Curug Jodo, Wisata Pemandian Air Panas 24 Jam di Sari Ater Subang

Wisata Pemandian Air Panas Curug Jodo berada di Desa Sari Ater, Subang, Jawa Barat. Di dalam tempat wisata tersebut, ada air terjun yang di bawahnya terdapat kolam pemandian air panas.

Saya mengunjungi Curug Jodo pada Minggu (25/6/2017) malam, bertepatan dengan hari raya Idul Fitri 1438 Hijriah. Meski malam, tempat wisata tersebut tetap ramai pengunjung karena operasional 24 jam.

BACA JUGA: 11 Kesalahan Penulisan Kata, H yang Hilang

Mengenai waktu operasional 24 jam, hal itu saya ketahui dari beberapa kerabat yang telah lebih dulu mengunjungi Curug Jodo. Ketika saya konfirmasi ke beberapa petugas yang melayani pengunjung di Curug Jodo, mereka pun membenarkan terkait waktu operasional tersebut.

Sekitar pukul 21.00 Wib, saya menginjakkan kaki di lokasi wisata tersebut. Rangkaian huruf berwarna hijau membentuk kata Curug Jodo, segera terlihat di ujung sebuah kolam pemandian air panas. Selain berukuran cukup besar, sorot lampu dari arah bawah membuat kata-kata itu lebih mudah terlihat saat malam.

Di kolam yang pada sisinya terlihat rangkaian huruf membentuk kata Curug Jodo itu, banyak orang terlihat asyik bermain air. Sebagian lagi hanya duduk berendam di dalam air. Pria, wanita, tua, maupun muda, bercampur satu.

Itu bukan satu-satunya kolam pemandian air panas di lokasi wisata tersebut. Ada beberapa kolam lagi. Tetapi, letaknya lebih ke bawah karena mengikuti aliran air yang semakin landai.

Setiap kolam dihubungkan dengan jalan setapak yang terbuat dari paving block. Lebar jalan itu serupa sekitar enam orang dewasa yang berdiri berjajar. Hati-hati, beberapa ruas jalan tersebut cukup licin. Apalagi, posisinya berupa jalan menurun, apabila kita berjalan dari kolam yang berada di atas. Dan berupa tanjakan, jika kita berjalan dari arah sebaliknya. Walaupun, ada juga jalan yang sejajar.

Curug Jodo

Kondisi licin terjadi lantaran jalan yang basah akibat tetesan air. Tetesan itu kemungkinan berasal dari tubuh, handuk, maupun pakaian yang dikenakan pengunjung, yang berjalan di jalanan tersebut.

Meski begitu, pengelola Curug Jodo telah mengantisipasi kondisi itu dengan menyediakan handrail, atau pegangan tangan di jalan menurun atau menanjak. Sehingga, pengunjung bisa lebih mudah melalui jalan, dan meminimalisasi kemungkinan jatuh akibat licin, apabila kondisi jalan sedang basah.

Kolam Dangkal

Kolam-kolam pemandian air panas di Curug Jodo rata-rata berada di bawah air terjun. Memang, itu bukanlah air terjun yang tingginya hingga belasan bahkan puluhan meter. Dalam perhitungan saya, tingginya mungkin tak sampai sepuluh meter.

Tepat di bawah air terjun, saya bisa melihat uap panas yang beterbangan ke udara. Di beberapa kolam pemandian air panas, yang untuk beberapa saat sepi dari pengunjung, hal serupa pun saya lihat.

Beberapa lama setelah tiba di Curug Jodo, saya mencoba untuk berendam. Karena sama sekali belum menyentuh air sejak datang, rasa panas langsung terasa saat kaki mulai dimasukkan ke dalam air. Rasa panas itu terus menjalar ke bagian tubuh lain, saat perlahan-lahan, saya mulai duduk di kolam tersebut.

Terakhir kali saya mengukur, tinggi badan saya sekitar 168 centimeter. Ketika saya duduk di kolam tersebut, tinggi air berada di sekitar dada. Sehingga bisa saya katakan, tinggi air di kolam tersebut cukup dangkal.

Meski begitu, ketinggian air itu cukup buat anak-anak berenang. Pemandangan sekelompok anak berenang pun tampak pada malam itu. Walau sepertinya, mereka tak leluasa berenang akibat pengunjung yang cukup ramai berada di dalam kolam. Sehingga untuk beberapa kali, anak-anak itu berdiri di dalam kolam, untuk menghindari pengunjung yang sedang duduk berendam.

Curug Jodo

Saya memilih berendam di kolam pemandian air panas yang lebih kecil, dan lebih sedikit orang pada saat itu. Sebenarnya, kolam yang saya tempati masih satu bagian dengan kolam di sebelahnya, yang letaknya lebih tinggi sekitar satu meter. Hanya saja, sebuah jembatan yang terletak di batas ketinggian kolam, seolah-olah memisahkan kolam itu menjadi dua bagian.

Saat berendam, rasa panas terasa di sekujur tubuh untuk sekira sepuluh menit. Selepas itu, air terasa biasa saja. Mungkin, hal itu terjadi karena saya berkunjung pada malam hari. Sebab, udara terasa cukup dingin pada malam itu. Kondisi berbeda mungkin terjadi apabila saya berkunjung pada siang hari.

Untuk mencoba menghangatkan badan lagi, saya mencoba duduk di sekitaran batas kolam. Karena di tempat itu, ada kucuran air dari kolam yang lebih tinggi. Saya membelakangi kucuran air itu. Sambil berharap, timpaan air dari kolam yang lebih tinggi, mampu membuat punggung saya terasa hangat.

Menurut beberapa orang, cara itu juga manjur untuk menghilangkan pegal di tubuh. Saya tak tahu kepastian mengenai hal itu. Tetapi yang pasti, harapan saya terkabul untuk mendapatkan kehangatan di bagian punggung, dari air yang mengucur.

Tikar Samping Aliran Air

Di antara para pengunjung, ada beberapa orang yang menawarkan penyewaan tikar. Saya tidak terlalu memperhatikan berapa ongkos penyewaan tersebut, ketika beberapa di antara mereka menawarkannya kepada saya. Sebab, saya sudah telanjur menemukan tempat menarik untuk berendam. Sehingga, saya pun langsung menolak tawaran-tawaran itu.

Sebenarnya, sebelum mulai berendam, saya menyempatkan diri menjelajahi kawasan Curug Jodo terlebih dulu. Dari penjelajahan tersebut, saya mengetahui bahwa ada beberapa titik tempat duduk yang memang tersedia tikar.

Lokasinya berada di ujung, di dataran paling bawah, jika dibandingkan dengan letak kolam-kolam pemandian air panas lainnya di Curug Jodo. Di titik itu, tikar-tikar dibentangkan di kedua sisi aliran air. Sehingga saat duduk di tikar, para pengunjung bisa sekaligus merendam kaki mereka di aliran air. Walaupun, ada juga tikar yang tampak dibentangkan tak di sisi aliran air.

Berbeda dengan kolam-kolam pemandian air panas yang terletak lebih tinggi, aliran air itu hanya serupa sungai kecil. Sehingga, ukuran lebarnya lebih sempit.

Jika diperhatikan, tikar-tikar itu lebih berfungsi sebagai tempat untuk menaruh barang-barang bawaan pengunjung. Sehingga ketika mereka berendam atau berenang di aliran air panas, mereka tetap bisa mengawasi barang-barang tersebut.

Meski pada beberapa tempat di atas tikar, saya melihat beberapa kelompok orang asyik menyantap makanan. Atau, beberapa lainnya sedang bersenandung diiringi suara gitar.

Di kolam-kolam pemandian air panas yang terletak lebih tinggi, tikar tak tersedia. Para pengunjung terlihat memanfaatkan kursi-kursi yang ada, untuk menaruh barang-barang bawaan mereka. Atau, tempat-tempat yang cukup luas untuk sekadar menaruh barang.

Ada juga pengunjung yang menaruh barang bawaan di tempat penitipan barang. Saya tidak sempat bertanya apakah menitipkan barang di tempat penitipan itu gratis, atau dikenakan biaya.

Fasilitas Pendukung di Curug Jodo

Selain tempat penitipan barang, toilet dan tempat bilas tersedia. Di tempat bilas, tarif yang dikenakan untuk sekali masuk Rp2 ribu. Di dalam tempat bilas, ada beberapa ruangan. Setiap ruangan hanya ditutupi tirai.

Ada dua buah keran air untuk shower (pancuran). Saya tak ingat, apakah kedua keran itu memiliki simbol warna atau tidak. Sebab biasanya, jika ada dua keran bersebelahan, masing-masing keran akan mengaliri air dengan suhu berbeda. Di mana, perbedaannya terlihat melalui simbol warna. Yaitu, warna merah menandakan air panas dan warna biru untuk air dingin.

Meski ada dua keran yang bersebelahan, saat saya coba satu per satu, air yang turun dari pancuran ternyata sama-sama terasa dingin. Walau begitu, saya tak bisa memastikan apakah kondisi serupa terjadi di ruangan lain di dalam tempat bilas, atau hanya ruangan yang saya pakai saja.

Untuk toilet, saya tak tahu apakah harus membayar atau tidak. Karena, saya tidak ke toilet umum.

Curug Jodo

Saya sebenarnya sempat ke toilet sekali. Tetapi, lokasi toilet itu berada di sebelah tempat wudu di kawasan Masjid Al Ama, yang menjadi fasilitas ibadah di Curug Jodo. Dan, saya tidak membayar di toilet tersebut. Meski sebelum meninggalkan toilet, saya terlebih dahulu memperhatikan sekeliling, mencari kotak yang biasanya ditaruh untuk membayar jasa penggunaan toilet.

Ternyata, saya tak menemukan, atau mungkin, pandangan saya terlewatkan. Hal yang pasti, saat itu, toilet tersebut tanpa penjaga, tak seperti tempat bilas.

Curug Jodo

Fasilitas pendukung lainnya yang tersedia di Curug Jodo adalah pusat jajanan. Meski saya datang malam hari, sebagian besar gerai di pusat jajanan tersebut masih tetap buka. Lokasi pusat jajanan berdekatan dengan tempat bilas dan tempat penitipan barang.

Kursi dan meja untuk pengunjung menikmati makanan pun tampak tersedia di kawasan pusat jajanan tersebut. Walaupun, beberapa gerai menyediakan makanan dalam bentuk bungkusan, antara lain sosis bakar dan kebab.

Selain makanan, beberapa penjual juga menjajakan barang untuk dijadikan oleh-oleh. Satu di antara barang yang saya lihat adalah wayang golek. Ada juga pencetakan foto di kaus atau keramik. Khusus pencetakan foto di keramik, keramik tersebut akan dibuat menjadi jam.

Curug Jodo

Saat menjelajah sebelum berendam, saya sempat melihat papan penunjuk arah. Papan itu, mencantumkan beberapa lokasi wahana yang ada di kawasan Curug Jodo, antara lain terapi ikan, flying fox, go cart, ATV, jeep offroad, becak air, sepeda air, dan beberapa wahana lainnya.

Penasaran, saya pun mencoba mencari beberapa lokasi tersebut, dengan mengikuti tanda panah. Malam itu, saya hanya menemukan lokasi wahana flying fox dan, sepertinya, becak air. Sementara untuk wahana lain, mungkin saya melewati namun tak menyadari karena kondisi gelap.

Sebab, wahana-wahana tersebut sepertinya tidak beroperasional selama 24 jam, sebagaimana kolam pemandian air panas Curug Jodo. Hal itu juga yang saya lihat saat menemukan wahana flying fox dan becak air.

Kawasan wahana untuk bermain flying fox dan becak air, terletak agak terpisah dengan kolam-kolam pemandian air panas. Lokasi wahana-wahana itu berdekatan dengan tempat duduk di sisi aliran air yang tersedia tikar.

Rute Menuju Curug Jodo

Saya mengunjungi Curug Jodo usai bertandang ke rumah seorang kerabat di Cirebon. Saya memilih rute melalui Tol Cikopo-Palimanan (Cipali). Jika melihat peta, rute melalui Tol Cipali sepertinya juga menjadi jarak terdekat menuju Curug Jodo dari Jakarta. Di mana, pengunjung bisa keluar tol di Gerbang Tol Subang.

Pada malam itu, saya mengandalkan Google Maps untuk mencapai Curug Jodo. Persoalan muncul saat mengetikkan kata “Curug Jodo” di kolom pencarian. Sebab, Google Maps malah memperlihatkan Curug Country, yang berada di Bogor.

Curug Jodo

Hingga akhirnya, saya memutuskan untuk mengetikkan kata “Ciater” di Google Maps. Google pun memberikan rute menuju tempat wisata Ciater, dari lokasi terakhir saya, yang saat itu masih berada di Tol Cipali arah Cikopo. Mendekati tempat wisata Ciater, saya baru bertanya arah menuju Curug Jodo kepada warga setempat.

Curug Jodo

Ketika saya telusuri kemudian, kata kunci di Google Maps yang menunjukkan lokasi Curug Jodo adalah “Sari Ater Hot Spring Water”. Saya memastikan hal itu saat memperbesar pandangan (zoom in) lokasi Sari Ater Hot Spring Water di Google Maps, menggunakan komputer. Ketika zoom in dilakukan, nama Curug Jodo baru terlihat. Termasuk, fasilitas Masjid Al Ama yang ada di Curug Jodo.

Curug Jodo

Menggunakan Google Maps, saya mencoba mengukur jarak Sari Ater Hot Spring Water dengan Gerbang Tol Subang di Tol Cipali. Jarak melalui rute terdekat menurut Google sejauh 31,4 kilometer (km).

Curug Jodo

Ada beberapa ruas jalan yang harus dilalui pengunjung, apabila hendak menuju Curug Jodo dari Gerbang Tol Subang. Jika Anda menggunakan Google Maps, Google akan memberikan petunjuk jalan-jalan yang harus dilalui. Sehingga, Anda cukup mendengarkan petunjuk dari Google. Dari Gerbang Tol Subang, sebagaimana saya lalui, jalur yang dilalui umumnya lurus. Tetapi mendekati Curug Jodo, jalur menanjak dan berkelok.

Dari Curug Jodo, destinasi wisata terdekat adalah Tangkuban Perahu. Berdasarkan Google, jarak antara Tangkuban Perahu dengan Curug Jodo sekitar 10,6 km. Bagi pengunjung yang berangkat dari Bandung, mereka akan terlebih dahulu melintasi Tangkuban Perahu, sebelum tiba di Curug Jodo.

Curug Jodo

Tempat Menginap

Masih dalam satu kawasan, pengunjung yang ingin bermalam bisa menginap di Sari Ater Hotel and Resort. Merujuk laman Sariater-hotel.com, Sari Ater Hotel and Resort berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Sari Ater Hotel and Resort menawarkan berbagai fasilitas, antara lain camping park, meeting package, natural hot spring, restoran, outbond, hingga rumah kebun.

Saat hendak menuju Curug Jodo, saya sempat tersasar. Menurut beberapa orang yang saya tanya kemudian, saya ternyata masuk melalui bagian belakang. Meskipun saat meninggalkan Curug Jodo, saya melalui bagian depan.

Karena melalui bagian belakang itu, saya harus melewati kawasan penginapan terlebih dahulu, sebelum tiba di Curug Jodo. Kawasan penginapan tersebut cukup luas. Sebab di dalamnya, karena beberapa kali salah belok, saya sempat berputar-putar. Saya pun menyempatkan diri untuk mengamati penginapan tersebut, meski tak sempat mengambil gambar.

Meninggalkan Curug Jodo

Sekitar pukul 22.30 Wib, saya menyudahi kunjungan ke Curug Jodo. Sebelum pulang, saya menghangatkan badan terlebih dahulu, setelah terguyur air dingin saat bilas.

Sambil meminum segelas kopi seharga Rp6 ribu, saya menatapi kolam pemandian air panas di depan saya. Dalam pengamatan saya, jumlah pengunjungnya justru terlihat semakin banyak, dibandingkan saat saya datang.

BACA JUGA: Bagelen, Tanah Kolonisasi Pertama di Indonesia

Saya tak mengetahui dari mana saja para pengunjung itu berasal. Tetapi berdasarkan pendengaran saya, beberapa pengunjung itu bercakap dengan sesama mereka menggunakan bahasa Sunda. Walau tak sedikit juga, pengunjung yang menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah lain.

Demikian, pemandangan yang saya temui saat berkunjung ke Curug Jodo, Sari Ater, Subang. Meski malam, hal itu ternyata tak membuat pengunjung surut untuk mendatangi destinasi wisata tersebut.

Curug Jodo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *