Arca Joko Dolog, Tempat Wisata Sejarah di Surabaya

Duduknya bersila. Lipatan kaki kirinya ditaruh di bagian bawah. Sementara, telapak kaki kanannya menimpa paha kiri. Pada sebuah papan berwarna putih, jejeran huruf menyusun nama Arca Joko Dolog.

Selepas Magrib, Senin (17/10/2016), kegelapan menyelimuti mayoritas pemandangan di lokasi bangunan cagar budaya, di Jalan Taman Apsari, Surabaya itu. Cahaya hanya muncul dari bantuan sebuah lampu jalan, yang sebenarnya di arahkan ke aspal di sisi timur.

Arca Joko Dolog

Sebuah cahaya kecil lainnya muncul dari lampu, yang terpasang tepat di atas Arca Joko Dolog. Menurut keterangan singkat di prasasti, yang tertempel di tembok pintu masuk cagar budaya itu, Arca Joko Dolog merupakan patung perwujudan Raja Kertanegara sebagai Mahaaksobya.

Arca itu berwarna abu-abu. Sebuah selendang bergelayut di bahu kirinya, dan terus berputar ke pinggang kanan, hingga kembali ke bahu semula.

Dalam duduk silanya, Raja Kertanegara menjuntaikan kedua lengannya. Telapak tangan kanan di atas paha kanan.

BACA JUGA: Tugas Mengarang SD Ajang Latihan Menulis Deskripsi

Sementara, siku tangan kiri di telapak kaki kanan. Dan, di atas betis kaki kanannya, telapak tangan kirinya ditaruh.

Arca Joko Dolog diletakkan tepat di tengah gazebo berlantai keramik, dengan ukuran sekitar 4×4 meterpersegi.

Empat tiang kayu berdiri di empat sudut gazebo. Di depan dua tiang di bagian muka, dua payung warna kuning ditaruh.

Gazebo itu dibuat lebih tinggi, dibandingkan tapak sekitarnya. Hal itu tampak dari enam anak tangga, yang berada di muka gazebo.

Berjarak sekitar tiga meter di depan gazebo, dua buah pohon beringin besar tertanam.

Sebuah jalan setapak berada di antara dua beringin tersebut. Jalan yang terbuat dari paving block itu, berada lurus dengan anak tangga gazebo.

Itulah isi Bangunan Cagar Budaya Arca Joko Dolog. Seluruh kawasan cagar budaya tersebut dikelilingi pagar besi warna putih.

Kawasan itu hanya memiliki sebuah pintu, yang juga terbuat dari besi. Pintu tersebut berada di ujung jalan setapak, tak jauh dari pohon beringin. Lebar pintu itu sekitar dua meter, serupa dengan lebar jalan setapak.

Selepas Magrib, pintu pagar itu telah terkunci menggunakan sebuah gembok.

Lokasi Arca Joko Dolog

Saya mulai memasuki pusat Kota Surabaya, Jawa Timur ketika matahari mulai terbenam.

Saat itu, saya hendak menuju Taman Apsari. Taman Apsari berada di hadapan Gedung Grahadi, tepatnya di sisi selatan gedung.

Kedua tempat itu dipisahkan sebuah jalan protokol, Jalan Gubernur Suryo.

Gubernur Suryo merupakan gubernur pertama Jawa Timur. Selain diabadikan sebagai nama jalan, sebuah monumen juga didirikan untuk mengenang Gubernur Suryo. Monumen berupa patung tersebut berada di tengah Taman Apsari.

Merujuk artikel Menikmati Indahnya Taman Apsari di Surabaya, yang ditulis Heri Agung Fitrianto di Kompasiana, Taman Apsari merupakan taman peninggalan Pemerintah Belanda.

Taman Apsari dibangun tahun 1795, bersamaan dengan pembangunan Gedung Grahadi.

Sementara merujuk Wikipedia, Gedung Grahadi dibangun pada masa Residen Dirk van Hogendorps (1794-1798).

Tepat di timur Taman Apsari, Jalan Taman Apsari berada. Jalan itu bersinggungan langsung dengan Jalan Gubernur Suryo.

Meski begitu, Jalan Taman Apsari bukan jalan protokol serupa Jalan Gubernur Suryo. Jalan Taman Apsari hanyalah jalan kecil, yang lebarnya cuma cukup untuk dua unit mobil melintas beriringan.

Mobil yang saya tumpangi berhenti di Taman Apsari, di sisi Jalan Taman Apsari. Berbeda dengan kondisi Jalan Gubernur Suryo, yang lalu lintasnya cukup padat, Jalan Taman Apsari tak banyak dilalui kendaraan.

BACA JUGA: Malaysia dan Kisah Paha di Balik Sarung

Niat saya ke Taman Apsari ternyata urung terlaksana. Hal itu karena seorang teman memberi informasi tentang Arca Joko Dolog.

Saya yang menyukai sejarah, akhirnya memilih untuk melihat Arca Joko Dolog.

Arca Joko Dolog berada di Jalan Taman Apsari. Dari ujung Jalan Taman Apsari, yang bersimpangan dengan Jalan Gubernur Suryo, lokasi Cagar Budaya Arca Joko Dolog sekitar 200 meter.

Arca Joko Dolog

Saya berjalan kaki ke Arca Joko Dolog. Selama perjalanan, saya memiliki harapan untuk bisa mengabadikan satu di antara tempat wisata sejarah di Surabaya tersebut.

Sayang, keinginan itu tak bisa terwujud. Pintu pagar cagar budaya itu terkunci. Sehingga, saya tak bisa masuk.

Selain itu, penerangan di cagar budaya tersebut minim. Saya yang hanya membawa ponsel pintar, akhirnya kesulitan untuk mengambil gambar arca Joko Dolog dari luar pagar.

Sejarah Raja Kertanegara

Sebagaimana disebutkan di atas, Arca Joko Dolog merupakan patung perwujudan Raja Kertanegara. Lalu, siapakah Raja Kertanegara?

Mengutip buku Sejarah untuk SMA/MA Kelas XI karya Dwi Ari Listiyani, Kertanegara merupakan raja kelima sekaligus raja terakhir Kerajaan Singasari. Kertanegara memerintah antara tahun 1268 sampai 1292.

Ia memiliki gelar Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara.

Kertanegara merupakan anak Ranggawuni, Raja Singasari sebelumnya. Ranggawuni bergelar Sri Jaya Wisnuwardana.

Pada 1254, Wisnuwardana mengangkat Kertanegara sebagai yuwaraja atau raja muda. Wisnuwardana bermaksud menyiapkan Kertanegara sebagai Raja Singasari.

Dan pada 1268, Wisnuwardana meninggal dunia. Kertanegara pun diangkat menjadi Raja Singasari.

Merujuk Wikipedia, Kertanegara adalah sosok raja Jawa pertama, yang ingin memperluas kekuasaannya mencakup wilayah Nusantara.

Untuk mewujudkan ambisinya, Kertanegara melaksanakan ekspedisi Pamalayu atau perang Malayu. Ekspedisi itu bertujuan menaklukkan kerajaan-kerajaan di Sumatera.

Sehingga, Kertanegara bisa memperkuat pengaruhnya di Selat Malaka, yang merupakan jalur ekonomi dan politik yang penting.

Ekspedisi tersebut juga bertujuan mengadang pengaruh Kerajaan Mongol, yang telah menguasai hampir seluruh daratan Asia.

Pengiriman pasukan ke Sumatera dimulai pada 1275. Dan pada 1286, Kertanegara sudah dapat menundukkan Malayu.

Pada 1284, Kertanegara juga berhasil menaklukkan Bali.

Tetapi sebelum cita-citanya menguasai Nusantara tercapai, Kertanegara lebih dulu meninggal.

Kertanegara tewas akibat pemberontakan Jayakatwang, Bupati Gelang-Gelang sekaligus sepupu, ipar, dan besannya.

BACA JUGA: Kerupuk Mi Kuah Sate, Kenikmatan Kuliner Khas Daerah

Di Kerajaan Singasari, Kertanegara memperkenalkan penyatuan agama Hindu aliran Syiwa dengan Budha aliran Tantrayana.

Kertanegara diwujudkan dalam sebuah arca Mahaaksobya, yang kini terdapat di Jalan Taman Apsari, Surabaya.

Sebelumnya, arca itu berasal dari situs Kandang Gajak, Trowulan. Pada 1817, Residen Baron AM Th de Salis memindahkan arca itu ke Surabaya. Arca itu kemudian dikenal sebagai Arca Joko Dolog.

Arca Joko Dolog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *