6 Nilai Berita, Penerapan dan Sejarah Kemunculan

Dalam jurnalistik, peristiwa yang terjadi, tidak semuanya bisa dijadikan berita. Untuk menentukan mana peristiwa yang layak diberitakan dan mana yang tidak, jurnalis akan memilihnya berdasarkan nilai berita (news value).

Sebagai panduan, banyak ahli memiliki pendapat yang berbeda-beda tentang nilai berita. Perbedaan itu lebih pada hal apa saja, yang perlu dijadikan patokan sebagai nilai berita.

BACA JUGA: Ini Beda Jurnalis dan Reporter

Perbedaan para ahli tersebut akan saya uraikan di penghujung artikel ini.

Dari perbedaan-perbedaan yang ada, sebagai jurnalis, saya menjadikan enam hal sebagai patokan atau unsur nilai berita. Keenam nilai berita itu adalah kebaruan atau aktualitas (timeliness), kebesaran (magnitude), kedekatan (proximity), ketenaran (prominence), kepentingan (significance), kemanusiaan (human interest).

  1. Kebaruan atau aktualitas

Dalam segala hal, sesuatu yang baru biasanya akan selalu menarik perhatian orang. Peristiwa yang baru saja terjadi, sedang terjadi, maupun akan terjadi, umumnya ingin diketahui khalayak.

Para penggila sepak bola tentu ingin selalu mengetahui segala hal, yang diperbuat tim kesayangan mereka. Para penyuka fesyen tentu tak mau ketinggalan mode terbaru, yang sedang dan akan tren.

Kemajuan teknologi informasi membuat nilai kebaruan semakin cepat. Kehadiran internet mampu menampilkan hal baru dalam hitungan detik, bukan lagi hari apalagi minggu.

Hal itu membuat peristiwa yang terjadi seminggu lalu, akan kalah menarik dengan peristiwa hari ini, apalagi jika peristiwa masih berlangsung. Semua itu merupakan dampak dari kehadiran internet, yang membuat masyarakat semakin up to date.

  1. Kebesaran

Hal besar akan lebih menarik minat pembaca dibandingkan hal kecil.

Misalnya, peristiwa kecelakaan tunggal yang membuat seorang pengendara motor mengalami patah kaki, itu bisa dijadikan berita.

Meski begitu, jika saat bersamaan, ada peristiwa kecelakaan beruntun yang melibatkan lima unit mobil dan belasan orang meninggal, orang akan lebih penasaran untuk mengetahui berita tersebut.

  1. Kedekatan

Nilai kedekatan berkaitan dengan lokasi terjadinya peristiwa.

Nilai kedekatan menjadi penting karena orang punya kecenderungan ingin mengetahui peristiwa di sekitar dirinya. Sebab, peristiwa itu punya kemungkinan berpengaruh terhadap diri orang tersebut.

Saya ambil contoh peristiwa kebakaran yang menghanguskan puluhan rumah. Itu merupakan berita yang memenuhi nilai kebesaran. Tetapi, peristiwa tersebut terjadi di Eropa.

Bagi pembaca di Indonesia, berita itu menjadi kurang menarik. Karena, lokasinya yang jauh.

Tetapi misalnya, kebakaran terjadi di sebuah ruangan dalam gedung kampus di sebuah kota kecil di Pulau Jawa.

Bagi masyarakat di kota kecil itu, apalagi mahasiswa kampus tersebut, berita kebakaran itu akan lebih menarik minat pembaca. Dibandingkan, kebakaran besar di Eropa, seperti pada contoh sebelumnya di atas.

  1. Ketenaran

Misalkan, seorang laki-laki terjatuh saat mengendarai sepeda. Peristiwa itu tidak menjadi berita karena banyak orang lain juga telah terjatuh saat naik sepeda. Bisa dikatakan, terjatuh saat naik sepeda adalah hal umum yang biasa terjadi.

Tetapi, bagaimana jika laki-laki yang terjatuh saat naik sepeda itu adalah seorang presiden? Atau, artis Hollywood?

Orang tentu ingin mengetahui hal yang menyebabkan orang terkenal itu terjatuh, saat naik sepeda. Orang akan penasaran mengenai alasan orang terkenal itu naik sepeda. Orang ingin tahu di mana orang terkenal itu naik sepeda. Dan, banyak lagi.

Hal yang dilakukan orang terkenal akan menarik perhatian, terlebih bagi penggemar orang tersebut.

  1. Kepentingan

Nilai kepentingan berhubungan dengan kebutuhan pembaca, akan informasi yang ingin didapatkan.

Misalkan, informasi mengenai harga maupun stok cabai merah, biasanya menjadi tidak terlalu penting pada hari biasa. Sebab, jual beli cabai merah merupakan hal biasa yang terjadi di pasar setiap hari.

Tetapi menjelang Idul Fitri, harga cabai merah biasanya menjadi berita penting yang dicari pembaca. Karena pada saat yang hampir bersamaan, banyak orang ingin membeli cabai merah.

Dalam hukum ekonomi, permintaan yang lebih banyak dibanding penawaran, maka harga barang cenderung naik. Karena itu, jelang Idul Fitri, berita tentang lonjakan harga cabai merah, akan menjadi penting.

  1. Kemanusiaan

Nilai kemanusiaan biasanya tertuju pada individu atau sekelompok individu, yang memiliki perbedaan, dibandingkan masyarakat pada umumnya.

Perbedaan itu bisa berupa kehidupan yang dijalani, atau sekadar momen tertentu yang pernah terlewati.

Umumnya, nilai kemanusiaan dihubungkan dengan berita yang mampu “mengeluarkan air mata” pembacanya. Hal itu sebenarnya tidak sepenuhnya berlaku.

Meski pada setiap berita yang mengandung nilai kemanusiaan, unsur perjuangan si tokoh umumnya ditampilkan.

Nilai Berita sebagai Pertimbangan

Ada dua waktu penggunaan nilai berita dalam kerja jurnalistik. Pertama, nilai berita digunakan saat mencari informasi. Kedua, nilai berita dipakai ketika menentukan informasi yang akan diterbitkan, disiarkan, atau ditayangkan.

Pada waktu pertama, tugas pemilahan informasi berdasarkan nilai berita berada di tangan reporter. Sejak awal melakukan liputan, reporter harus mampu memilih, mana peristiwa yang bisa dijadikan berita, dan mana yang tidak.

BACA JUGA: 4 Persiapan Sebelum Wawancara

Usai melakukan liputan, reporter akan membuat laporan. Laporan tersebut kemudian disampaikan kepada redaktur atau editor.

Selanjutnya, nilai berita digunakan untuk menentukan mana laporan reporter yang akan diterbitkan, disiarkan, atau ditayangkan, dan mana yang tidak.

Penerapan itu umumnya dilakukan di media cetak dan media elektronik, baik radio maupun televisi. Sebab, media cetak memiliki keterbatasan ruang untuk menampilkan semua informasi. Sementara, media elektronik memiliki keterbatasan durasi.

Alhasil, semua informasi yang disampaikan reporter, akan kembali bersaing untuk mendapatkan tempat, supaya diterbitkan, disiarkan, maupun ditayangkan.

Pada media cetak, selain untuk memilah laporan yang akan diterbitkan, nilai berita juga digunakan untuk menentukan berita utama atau headline. Walaupun pada beberapa kesempatan, headline bisa direncanakan sebelum proses liputan.

Penggunaan nilai berita untuk menentukan headline juga dilakukan pada media daring. Sedangkan, pemilihan laporan yang akan diterbitkan, umumnya tidak ada pada media daring.

Sebab, media daring tidak memiliki keterbatasan ruang dan durasi. Alhasil, setiap informasi yang disampaikan reporter, bisa diterbitkan.

Proses pemilahan laporan reporter dan penentuan headline biasanya berlangsung saat rapat budgeting.

Saya akan coba memberikan ilustrasi rapat budgeting pada media cetak. Misalkan, ada koran X yang terbit empat halaman setiap harinya.

Selain reporter, ada tiga redaktur dan satu redaktur pelaksana yang bekerja di media itu.

Adapun, empat halaman itu terdiri dari halaman utama, halaman wisata, halaman daerah, dan halaman hiburan.

Pada rapat budgeting, setiap redaktur menyampaikan laporan yang diberikan reporter masing-masing. Setelah itu, redaktur akan menentukan mana laporan yang akan diterbitkan.

Selain itu, setiap redaktur juga menentukan mana headline, second headline, dan berita biasa.

Seluruh proses itu, mulai dari pemilahan laporan hingga penentuan headline, dilakukan berdasarkan nilai berita.

Di sela-sela presentasi oleh redaktur, redaktur pelaksana bisa menyela. Sebab, ia bertugas memilah laporan yang layak ditempatkan di halaman satu. Selain itu, ia juga menentukan headline halaman satu, atau kerap disebut headline koran X.

Sejarah Awal Kemunculan Nilai Berita

Pembahasan mengenai kriteria untuk menyeleksi sebuah berita,  telah muncul sejak tahun 1600-an.

Hikmat Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat dalam buku Jurnalistik Teori dan Praktik (2005) menyebutkan, penentuan kriteria tersebut sudah disampaikan pada 1676. Saat itu, Christian Weise dalam tulisan berjudul Schediasma Curiosum de Lectione Novellarum, mengatakan bahwa dalam menyeleksi berita, pemisahan antara yang benar dan yang palsu harus dilakukan.

BACA JUGA: Membuat Judul Tulisan yang Menarik, di Awal atau di Akhir

Selanjutnya pada 1688, melalui tulisan berjudul Erachten von Einrichtung der Alten tauschen und neuen europaischen Historien, Daniel Hartnack memberikan penekanan pada unsur kepentingan sebuah peristiwa.

Hingga akhirnya pada 1690, Tobias Peucer menerbitkan sebuah disertasi tentang penerbitan di Jerman saat itu. Dalam disertasi tersebut, ia menulis beberapa kriteria yang menentukan nilai layak berita.

Pertama, tanda-tanda yang tidak lazim; benda-benda yang ganjil; hasil kerja dan produk seni yang hebat dan tidak biasa; banjir atau badai yang disertai petir dan gemuruh mengerikan; gempa bumi; sesuatu yang aneh dan muncul tiba-tiba dari langit; dan penemuan-penemuan baru, yang pada abad itu sangat banyak terjadi.

Kedua, berbagai jenis keadaan, berbagai perubahan, masalah perang dan damai, pertempuran, kekalahan, rencana-rencana para pemimpin militer, undang-undang baru, pertimbangan yang disetujui, kelahiran dan kematian orang-orang terkenal, dan upacara-upacara resmi.

Ketiga, masalah-masalah gereja dan keterpelajaran; bencana dan kematian; hal yang bertalian dengan alam, masyarakat, gereja, atau sejarah keagamaan; karya tulis para sarjana; perselisihan ilmiah; dan karya baru kaum pelajar.

Setelah Peucer, pada 1695, Kaspar Stieler menerangkan, para penulis berita surat kabar harus “orang-orang yang dapat menceritakan hal-hal penting, dan menjauhkan diri dari hal-hal sepele”.

J Wilke dalam tulisannya Wie das Bild der Welt seinen Zusammenhang verlor, sebagaimana tercantum dalam buku Concepts of Journalism, North and South (1984) karya Michael Kunczik, menjelaskan, Stieler juga menerangkan bahwa nilai layak berita, meliputi kebaruan, kedekatan geografis, implikasi dan keterkenalan, maupun negativisme.

Nilai Berita dalam Jurnalistik Modern

Istilah nilai berita pertama kali ditulis oleh seorang wartawan Amerika Serikat, Walter Lippman.

Dalam bukunya Public Opinion (1922), Lippman menjelaskan, nilai berita memuat unsur kejelasan tentang kejadian, kejutan, kedekatan geografis, dan dampak yang muncul.

Sementara melalui buku An Introduction to Journalism (1961), F Fraser Bond menyebutkan, nilai berita setidaknya mencakup empat unsur pokok. Keempat unsur pokok itu sebagai berikut:

  1. Timeliness. Aktualitas atau sifat kebaruan dari fakta peristiwa.
  2. Proximity. Jarak antara tempat peristiwa dengan lingkup berita.
  3. Size. Bobot fakta peristiwa.
  4. Importance. Kepentingan suatu peristiwa.

Septiawan Santana dalam bukunya Jurnalisme Kontemporer (2005) menuturkan, nilai berita berupa aktualitas, kedekatan, konsekuensi, konflik, peristiwa tidak biasa, seks, human interest, keterkenalan, peristiwa yang ditunggu masyarakat, dan perkembangan peristiwa.

BACA JUGA: 5W+1H, Unsur Berita dari Rudyard Kipling

Adapun, Hikmat Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat dalam buku Jurnalistik Teori dan Praktik (2005) menjelaskan, nilai berita terdiri dari aktualitas, kedekatan, keterkenalan, dampak, dan human interest. Di mana, human interest bisa meliputi ketegangan, ketidaklaziman, minat pribadi, konflik, simpati, kemajuan, seks, usia, binatang, humor, kebesaran.

Sebenarnya, ada beberapa ahli lain yang mengungkapkan kriteria nilai berita menurut versi mereka. Karena perbedaan-perbedaan yang muncul, saya pun memilih persamaan yang ada. Sehingga, saya menggunakan enam nilai berita sebagaimana telah diulas di atas.

Nilai berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *