Belajar Menulis dengan Membaca Novel

Ketika saya mulai belajar menulis, banyak orang yang telah lebih ahli dari saya memberikan saran. Secara umum, saran mereka sebenarnya memiliki kesamaan. Ada dua hal yang disarankan kepada saya, apabila ingin menjadi seorang penulis, yaitu terus berlatih menulis dan rajin membaca.

Saran pertama bertujuan untuk mengasah kemampuan menulis. Ada pepatah mengatakan, alah bisa karena biasa. Maknanya, sesuatu yang pada awalnya dirasa sulit, apabila terus menerus dilakukan, hal itu akan menjadi mudah.

BACA JUGA: Judul Menarik, Perhatikan Kata Kunci dan Pendek

Saran kedua bertujuan untuk memperluas wawasan. Wawasan tersebut penting sebagai bahan tulisan. Jika tidak punya wawasan, lalu, apa yang akan ditulis? Mungkin ada. Tetapi, kualitas dari tulisan itu mungkin tak sebaik, dengan tulisan yang dibangun dari bahan-bahan yang mumpuni.

Selain sebagai bahan tulisan, membaca juga bertujuan untuk memperbaiki tulisan supaya lebih baik. Terutama, hal itu bisa didapat dari buku-buku atau artikel-artikel, yang membahas tentang pelatihan menulis. Meski begitu, pelatihan menulis sebenarnya tidak melulu didapat dari buku-buku teori semacam itu.

Selain buku-buku teori penulisan, bahan bacaan yang baik untuk belajar menulis adalah novel.

Untuk meningkatkan kemampuan menulis, selain terus berlatih dan membaca buku teori penulisan, novel perlu menjadi perhatian utama untuk dibaca. Setidaknya, menurut saya, ada dua hal keunggulan membaca novel guna meningkatkan kemampuan menulis, yaitu memperkaya diksi dan melatih menulis deskripsi.

Memperkaya Diksi

Sebelum membahas lebih jauh, saya ingin bertanya, pernahkah Anda bosan membaca sebuah bacaan karena bahasanya yang monoton? Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?

Biasanya, orang akan akan berhenti membaca. Bagi seorang penulis, hal seperti itu tentu sangat tak diharapkan. Setiap penulis pasti sangat menginginkan tulisan yang dibuat dibaca sampai selesai. Karena itu, penggunaan bahasa yang variatif, akan sangat berpengaruh terhadap tingkat keterbacaan.

BACA JUGA: Latihan Menulis, Mulai dengan Kalimat Sederhana

Bagaimana bahasa yang monoton? Saya akan mencoba memberi contoh dari sebuah paragraf di bawah ini.

Anita hanya tahu ibunya telah meninggal. Tetapi, ia tak tahu apa penyebab ibunya meninggal. Ayahnya hanya mengatakan bahwa ibunya meninggal. Tetapi, ia tak pernah bercerita apapun.

Paragraf di atas terasa monoton karena minimnya variasi kata. Kata yang sama muncul berulang-ulang di satu paragraf. Tentu, hal tersebut sangat mampu untuk membuat pembaca menjadi bosan.

Seorang penulis harus berupaya menghindari kebosanan pembaca, saat membaca artikel. Salah satu cara belajar menulis supaya menghasilkan karya yang tidak monoton, dengan membaca novel. Karena umumnya, novel kaya akan diksi. Dari sana, seorang penulis bisa memiliki perbendaharaan kosakata yang banyak.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diksi berarti pilihan kata yang tepat dan selaras dalam penggunaannya, untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu.

Dengan adanya variasi kata, tulisan yang dibuat tentu akan semakin “renyah”. Sehingga, pembaca bisa “menyantapnya dengan nikmat”.

Dari contoh paragraf monoton di atas, saya akan mencoba memberi variasi kata. Semoga, paragraf tersebut akan lebih enak dibaca.

Anita hanya tahu ibunya telah meninggal. Tetapi, ia tak tahu apa penyebab wanita yang ia sayangi itu kembali ke sisi Tuhannya. Ayahnya cuma menyampaikan berita saat ibunya menemui ajal. Tetapi, ia tak pernah bercerita apapun.

Melatih Menulis Deskripsi

Sebuah novel yang bermutu biasanya mampu memberikan penggambaran secara rinci. Sehingga, pembaca seolah-olah berada dalam cerita di novel tersebut. Pola penggambaran tersebut dikenal sebagai jenis karangan deskripsi.

Mengajak pembaca menjadi bagian dalam tulisan, merupakan hal yang sulit. Tetapi jika seorang penulis mampu melakukan hal itu, saya yakin, pembaca baru akan meninggalkan tulisan tersebut, saat ia telah selesai membaca seluruh isi tulisan.

Umumnya, pola deskripsi muncul pada beberapa bagian di dalam novel. Ada beberapa penulis novel yang memang mengutamakan menggunakan pola deskripsi dalam membuat novel. Sehingga, pola deskripsi menjadi hal yang mayoritas dalam isi novel.

Sementara, beberapa penulis novel lainnya mengutamakan pola narasi saat membikin novel. Meski begitu, pola deskripsi biasanya tetap muncul pada cerita di dalam isi novel, walaupun tak menjadi mayoritas.

Penerapan pola deskripsi sebenarnya tidak terbatas pada tulisan fiksi, tulisan nonfiksi pun bisa menerapkan hal serupa. Karena itu, dengan mempelajari pola deskripsi di dalam novel, harapannya, seorang penulis bisa terbiasa memakai pola deskripsi saat membuat tulisan, baik fiksi maupun nonfiksi.

BACA JUGA: Teknik Menulis Deskripsi, Berlatih dengan Mata

Sebab dengan keunggulannya, pola deskripsi memiliki kelayakan untuk dipelajari dan digunakan saat membuat tulisan. Tentu dengan harapan, hal itu mampu menarik lebih banyak pembaca.

Di akhir artikel ini, saya ingin mengatakan, dua saran di atas hanyalah satu dari banyak cara dalam belajar menulis. Saya berharap, dua saran tersebut bisa turut membantu meningkatkan kemampuan menulis pembaca. Selamat mencoba.

belajar menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *