Sejarah dan Penerapan Aturan Sepertiga (Rule of Thirds)

Rule of Thirds atau aturan sepertiga ditulis pertama kali oleh seorang pelukis, pemahat, sekaligus kolektor barang kuno asal Inggris, John Thomas Smith.

Dilansir dari Wikipedia, John Thomas Smith menulis rule of thirds dalam bukunya Remarks on Rural Scenery pada 1797. Dalam tulisannya pada buku itu, Smith mengambil kutipan Sir Joshua Reynolds.

BACA JUGA: 2 Unsur Pembentuk Film

Pada 1783, Reynolds menulis buku Annotations on the Art of Painting of Charles Alphonse Du Fresnoy.

Dalam buku itu, Reynolds membahas keseimbangan antara gelap dan terang dalam lukisan. Tetapi, pembahasan yang disampaikan Reynolds belum memiliki keterukuran.

Smith kemudian melanjutkan pembahasan itu dengan ide yang lebih luas. Ia menamakan ide itu dengan rule of thirds.

Teknik Aturan Sepertiga

Dalam aturan sepertiga, di satu bidang gambar, empat garis imajiner dibuat, berupa dua garis horizontal dan dua garis vertikal. Keempat garis itu membagi gambar menjadi sembilan bagian yang sama besar.

Persimpangan masing-masing dua garis horizontal dan vertikal akan membentuk empat titik.

Komposisi gambar terbaik dicapai, bila posisi obyek utama terletak di, atau mendekati, keempat titik tersebut.

Meski begitu, hal itu bukan berarti semua obyek utama harus berada di empat titik tersebut. Boleh jadi, obyek utama hanya berada di satu atau dua titik.

Dengan adanya pembagian-pembagian tersebut, aturan sepertiga akan membentuk kesan dinamis pada gambar.

Aturan Sepertiga dalam Fotografi

Aturan Sepertiga adalah salah satu panduan untuk meletakkan obyek yang akan difoto.

BACA JUGA: Rahasia Menulis Skenario Film ala Raditya Dika

Meskipun sebagai panduan, kewajiban untuk mematuhi hal tersebut tidak ada. Sebab, panduan tersebut tidak bisa diterapkan pada semua obyek. Sehingga, kepekaan fotografer untuk menentukan akan menggunakan aturan sepertiga atau tidak, saat sedang memotret, sangat diperlukan.

Dikutip dari Seputarfotografi.com, penerapan aturan sepertiga mampu menghasilkan komposisi foto yang enak dipandang, dinamis, serta lebih seimbang.

Peletakan obyek utama di salah satu titik aturan sepertiga, dan bukan di tengah gambar, seperti dikutip dari kelasfotografi.com, akan lebih menambah daya tarik visual, dan memberikan kesan drama atau cerita.

Hal itu salah satunya bisa diterapkan saat memfoto gambar bergerak. Misalnya, Anda memfoto balapan motor. Dengan menempatkan obyek utama, yaitu pebalap, di sepertiga foto, dan memberikan ruang kosong di depan pebalap itu, maka foto itu akan tampak bercerita tentang balapan motor.

Selain itu, aturan sepertiga dapat dengan mudah mengatur simetri obyek pada foto landscape, dengan memilih garis cakrawala sebagai tolok ukur.

Penerapan pada Sinematografi

Adegan-adegan dalam gambar bergerak yang dinamis, umumnya menerapkan aturan sepertiga.

Arah gerak obyek utama biasanya telah disiapkan, berupa ruang kosong di depan obyek utama. Sehingga, penonton bisa mengetahui ke mana obyek utama akan bergerak.

Misalkan, contoh balapan motor di atas. Jika pada foto, hal tersebut akan memberikan kesan cerita. Pada gambar bergerak, hal itu memperlihatkan arah pergerakan motor pada frame-frame selanjutnya.

Mengutip buku Memahami Film karya Himawan Pratista, aturan sepertiga juga diterapkan pada arah pandang obyek utama.

BACA JUGA: Membuat Kerangka Karangan dengan Teknik Visualisasi

Ruang pandang biasanya diberikan pada sisi atau arah, di mana karakter tersebut memandang. Biasanya, wajah karakter terletak di sisi pinggir frame, dan menyisakan banyak ruang kosong di depannya.

Komposisi seperti itu sering terlihat dalam adegan dialog. Di mana, penerapan aturan sepertiga membuat adegan dialog menjadi lebih dinamis.

Aturan Sepertiga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment