6 Tips Melakukan Wawancara dalam Reportase

Wawancara merupakan satu dari tiga teknik dalam reportase. Seorang jurnalis melakukan wawancara untuk mendapatkan informasi berupa fakta dari narasumber. Dari fakta-fakta yang telah dikumpulkan, barulah kemudian, jurnalis membuat berita.

Karena fakta merupakan dasar utama dari sebuah berita, maka untuk menghasilkan berita yang akurat, jurnalis harus mampu mengumpulkan fakta sebaik mungkin. Hal itu satu di antaranya tergantung pada proses wawancara.

Dalam melakukan wawancara, jurnalis mesti bisa menggali secara mendalam, berbagai informasi yang dimiliki narasumber. Semakin banyak informasi yang didapat, konstruksi fakta yang didapat umumnya akan semakin baik.

Misalnya, ada dua jurnalis yang mewawancarai seorang pendaki gunung. Jurnalis pertama hanya mendapatkan kisah narasumber saat berada di puncak sebuah gunung. Sementara, dari narasumber yang sama, jurnalis kedua mampu mendapatkan informasi tambahan, misalnya berupa jalur yang dilalui saat menuju puncak, waktu perjalanan yang dibutuhkan, berat beban yang dibawa saat menuju puncak, dan sebagainya.

Agar mendapatkan informasi berlimpah saat melakukan wawancara, setidaknya, ada enam hal yang perlu diperhatikan. Berikut, enam tips melakukan wawancara dalam reportase.

  1. Membangun kedekatan dengan narasumber

Percakapan antara dua orang yang baru saling kenal dengan dua orang yang sudah lama berteman, tentu berbeda. Dua orang yang baru berkenalan tentu akan mengobrol dengan sangat terbatas. Sebab, keduanya baru saling menjajaki pribadi masing-masing lawan bicara. Sehingga, informasi yang didapat pun umumnya tak terlampau banyak.

Kecuali, satu atau kedua orang tersebut memiliki kepribadian mudah berbaur dengan orang lain. Di mana, ia mempunyai kemampuan untuk dekat secara emosional secara cepat, saat berkomunikasi bersama orang lain.

Pengecualian tersebut merupakan hal yang harus dikuasai seorang jurnalis. Sebab ada kalanya, jurnalis bertemu orang-orang baru. Dan dari orang-orang baru tersebut, ia tetap dituntut untuk menggali informasi sedalam-dalamnya.

Karena itu, seorang jurnalis mesti bisa membangun kedekatan terhadap narasumber yang akan diwawancarai. Hal tersebut bertujuan untuk membuat suasana nyaman dan meningkatkan kepercayaan narasumber.

Dengan suasana nyaman, narasumber diharapkan mau memberikan informasi sebanyak-banyaknya. Harapan serupa bisa berlaku jika tingkat kepercayaan narasumber terhadap jurnalis meningkat. Penjelasan lebih rinci mengenai hal tersebut akan dipaparkan pada poin berikutnya.

Lalu, bagaimana cara untuk membangun kedekatan dengan narasumber?

Setidaknya, ada dua hal yang dapat dilakukan jurnalis, untuk membangun kedekatan dengan narasumber, saat melakukan wawancara.

a. Mencari latar belakang narasumber

Umumnya, seseorang akan merasa nyaman jika diajak mengobrol hal yang ia sukai. Untuk mengetahui hal yang disukai narasumber, jurnalis perlu mencari tahu latar belakang narasumber tersebut. Setidaknya, latar belakang mengenai hal-hal yang disukai tersebut.

Jika tak memungkinkan untuk mencari latar belakang, coba amati suasana di sekitar narasumber. Misalnya, jurnalis hendak mewawancarai seorang pejabat sipil pemerintah daerah (pemda). Saat memasuki ruang kerja pejabat sipil tersebut, ia melihat beberapa foto anak kecil.

Anak kecil tersebut bisa diduga sebagai orang yang sangat disayangi, hingga fotonya dipajang di ruang kerja.

Untuk membangun kedekatan, jurnalis bisa membuka perbincangan dengan mengajukan pertanyaan mengenai foto tersebut. Pertanyaan serupa berlaku untuk latar belakang narasumber yang telah diketahui jurnalis.

Secara psikologi, pertanyaan-pertanyaan tersebut bertujuan untuk mengubah suasana hati narasumber menjadi lebih senang. Sebab, ia diajak untuk mengingat dan membicarakan hal-hal yang ia senangi.

b. Menunjukkan empati

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, empati berarti keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya, dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain.

Penunjukan empati dapat diterapkan untuk membangun kedekatan dengan narasumber pada peristiwa terkait musibah. Di mana, narasumber tersebut menjadi korban atas peristiwa musibah yang terjadi.

Maka di awal pertemuan dengan narasumber, jurnalis dapat memberikan pertanyaan-pertanyaan personal. Hal itu pun dapat diselingi dengan pernyataan-pernyataan yang memperlihatkan empati.

Contohnya, saat meliput peristiwa tabrakan kereta dengan kendaraan bermotor, jurnalis tentu wajib mewawancarai korban. Sebab, dalam Teori Lingkaran Konsentris yang disampaikan David Protess, korban berada di dalam lingkaran pertama peristiwa. Sehingga, korban wajib diwawancarai.

Tetapi dalam kondisi tersebut, mental korban tentu tidak stabil. Maka, jurnalis sebaiknya tidak langsung bertanya “membabi buta” demi mendapatkan informasi. Bisa jadi, hal itu justru membuat jurnalis tidak mendapatkan informasi apapun. Karena, korban enggan berbicara.

Menunjukkan rasa empati hingga korban dengan sendirinya akan bercerita, sebaiknya menjadi langkah yang diterapkan. Proses tersebut biasanya memang membutuhkan waktu. Sebab, hal itu berkaitan dengan mental yang tidak bisa secara tiba-tiba pulih.

  1. Pertanyaan 4W saat melakukan wawancara

Upaya membangun kedekatan dengan narasumber bisa dilakukan dengan mengajukan tiga sampai empat pertanyaan terkait latar belakang, ataupun saat menunjukkan empati. Ketika jurnalis merasa narasumber sudah merasa nyaman, jurnalis bisa mulai melakukan wawancara terkait informasi yang ingin digali dari narasumber.

Sebelum mulai mengajukan pertanyaan, jurnalis sebaiknya menyampaikan garis besar informasi yang ingin didapatkan dari narasumber. Ceritakan secara ringkas maksud dan tujuan jurnalis datang menemui narasumber.

Setelah itu, jurnalis baru bisa mulai bertanya. Dalam tahap awal melakukan wawancara tersebut, pertanyaan-pertanyaan pembuka yang diajukan sebaiknya masih ringan. Pertanyaan-pertanyaan pada tahap tersebut dapat dikatakan sebagai transisi, setelah upaya membangun kedekatan dilewati dan sebelum pertanyaan-pertanyaan utama disampaikan. Karena bisa jadi, informasi yang ingin digali jurnalis adalah hal yang tak disukai narasumber.

Tetapi jika jurnalis mampu membuat narasumber merasa nyaman, harapannya, narasumber tetap mau memberikan informasi tersebut. Meski, kemungkinan ia tak mau memberikan informasi tetap ada.

Karena itu, untuk meningkatkan kemungkinan narasumber mau memberikan informasi, jurnalis sebisa mungkin dapat menaikkan tingkat kenyamanan narasumber selama wawancara berlangsung. Prinsip sederhananya, jika dalam kondisi nyaman saja narasumber enggan memberikan informasi, apalagi dalam kondisi tidak nyaman.

Setidaknya, ada empat pertanyaan ringan yang bisa diajukan usai membangun kedekatan dengan narasumber. Keempat pertanyaan itu meliputi 4W, yaitu what, when, who, dan where. Sebab, keempat pertanyaan tersebut umumnya memiliki jawaban ringkas. Sehingga, narasumber belum perlu berpikir keras.

Walaupun dalam kondisi tertentu, hal berkebalikan bisa terjadi. Jika ternyata, narasumber tidak memiliki ingatan yang baik terhadap jawaban keempat pertanyaan itu. Akibat, informasi yang hendak digali jurnalis, ternyata sudah berlangsung lama.

  1. Hindari pertanyaan tertutup

Pertanyaan 4W di atas sebenarnya merupakan pertanyaan tertutup. Pertanyaan tertutup merupakan jenis pertanyaan yang hanya menghasilkan jawaban terbatas. Beberapa contohnya sebagai berikut:

  1. Tanya: Apa acara yang digelar?

Jawab: Diskusi.

  1. Tanya: Kapan acara berlangsung?

Jawab: Tanggal 10 Oktober.

  1. Tanya: Siapa peserta yang hadir pada acara tersebut?

Jawab: Mahasiswa.

  1. Tanya: Di mana acara berlangsung?

Jawab: Kampus.

Karena masih pada tahap transisi, pertanyaan 4W berfungsi sebagai pintu masuk untuk pertanyaan-pertanyaan lain. Meski begitu, pertanyaan-pertanyaan berikutnya sebaiknya bukanlah pertanyaan tertutup.

Selain pertanyaan tertutup, ada pula jenis pertanyaan lain yang harus dihindari. Karena, jawaban atas pertanyaan tersebut jauh lebih singkat, dibanding pertanyaan tertutup.

Jenis pertanyaan tersebut dikenal sebagai yes or no question atau pertanyaan ya atau tidak. Di mana, jawaban atas pertanyaan tersebut hanya memiliki dua pilihan, ya atau tidak.

Walau demikian, bukan berarti, pertanyaan ya atau tidak dilarang untuk digunakan. Sebab, ada kondisi di mana jurnalis “terpaksa” menggunakan pertanyaan tersebut. Meski, hal tersebut seharusnya tetap menjadi pilihan terakhir.

Misalnya, saat melakukan wawancara, jurnalis bertanya ke narasumber mengenai peristiwa yang menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Sayangnya, jawaban narasumber tersebut bias atau tidak jelas.

Karena seorang jurnalis wajib memastikan jawaban narasumber, pengulangan pertanyaan sebaiknya dilakukan hingga narasumber memberikan jawaban yang jelas. Tetapi jika sampai beberapa kali, umumnya tiga kali, pertanyaan serupa yang diajukan tetap mendapat jawaban yang tidak jelas, jurnalis bisa memberikan penekanan melalui pertanyaan ya atau tidak.

  1. Mengapa dan bagaimana

Berbeda dengan pertanyaan tertutup, pertanyaan terbuka memberikan kesempatan kepada narasumber untuk memberikan jawaban lebih luas. Sehingga, informasi yang didapatkan jurnalis bisa lebih dalam.

Ada dua kata tanya yang bisa digunakan pada pertanyaan terbuka, yaitu mengapa (why) dan bagaimana (how).

Kata tanya bagaimana bertujuan untuk menggali tentang proses. Sementara, kata tanya mengapa akan menghasilkan jawaban berupa alasan. Dari dua pertanyaan tersebut, jurnalis bisa memperlihatkan “drama” pada berita yang dibuat.

Kedua kata tanya tersebut pun bisa menjadi pertanyaan lanjutan untuk menggali lebih dalam informasi, dari pertanyaan 4W sebelumnya. Misalnya, pertanyaan di mana lokasi acara pada contoh sebelumnya, yang hanya menghasilkan jawaban terbatas, dapat diteruskan dengan pertanyaan mengapa acara digelar pada lokasi tersebut.

Mengapa dan bagaimana bersama dengan 4W merupakan unsur berita, yang lebih dikenal dengan 5W+1H. Penjelasan lebih lengkap tentang 5W+1H bisa dibaca di artikel berjudul 5W+1H, Unsur Berita dari Rudyard Kliping.

  1. Buat suasana santai

Di awal pertemuan dengan narasumber, jurnalis berusaha membangun kedekatan untuk menciptakan suasana nyaman dan meningkatkan kepercayaan narasumber. Harapannya, dengan kondisi tersebut, narasumber mau memberikan informasi sebanyak-banyaknya.

Setelah berhasil membuat narasumber merasa nyaman, seorang jurnalis harus mampu mempertahankan kondisi tersebut, setidaknya hingga wawancara berakhir. Tentu saja, hal itu agar informasi mendalam terus mengalir dari narasumber.

Agar narasumber tetap merasa nyaman, jurnalis perlu membuat suasana santai selama proses wawancara berlangsung. Kondisi itu bisa tercipta, satu di antaranya dari cara jurnalis mengajukan pertanyaan.

Dalam mengajukan pertanyaan, jurnalis sebisa mungkin melontarkannya dengan ekspresi yang ramah. Jeda waktu setiap pertanyaan pun perlu menjadi perhatian. Ketika narasumber selesai menjawab, berikan jeda beberapa detik sebelum memberikan pertanyaan berikutnya.

Jeda tersebut bertujuan untuk memberikan waktu istirahat setelah narasumber memberikan penjelasan. Mungkin muncul pertanyaan, bukankah narasumber tak bicara ketika jurnalis sedang mengajukan pertanyaan?

Meski tak bicara, narasumber tentunya perlu mencermati pertanyaan yang diajukan jurnalis. Jadi, walaupun terlihat beristirahat, narasumber sebenarnya masih harus memfokuskan pikirannya untuk menyusun jawaban dari pertanyaan jurnalis. Karena itu, jeda istirahat perlu diberikan untuk menjaga suasana wawancara agar tetap santai.

Hal lain yang dapat dilakukan untuk menciptakan suasana santai, yaitu dengan menghindari metode wawancara seolah-olah sebuah interogasi. Walaupun, hal itu terkadang tak sadar dilakukan jurnalis.

Umumnya, kondisi tersebut terjadi ketika narasumber tidak memberikan jawaban secara jelas. Sementara, jurnalis membutuhkan jawaban jelas narasumber.

Alhasil, jurnalis terus memaksa narasumber memberikan jawaban yang jelas. Biasanya, hal itu dilakukan dengan mengulang pertanyaan serupa berkali-kali kepada narasumber.

Untuk menghindari interogasi, jurnalis dapat melakukan “pengalihan” dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan lain terlebih dahulu. Setelah mengajukan tiga sampai empat pertanyaan lain, jurnalis bisa mencoba menanyakan lagi pertanyaan yang belum mendapat jawaban jelas tadi.

Tetapi, jurnalis harus mengupayakan bertanya menggunakan kalimat tanya yang berbeda. Bisa juga, pertanyaan tidak langsung ke inti persoalan, namun diawali dengan satu atau dua pertanyaan yang berkait dengan inti persoalan.

Hal berikutnya yang bisa dilakukan untuk menciptakan suasana santai adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan ringan, yang sama sekali tidak bersentuhan dengan inti pertanyaan untuk wawancara.

Pertanyaan-pertanyaan ringan yang diajukan sebenarnya serupa dengan pertanyaan saat hendak membangun kedekatan dengan narasumber. Dengan begitu, narasumber diharapkan mendapat kesempatan bersantai sejenak, agar suasana nyaman kembali tercipta Sehingga, narasumber dapat memberikan jawaban-jawaban yang mendalam, saat kembali mendapat pertanyaan jurnalis.

  1. Tanya identitas lengkap

Pertanyaan mengenai identitas secara lengkap menjadi penting karena menjadi satu di antara kelengkapan berita. Hal itu agar isi berita yang dibuat jurnalis memiliki tingkat kepercayaan tinggi karena berasal dari narasumber yang jelas.

Pertanyaan terkait identitas bisa diajukan sebelum, saat, maupun setelah melakukan wawancara. Hal itu tergantung kondisi di lapangan.

Bagi pejabat sipil, identitas lengkap berupa nama lengkap dan jabatan. Sementara bagi pejabat TNI dan Polri, kelengkapan identitas minimal berupa pangkat, nama lengkap, dan jabatan. Adapun untuk masyarakat umum, identitas lengkap berupa nama, usia, dan asal.

Situasi Tak Memungkinkan untuk Melakukan Wawancara

Tips melakukan wawancara dalam reportase sebagaimana dijelaskan di atas, dapat dilakukan apabila narasumber memiliki waktu cukup untuk berbincang dengan jurnalis.

Sayangnya, beberapa narasumber terkadang tidak memiliki waktu cukup untuk bercakap-cakap dengan jurnalis. Meski dalam kondisi tersebut, jurnalis tetap dituntut untuk mendapatkan informasi selengkap mungkin dari narasumber.

Untuk mengantisipasi waktu yang tak memungkinkan, proses saat melakukan wawancara tentu harus dipercepat. Karena itu, jurnalis sebisa mungkin hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan utama, sesuai informasi yang hendak digali.

Waktu yang sangat terbatas biasanya terjadi pada wawancara doorstop. Atau, situasi yang tak memungkinkan lainnya. Misalnya, jurnalis mewawancarai korban kecelakaan yang sedang mendapatkan perawatan pertama.

Sebenarnya, banyak tips dan trik lain yang bisa dilakukan jurnalis saat melakukan wawancara. Berbagai tips dan trik itu umumnya menyesuaikan kondisi dan waktu narasumber.

Bahkan, beberapa tips dan trik baru dapat muncul secara spontan di benak jurnalis saat melakukan reportase. Tetapi pada akhirnya, seluruh tips dan trik ketika melakukan wawancara memiliki tujuan yang sama, yaitu menggali informasi sedalam-dalamnya dari narasumber.

Hal lain yang tak boleh dilupakan adalah persiapan sebelum melakukan wawancara. Sebab, persiapan juga memiliki peran penting guna mendukung keberhasilan wawancara. Artikel mengenai hal tersebut bisa dibaca di artikel berjudul 4 Persiapan Sebelum Wawancara.

tips melakukan wawancara dalam reportase

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *