5 Unsur Kalimat dan Kesalahan dalam Penulisan

Pemahaman terhadap unsur kalimat dan pola kalimat terkadang terlupakan. Padahal, dua hal itu termasuk bagian penting dalam membuat tulisan.

Saya pernah membaca sebuah buku sejarah. Sayangnya, isi buku sulit dipahami.

Hal itu karena cara penulisan dalam buku tersebut, tidak memenuhi struktur pola kalimat. Termasuk, unsur kalimat di dalamnya.

Alhasil, pesan yang ingin disampaikan si penulis buku, sulit saya mengerti. Maka bisa dikatakan, komunikasi antara penulis dan pembaca, gagal terwujud.

BACA JUGA: Ini Beda Jurnalis dan Reporter

Untuk menghindari kegagalan penyampaian pesan dalam sebuah tulisan, penerapan unsur kalimat dan pola kalimat yang baik, tentu perlu menjadi perhatian para penulis.

Dan di penghujung artikel ini, saya akan membagikan contoh-contoh kesalahan dalam menulis. Di mana, kesalahan itu kadang tercipta hanya karena kemunculan satu kata.

Unsur Kalimat

Setelah mencari beberapa referensi di internet, saya memutuskan mengutip artikel Herman Yudiono di Blogodolar.com, yang membahas tentang unsur kalimat. Menurut saya, penjelasan Herman dalam artikel berjudul 5 Unsur Kalimat yang Anda Perlu Ketahui, paling mudah untuk dipahami.

Berikut, penjelasan lima unsur kalimat seperti dilansir dari Blogodolar.com.

  1. Subyek

Subyek adalah bagian kalimat yang menandai apa yang dinyatakan oleh penulis. Subyek dapat berbentuk kata benda, frasa kata benda, atau kata kerja.

Contoh:

  • Rafi sedang membaca. (kata benda)
  • Pacar Rafi cantik. (frasa kata benda)
  • Memancing hobi Rafi. (kata kerja)
  1. Predikat

Predikat adalah bagian kalimat yang menandai apa yang dinyatakan oleh penulis tentang subyek. Predikat biasanya berbentuk kata kerja, frasa kata kerja, frasa numeral (bilangan), kata benda, frasa kata benda, frasa preposisi (kata depan), kata sifat, atau frasa kata sifat.

Contoh:

  • Jack makan. (kata kerja)
  • Jack sedang makan. (frasa kata kerja)
  • Adik Jack tiga orang. (frasa numeral)
  • Jack pengusaha. (kata benda)
  • Jack pengusaha properti. (frasa kata benda)
  • Jack ke kantor. (frasa preposisi)
  • Jack tampan (kata sifat)
  • Jack tampan sekali (frasa kata sifat)
  1. Obyek

Obyek adalah bagian kalimat yang melengkapi kata kerja. Obyek dapat berbentuk kata benda atau frasa kata benda. Bagian kalimat ini terletak setelah predikat berkata kerja aktif transitif (-kan, -i, me-).

Contoh:

  • Jack mencintai Maya. (kata benda)
  • Jack telah memasukkan laptop barunya ke dalam tas itu. (frasa kata benda)
  • Jack memerankan Sang Kodok. (frasa kata benda)
  1. Pelengkap

Pelengkap atau komplemen sering disamakan dengan obyek. Padahal, pelengkap beda dengan obyek karena tidak dapat menjadi subyek jika kalimat dipasifkan. Pelengkap mengikuti predikat yang berimbuhan ber-, ter-, ber-an, ber-kan, dan kata-kata khusus (merupakan, berdasarkan, dan menjadi).

Contoh:

  • Jack bertubuh kekar.
  • Jack tersandung batu.
  • Jack bercucuran keringat.
  • Kamar Jack berhiaskan lampu warna-warni.
  • Jack merupakan warga negara Korea.
  • Keputusan Jack berdasarkan hukum.
  • Jack menjadi manajer.
  1. Keterangan

Keterangan adalah bagian kalimat yang berfungsi meluaskan atau membatasi makna subjek atau predikat.

Contoh:

  • Jack tinggal di Jakarta.
  • Setiap hari Sabtu Jack berwisata kuliner.

Ada dua ciri keterangan. Pertama, posisinya dapat dipindahkan ke awal, tengah, atau akhir kalimat.

Contoh:

  • Jack menonton berita politik dengan serius.
  • Jack dengan serius menonton berita politik.
  • Dengan serius Jack menonton berita politik.

Kedua, keterangan dapat berupa keterangan tambahan, keterangan pewatas, atau keterangan aposisi.

Contoh:

  • Jack, yang menjabat Direktur Keuangan PT Morat-Marit, adalah warga negara Korea. (konstruksi yang sebagai keterangan tambahan)
  • Jack yang menjabat Direktur Keuangan PT Morat-Marit adalah warga negara Korea. (konstruksi yang sebagai keterangan pewatas)
  • Jack, Direktur Keuangan PT Morat-Marit, adalah warga negara Korea. (Direktur Keuangan PT Morat-Marit sebagai keterangan aposisi)

Pola Kalimat

Setelah mengetahui unsur kalimat, seorang penulis sebaiknya mengenal pola kalimat. Mengutip artikel Definisi dan Contoh Kalimat SPOK yang Benar di laman Kelasindonesia.com, kalimat yang baik dan benar adalah kalimat yang memiliki unsur-unsur kalimat di dalamnya. Kumpulan kata dapat dikatakan sebuah kalimat jika memiliki minimal unsur subyek dan predikat.

BACA JUGA: Membuat Kerangka Karangan hingga Menjadi Tulisan

Pada umumnya, kalimat bahasa Indonesia memiliki delapan pola kalimat dasar, yang bisa dikembangkan. Berikut, contoh-contoh pola kalimat dasar bahasa Indonesia seperti dilansir Kelasindonesia.com.

  1. S-P

 

Contoh:           Saya  makan

S         P

 

  1. S-P-O

 

Contoh:        Saya   makan    apel

S            P         O

 

  1. S-P-Pel

 

Contoh:        Saya      makan      yang manis

S                P                 Pel

 

  1. S-P-O-Pel

 

Contoh:         Saya   makan   apel   yang manis

S           P            O          Pel

 

  1. S-P-O-Pel-K

 

Contoh:         Saya   makan   apel  yang manis   dengan lahap

S           P          O     Pel                        K

 

  1. S-P-K

 

Contoh:        Saya   makan  dengan lahap

S          P               K

 

  1. S-P-O-K

 

Contoh:       Saya  makan   apel  dengan lahap

S        P             O           K

 

  1. S-P-Pel-K

 

Contoh:      Saya  memakan  yang manis   dengan lahap

S            P           Pel                   K

 

Kesalahan dalam Penulisan

Berbeda dengan bahasa lisan, bahasa tulisan memang memiliki aturan-aturan tertentu. Tujuan keberadaan aturan-aturan tersebut tentunya untuk memudahkan penyampaian isi pesan. Termasuk, aturan penggunaan unsur kalimat dan pola kalimat di atas.

Apalagi jika, bahasa tulisan digunakan untuk hal formal. Sehingga, penggunaan aturan-aturan dalam penulisan dengan tepat, sebaiknya dilakukan.

Meski begitu, kesalahan dalam penulisan kerap masih ditemui. Terkadang, kesalahan itu hanya diakibatkan penempatan satu kata yang tidak sesuai, atau tidak seharusnya ada.

Contohnya seperti kalimat-kalimat di bawah ini.

  1. Dalam buku itu berisi rumus matematika.
  2. Belum diketahui letak danau itu.
  3. Jelang sore, terjadi kericuhan.
  4. Tuti yang bekerja di toko.

Pada kalimat pertama, kata “dalam” tidak perlu ada. Sehingga, kalimat akan berbunyi, “Buku itu berisi rumus matematika.”

Dengan demikian, kalimat tersebut memiliki pola S P Pel.

Pada kalimat kedua, pola kalimat yang terbentuk adalah P S. Di mana, frasa “belum diketahui” adalah P, dan frasa “letak danau itu” adalah S.

Pola kalimat itu menjadi salah karena S tidak pernah berada di belakang P. Untuk memperbaiki pola kalimat itu, hal yang perlu dilakukan adalah menempatkan S di depan P. Sehingga, kalimatnya akan berbunyi, “Letak danau itu belum diketahui.”

Hal serupa tampak pada kalimat ketiga. Di mana, “terjadi” (P) dan “kericuhan” (S). Sehingga kalimat yang benar berbunyi, “Jelang sore, kericuhan terjadi.”

Pada kalimat keempat, kata “yang” tidak perlu ada. Sehingga, kalimat akan berbunyi, “Tuti bekerja di toko.”

Dengan demikian, kalimat tersebut memiliki pola S P K.

Sebenarnya, ada beberapa contoh lain terkait kesalahan dalam penulisan. Kesalahan-kesalahan tersebut pun terkadang hanya perlu perbaikan yang sepele.

Meski begitu, saya tak menuliskan semuanya di sini. Harapannya, Anda sendiri yang bisa menemukan dalam artikel-artikel yang Anda baca.

Tujuannya tentu bukan untuk menyalahkan si penulis artikel yang Anda baca. Tetapi saat Anda menulis, Anda bisa menghindari kesalahan-kesalahan itu.

Untuk bisa mengetahui kesalahan-kesalahan dalam penulisan, Anda tentu perlu mengetahui unsur kalimat dan pola kalimat.

Saya sendiri tidak hafal seluruh teori tentang unsur kalimat dan pola kalimat. Ketika saya merasa menemukan kesalahan dalam penulisan, pada artikel yang baca, hal pertama yang saya lakukan adalah memastikan kebenaran unsur kalimat dan pola kalimat.

Caranya?

Hanya satu, saya membaca lagi artikel-artikel yang membahas tentang unsur kalimat dan pola kalimat. Memang, hal itu sedikit merepotkan. Tetapi lama kelamaan, volume ketidakhafalan saya terhadap teori-teori tersebut semakin berkurang.

BACA JUGA: Mencari Inspirasi Menulis dengan Berlatih Kata

Karena secara tidak langsung, dengan sering membaca ulang teori-teori itu, sedikit demi sedikit, saya mulai menghafal tentang unsur kalimat dan pola kalimat. Meski, saya belum hafal seluruhnya hingga saat ini.

Sampai di sini, saya harap artikel ini membantu. Sekali lagi, seperti saya kemukakan di awal, unsur kalimat dan pola kalimat itu termasuk bagian penting dalam sebuah tulisan.

unsur kalimat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *