Dibalik Pelajaran Fenomenal Ini Budi

Nama? Budi.

Nama ayah? Bapak Budi.

Nama ibu? Ibu Budi.

Demikian, cuplikan iklan sebuah makanan ringan tayang di televisi. Materi iklan tersebut sepertinya mengajak masyarakat Indonesia mengingat frasa Ini Budi. Frasa tersebut sangat populer medio 1980-an hingga 1990-an.

Frasa Ini Budi merupakan sebuah metode pembelajaran bahasa, yang menggunakan alat peraga. Metode pembelajaran tersebut disebut struktur analitik sintesis (SAS).

BACA JUGA: Kerupuk Mi Kuah Sate, Kenikmatan Kuliner Khas Daerah

Metode dengan alat peraga itu bertujuan untuk membuat pelajaran bahasa Indonesia menjadi menyenangkan, khususnya bagi siswa SD. Supaya, mereka dapat lebih cepat belajar membaca.

Dilansir Tribunnews.com, anak Siti Rahmani Rauf, Kamerni Rauf menerangkan, pada era 1980-an sampai 1990-an, pelajaran membaca masih dianggap sulit dan belum populer, khususnya bagi masyarakat di daerah.

“Karena itu, diterapkan metode ‘Ibu Budi’, supaya lebih mudah mengeja kata,” ungkap Kamerni pada pertengahan Mei 2016 lalu.

Siti Rahmani Rauf

Siti Rahmani Rauf dikenal sebagai orang yang menciptakan buku peraga Ini Budi, untuk pelajaran bahasa Indonesia kelas satu SD.

Dilansir Okezone.com, kelahiran buku peraga Ini Budi dimulai sekitar tahun 1986. Saat itu, Siti Rahmanani Rauf mendapatkan proyek menyusun alat peraga, dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Menurut Kamerni, seperti dilansir Merdeka.com, buku paket bahasa Indonesia berisi Ini Budi sebenarnya telah ada. Namun, buku peraga yang memudahkan pelajaran membaca dan menulis, belum ada.

“Jadi, buku paket ‘Ini Budi’ sudah ada. Si Budi itu bukan mami yang buat. Yang belum ada itu, buku peraga membacanya,” ungkap Kamerni.

Siapa sebenarnya Siti Rahmani Rauf, hingga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memintanya menyusun buku peraga?

Siti Rahmani Rauf lahir di Padang pada 5 Juni 1919. Pada usia 18 tahun, ia lulus dari sekolah Belanda.

BACA JUGA: Menggunakan Jalan Tol dengan Teknologi Masa Depan

Usai lulus, seperti dilansir Okezone.com, sejak 1937, ia menjalani profesi sebagai pendidik di Sumatera selama 15 tahun, hingga 1953.

Setahun kemudian, Siti Rahmani Rauf menginjakkan kaki di Jakarta. Di tempat barunya, ia tetap melanjutkan profesinya, sambil membesarkan anak-anaknya. Terakhir, ia menjabat Kepala SD Tanah Abang 5 pada 1976.

Siti Rahmani Rauf baru mengerjakan buku peraga Ini Budi setelah pensiun mengajar. Buku peraga yang dibuatnya, memuat banyak gambar yang menarik. Hal itu bertujuan merangsang minat belajar anak.

Siti Rahmani Rauf memang memiliki keahlian menggambar. Bahkan dengan keahliannya, seperti dilansir Merdeka.com, Siti Rahmani Rauf menambah gambar tokoh budi beserta keluarganya, sesuai tema yang diangkat pada setiap halaman.

Gemar Membaca

Setelah pensiun, Siti Rahmani Rauf tetap tinggal di Jakarta. Di usia tuanya, ia masih menyalurkan hobinya membaca, khususnya novel. Ia mengaku menyukai novel yang mengisahkan percintaan.

Siti Rahmani Rauf gemar membaca novel bahasa Belanda, bahasa yang ia pelajari semasa ia menempuh pendidikan dasar, saat zaman penjajahan kolonial.

“Bacaan nenek ini novel-novel dari Belanda,” ujar Siti Rahmani Rauf seperti dilansir Merdeka.com.

Kamerni menjelaskan, sejak muda, ibunya memang gemar membaca. Sebagian besar, novel kesukaannya berbahasa Belanda.

“Novel-novel yang suka dibaca mami itu kebanyakan bahasa Belanda. Mami suka baca Agatha Christie, kalau lokalnya, mami suka Layar Terkembang Sutan Takdir Alisjahbana,” kata Kamerni.

Siti Rahmani Rauf mengembuskan napas terakhirnya pada usia 97 tahun.

Dilansir Kompas.com, ia meninggal pada Selasa (10/5/2016) sekitar pukul 21.20 WIB di rumahnya di Jalan Jati Petamburan Ino 8 RT 002/01, Jakarta Pusat.

BACA JUGA: Persiapan Sebelum Menulis, Ciptakan Suasana Nyaman

“Mami pulang dengan tenang. Saat-saat terakhirnya, mami dikelilingi oleh anak dan cucunya,” ujar anak ketiga SitiRahmani Rauf, Asrani Rauf, Rabu (11/5/2016).

Jasad Siti Rahmani Rauf mungkin telah meninggalkan dunia, tetapi karyanya, buku peraga Ini Budi, meninggalkan kesan yang tak dangkal. Bahkan, karya tersebut berjasa besar dalam mendidik banyak anak bangsa.

Ini Budi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *