7 Kesalahan Penulisan, Mubazir Kata

Posted on Teori Praktik 1315

Kesalahan penulisan merupakan hal yang selalu dihindari setiap penulis. Namun terkadang, kesalahan penulisan masih saja tertera dalam artikel yang dibuat.

Pada artikel kali ini, saya ingin mengulas kesalahan penulisan pada penggunaan kata yang berlebih, dalam satu kalimat. Kata yang berlebih dalam hal ini adalah kata yang memiliki arti sama, tetapi ditulis dua kali.

BACA JUGA: Gadget Murah atau Gawai Terbaru

Tentu, hal itu membuat sebuah kalimat menjadi mubazir kata-kata. Sebab dengan arti yang sama, keberadaan satu kata dalam satu kalimat, seharusnya sudah cukup.

Untuk lebih memudahkan pembahasan, mari lihat tujuh contoh kalimat di bawah ini.

  1. Para ibu-ibu memasak bersama.
  2. Dia mendapat stigma negatif karena sering buang sampah sembarangan.
  3. Atraksinya ditonton khalayak ramai.
  4. Bapak masuk ke dalam rumah setelah mencuci motor.
  5. Lurah menyampaikan pidato di hadapan warga masyarakat.
  6. Rini rajin belajar agar supaya pandai.
  7. Kedua orangtua Budi berangkat ke Tanah Suci.

Usai melihat tujuh kalimat di atas, saya akan telaah satu per satu, di mana letak kesalahan penulisan. Yaitu, kata yang memiliki arti sama atau hampir sama, tetapi ditulis dua kali.

Pada kalimat pertama, ada tulisan para ibu-ibu. Para menunjukkan jumlah yang banyak. Begitu pula, pengulangan kata ibu menjadi ibu-ibu, menunjukkan jumlah yang banyak.

Sehingga, penggunaan kata para ibu-ibu secara bersamaan menjadi salah. Kalimat yang benar seharusnya menjadi, “Para ibu memasak bersama.” Atau, “Ibu-ibu memasak bersama.”

Pada kalimat kedua, kesalahan tampak pada penulisan stigma negatif.

Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, kata stigma memiliki arti ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang.

Sehingga, penggunaan kata negatif setelah kata stigma merupakan sebuah pemborosan kata. Karena, kata stigma sudah mengandung arti negatif.

Seharusnya, kalimat menjadi berbunyi, ” Dia mendapat stigma karena sering buang sampah sembarangan.”

Berlanjut ke kalimat berikutnya, apakah Anda sudah tahu kata mana yang bisa dihilangkan?

BACA JUGA: Mengawali Tulisan dengan Menabung Ide

Ya, kata ramai. Kata ramai di belakang kata khalayak tidak perlu ada.

Sebab, khalayak memiliki arti orang banyak. Orang banyak sudah tentu ramai. Alhasil, penulisan kata ramai usai kata khalayak, hanyalah sebuah pemborosan kata.

Pada kalimat keempat, penulisan masuk ke dalam merupakan kata-kata yang mubazir, yang bisa dipersingkat.

Dalam KBBI Daring, kata masuk berarti datang atau pergi ke dalam. Sehingga, cukup dengan menuliskan kata masuk, hal itu sudah menunjukkan kegiatan orang yang pergi ke dalam.

Penambahan frasa ke dalam tak perlu lagi dilakukan, usai menulis kata masuk.

Serupa dengan kata masuk, pemborosan kata juga biasa ditemukan pada penulisan naik ke atas atau turun ke bawah. Penulisan tersebut menjadi mubazir karena naik pasti ke atas, dan turun pasti ke bawah. Sehingga, satu kalimat sudah akan sangat jelas, jika hanya ditulis kata naik atau kata turun.

Selanjutnya, kalimat kelima memiliki kejanggalan pada penulisan warga masyarakat. Sebab, dua kata itu memiliki arti sama. Penggunaan satu di antara dua kata itu akan lebih tepat, untuk menghindari pemborosan kata dalam kalimat.

Kalimat yang tepat akan menjadi, “Lurah menyampaikan pidato di hadapan warga.” Atau, “Lurah menyampaikan pidato di hadapan masyarakat.”

Hal serupa juga terlihat pada kalimat keenam.

Dalam KBBI Daring, kata agar berarti kata penghubung untuk menandai harapan. Sementara, kata supaya memiliki arti kata penghubung untuk menandai harapan.

Karena memiliki arti yang sama, kalimat keenam seharusnya menggunakan satu kata saja, antara kata agar atau kata supaya.

Tak terasa, kita sudah sampai pada pembahasan kalimat ketujuh atau kalimat terakhir. Pada kalimat terakhir, pemborosan kata terdapat pada penulisan kedua orangtua.

Sebab, merujuk KBBI Daring, kata orangtua memiliki arti ayah dan ibu kandung. Kata orangtua adalah kata jamak yang merujuk pada dua orang, yakni ayah dan ibu. Dengan demikian, penggunaan kata kedua di depan kata orangtua, tak lagi diperlukan.

BACA JUGA: Membuat Kerangka Karangan hingga Menjadi Tulisan

Kalimat yang seharusnya ditulis menjadi, “Orangtua Budi berangkat ke Tanah Suci.”

Itulah tujuh kesalahan penulisan berupa pemborosan kata, atau penerapan kata-kata yang mubazir. Semoga, artikel ini memberi manfaat bagi Anda.

kesalahan penulisan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *