Amplop Putih

Dahiku mengernyit. Pikiranku berkelana, senang bercampur bingung yang penuh tanda tanya. Untuk beberapa lama, aku hanya memegangi amplop putih bertuliskan namamu di alamat pengirim.

Aku memegangi amplop putih itu sejak seorang pegawai kantor pos memberikannya. Hingga kemudian, aku melewati teras, ruang tamu, ruang makan, sampai akhrinya aku berlabuh di kamar tidur.

BACA JUGA: Bahasa Sederhana – Membuat Tulisan Enak Dibaca 2

Sepanjang perjalanan itu, aku hanya mencapit ujung bagian atas amplop putihmu menggunakan empat jariku, dua telunjuk dan dua jempol, dua di kiri dan dua lagi di kanan. Sambil terus, mataku menatap erat namamu.

“Mengapa surat?” selorohku pelan.

Aku taruh amplop putih darimu di atas kasur, di depan wajah yang menatap bawah. Selang beberapa menit, kubiarkan daguku menopang kepala, dengan badan yang masih tertelungkup.

Selama enam tahun ini, kita tak pernah berkirim surat. Maklum, teknologi terbaru membuat komunikasi lebih mudah. Tanpa harus capai menulis, kita tinggal tekan tombol dan perbincangan pun dimulai.

Kalaupun mau sedikit lelah, atau waktu yang tak memungkinkan untuk menggerakkan lidah, pesan singkat maupun aplikasi perpesanan telah memudahkan percakapan kita, yang tinggal berbeda pulau.

“Mungkinkah kamu ingin bersikap romantis?” pertanyaan lain muncul di benakku.

Aku memang menahan diri untuk tak menghubungimu dalam empat hari terakhir. Ternyata, kamu melakukan hal serupa. Sampai tiba pada siang ini, amplop putih darimu datang. Dan, aku masih menerka isinya.

Pembicaraan kita terakhir kali melalui telepon berakhir memuakkan. Setidaknya, buatku.  Kamu terlalu kekanak-kanakan, marah hanya karena persoalan sepele.

“Kenapa tidak pakai jaket?” tanyamu singkat.

Kan cuma sebentar. Cuma menemani Tami beli bakso doang tadi. Lagian, pakai baju panjang, kok,” ucapku.

“Tapi kan sudah malam. Dingin. Kamu kan gampang sakit. Tinggal pakai jaket kan gampang,” suaramu semakin meninggi.

Iya, iya, besok pakai jaket,” kataku tak kalah tinggi.

“Sudahlah, mau makan dulu,” kamu langsung mematikan telepon tanpa menunggu jawabanku.

Biasanya, kamu akan mengirimkan pesan singkat setelahnya. Meskipun isinya masih mengulang percakapan serupa di telepon, aku tetap senang. Entah kenapa, aku hanya merasa itu adalah bentuk perhatianmu. Tetapi malam itu, hal tersebut tak terjadi.

Aku memberanikan diri membuka amplop putih darimu. Masih dengan empat jari, kupegang bagian atas amplop untuk kurobek secara horizontal. Tangan kananku kemudian meraba isinya. Belum sebuku jari telunjukku tenggelam, sebuah kertas terasa. Pelan, kutarik kertas itu.

Warnanya putih tanpa garis dan terlipat tiga. Hatiku bergetar takut saat membuka ketiga lipatan itu. Aku tak mampu membayangkan isinya. Apakah ini puncak kemarahanmu? Atau, ada suatu hal buruk yang ingin kamu sampaikan? Aku tak tahu. Hal yang pasti, kepalaku hanya dipenuhi pikiran negatif.

Hingga kemudian, aku menjadi bingung. Tak cuma tanpa garis, kertas itu tidak berkata. Hanya putih tanpa cela. Kecuali, sedikit cacat karena dua bekas lipatan.

“Putih itu enak dilihat. Putih itu kebebasan, seperti awan yang leluasa menjelajah dunia. Tetapi, ia juga mampu meneduhimu dari terik,” ucapmu dahulu, sambil terbaring di atas rumput di pinggir danau.

Kita tak banyak berjumpa karena mengejar cita untuk bersama. Sebab, sekadar cinta tak cukup. Ada mulut yang harus disuapi. Ada tubuh yang harus ditutupi. Termasuk, rumah buat kita kembali. Demi itu, kita terpisah sementara.

“Putih mencerminkan pengorbanan. Karena putih, warna lain menjadi terlihat lebih indah,” katamu melanjutkan, sembari menengokkan kepala ke arahku yang terduduk di sebelahmu. Aku yang terus memperhatikan wajahmu untuk melepas rindu. Sebab dalam dua bulan, hanya tiga hari berturut bisa kutatap wajahmu. Entah kapan, wajahmu bisa kutatap setiap aku membuka mata di atas tempat tidur.

“Ra,” panggilmu sedikit keras.

Iya,” kepalaku bergerak sedikit, tersadar dari khayalan.

“Pasti tidak dengar.”

“Aku dengar, kok. Kenapa kamu suka sekali warna putih?” aku mencoba menipu.

“Karena, merpati putih itu lambang cinta, cinta dariku untukmu.”

Gombal,” kuimbangi senyummu dengan tawaku.

Cukup lama, aku membenamkan lagi kepalaku di kasur. Kubiarkan amplop putih dan kertas berwarna serupa saling bertumpuk, berserak di depanku. Pesanmu terlalu rumit buatku. Tidak, kamu yang terlalu rumit buatku.

Selama enam tahun bersama, banyak larangan yang kuterima. Terkadang, hal-hal itu sepele. Ya, termasuk pergi naik motor tanpa jaket, yang menjadi penyebab pertengkaran terakhir kita. Kamu melarangku di banyak hal. Padahal kamu tahu, aku suka melakukan banyak hal. Karena, aku ingin hidupku berwarna. Perbedaan itu terasa rumit buatku.

“Mungkinkah,” kuangkat kepalaku dengan dagu masih menyentuh kasur. “Kau ingin meninggalkanku.”

Kuingat lagi perkataanmu tentang putih dan awan yang bebas, tentang putih dan pengorbanan. Kulihat lagi tumpukan kertas dan amplop putih. Kubayangkan lagi wajahmu. Matamu. Senyummu. Marahmu. Laranganmu.

Ah,” kepalaku tak mampu berpikir.

Kuletakkan pipi kiriku di atas kasur. Mataku menatap jendela yang terbuka. Ada langit biru di dalamnya. Dan, awan putih yang berarak, bebas.

Mungkinkah, mereka melewati tempatmu berada. Kalaupun iya, kamu mungkin tak memperhatikan. Kamu terlalu sibuk untuk bisa sejenak menatap langit. Kamu terlalu senang untuk mengurus banyak hal, yang katamu bisa membuat hidup berwarna.

Kutengok lagi ponsel yang sedari tadi kugenggam. Seharusnya, kamu sudah meneleponku. Atau setidaknya, memberiku kabar melalui pesan singkat. Tetapi, namamu tak juga muncul di dalam layar ponsel.

“Ra,” aku mulai mengetik pesan dalam ponsel, hendak bertanya. Bukan, aku ingin memastikan. Bahwa, kamu telah menerima suratku. Amplop putih dan kertas tanpa kata. Serta, sebuah cincin emas untuk mengikatmu.

BACA JUGA: Pulang dan Menunggu Pulang

Kubungkus semua itu dengan tanganku. Berkali-kali, kupastikan lagi, amplopnya benar-benar putih, begitupun kertasnya. Karena, aku ingin pengorbanan mereka sempurna, untuk membuat cincin berkilau merona.

“Ra,” huruf di dalam ponsel masih kupandangi. Sambil berharap, senyummu segera datang lewat suara atau kata-kata dalam pesan.

amplop putih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *