jempol bisa digunakan. Kedua jari tengah di sisi bagian atas. Sementara, jempol di sisi bagian bawah.

Mungkin muncul pertanyaan, mengapa memegang smartphoe dengan jari tengah, dan bukan telunjuk?

Sebab, telunjuk memiliki peran lain yang tak kalah penting, dalam proses bikin video pakai smartphone.

Di smartphone yang umumnya berupa layar sentuh atau touchscreen, “tombol” untuk merekam video biasanya berada di bagian bawah, jika smartphone dalam posisi vertikal. Saat dibuat horizontal, tombol akan berada di bagian kanan. Dan untuk memulai proses perekaman video, telunjuk berperan untuk memencet tombol tersebut. Sehingga, proses perekaman dapat dimulai.

Jika telunjuk digunakan untuk memegang smartphone, proses menekan tombol perekaman akan sedikit lebih sulit. Sebab, jari-jari lain berada di belakang smartphone yang dipegang.

Sedangkan, tombol untuk memulai perekaman berada di bagian depan smartphone. Sehingga, mau tidak mau, telunjuk yang akan bergerak untuk memencet tombol perekaman. Dan ketika akan memencet, telunjuk tentunya harus melepaskan sementara pegangan di smartphone.

Kondisi tersebut berpotensi membuat smartphone menjadi tidak stabil, meski hanya sementara. Padahal, teknik human tripod bertujuan supaya posisi smartphone dapat stabil saat membuat video.

  1. Tahan Napas

Menahan napas adalah cara tambahan untuk mengantisipasi apabila tubuh bergetar, walau telah menerapkan teknik human tripod. Hal itu bisa terjadi akibat banyak hal.

Dengan menahan napas, tubuh biasanya lebih stabil. Menahan napas bisa dimulai sebelum menekan tombol perekaman di smartphone, hingga menekan tombol itu kembali untuk menyudahi perekaman.

Dalam kondisi menahan napas, durasi waktu perlu mendapat perhatian, antara kemampuan menahan napas dan video yang akan direkam. Karena itu, durasi merekam video seharusnya tak selama durasi menahan napas.

Lokasi Menentukan

Karena posisi smartphone yang statis saat merekam video menggunakan teknik human tripod, gambar yang dibidik sebaiknya memiliki unsur bergerak. Misalnya, orang berjalan, makan, memainkan ponsel, dan sebagainya.

Hal tersebut sebenarnya telah menjadi hal umum saat merekam video. Sebab, hal yang membedakan antara foto dan video adalah keberadaan gambar bergerak.

Bagaimana jika ternyata gambar yang hendak direkam juga statis?

Misalnya, gambar utama yang hendak direkam adalah sebuah patung raksasa.

Ada dua cara yang bisa dilakukan. Pertama, unsur bergerak dimasukkan untuk meminimalisasi kesan statis objek utama.

Contohnya, jika di sekitar patung, ada orang yang sedang melintas melewati patung, pergerakan orang tersebut bisa dimasukkan dalam mise-en-scene. Sehingga, gambar yang direkam tidak statis sepenuhnya.

Cara kedua dengan memanfaatkan posisi saat mengambil gambar. Misalnya, pengambilan gambar pertama dilakukan dari jauh. Sehingga, gambar patung secara keseluruhan bisa terlihat. Lalu, gambar berikutnya diambil dari dekat dengan memperlihatkan detail-detail bagian patung.

BACA JUGA: Sejarah Media Online di Indonesia, Antara Penghasilan dan Persoalan Etik

Umumnya, cara kedua tersebut memakai durasi cepat untuk setiap shoot. Hal itu untuk mengaburkan kesan statis dari gambar yang direkam.

Bisa saja, perekaman video dilakukan dengan menggerakkan smartphone. Contohnya, pengambilan gambar dengan memutari patung dari bagian depan hingga ke depan lagi. Tetapi, cara itu harus dilakukan secara hati-hati, dengan mempertimbangkan kestabilan smartphone saat melakukan perekaman.

Teknik human tripod merupakan satu di antara banyak alternatif untuk menghasilkan kestabilan alat rekam. Meski begitu, penerapannya tetap bergantung pada pilihan setiap orang.

human tripod

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *