5 Contoh Konsistensi dalam Membuat Kalimat

Konsistensi dalam membuat kalimat bertujuan memudahkan penyampaian pesan dalam kalimat.

Sehingga, kekeliruan dalam memahami pesan dapat dihindari.

Selain itu, kalimat yang konsisten mampu membentuk logika kalimat yang benar.

BACA JUGA: Belajar Menulis dengan Bicara

Untuk menjelaskan lebih lanjut tentang konsistensi dalam membuat kalimat, saya akan menguraikan berdasarkan lima contoh kalimat di bawah ini.

  1. Para siswa SD itu memainkan alat musiknya.
  2. Dalam pertandingan sepak bola itu, tiga dari 22 pemain mendapatkan kartu merah.
  3. Pemenang pertandingan tersebut adalah Budi sebagai juara satu, juara dua Santi, dan juara tiga Iwan.
  4. Petugas Bank Indonesia menemukan uang palsu pecahan 20, 50, dan 100 ribu.
  5. Ratih terlihat senang. Perempuan ini baru saja memenangkan satu unit mobil.

Pada contoh nomor satu, inkonsistensi tampak pada penulisan “para siswa” dan “alat musiknya”. “Para siswa” merupakan bentuk jamak, sementara “alat musiknya” adalah bentuk tunggal.

Untuk membuat kalimat konsisten, bentuk tunggal di akhir kalimat perlu diubah ke dalam bentuk jamak. Sehingga, “alat musiknya” harus diubah menjadi “alat musik mereka”.

Mereka merupakan kata ganti jamak yang merujuk pada orang ketiga. Di mana, mereka sebagai kata ganti frasa “para siswa”.

Maka, kalimatnya akan berbunyi, “Para siswa SD itu memainkan alat musik mereka.”

Pada contoh nomor dua, inkonsistensi terlihat pada penulisan angka. Dalam kalimat tersebut, angka tiga dituliskan dengan huruf. Sementara, angka 22 dituliskan menggunakan angka.

Dalam bahasa tulis, angka satu sampai sepuluh memang dituliskan menggunakan huruf. Di atas sepuluh, penulisan angka menggunakan angka, misal 11, 12, 23, dan seterusnya.

Kecuali, penulisan angka di awal kalimat. Serupa dengan angka satu sampai sepuluh, angka yang muncul di awal kalimat, dituliskan menggunakan huruf. Misalnya, kalimat berbunyi, “Dua puluh satu rusa berkeliaran di desa tersebut.”

BACA JUGA: 5 Unsur Kalimat dan Kesalahan dalam Penulisan

Meski begitu, jika di dalam satu kalimat ada dua angka atau lebih yang tertulis, maka penulisannya harus sesuai satu sama lain.

Artinya, seluruh angka bisa ditulis menggunakan huruf, jika semua angka yang ada dalam satu kalimat, memiliki nominal maksimal sepuluh. Misal, “Di dalam rumahnya, Budi memiliki satu unit televisi, dua buah lemari, lima buah kursi, dan dua unit kipas angin.”

Sementara, kalau dalam satu kalimat ada angka yang memiliki nominal lebih dari sepuluh, penulisannya menggunakan angka. Walaupun, ada di antara angka-angka yang tertulis, memiliki nominal maksimal sepuluh.

Sehingga, kalimat pada contoh nomor dua menjadi, “Dalam pertandingan sepak bola itu, 3 dari 22 pemain mendapatkan kartu merah.”

Beralih ke contoh nomor tiga, inkonsistensi muncul pada kata-kata di antara koma.

Jika merujuk pada hal yang sama, maka penulisan di antara koma pun harus memiliki pola penulisan yang sama.

Pada contoh nomor tiga, penulisan kalimat bisa menjadi, “Pemenang pertandingan tersebut adalah Budi sebagai juara satu, Santi sebagai juara dua, dan Iwan sebagai juara tiga.”

Kalimat tersebut bisa juga ditulis menjadi, “Pemenang pertandingan tersebut adalah Budi sebagai juara satu, Santi (juara dua), dan Iwan (juara tiga).”

Atau, penulisan kalimat dapat menjadi, “Pemenang pertandingan tersebut, yakni juara satu Budi, juara dua Santi, dan juara tiga Iwan.”

Pada contoh nomor empat, inkonsistensi yang muncul serupa contoh nomor tiga. Hanya saja, ada kata yang hilang dalam contoh nomor empat.

Kata yang hilang tersebut adalah jenis mata uang yang menerangkan pecahan uang palsu. Jenis mata uang tersebut bisa berupa rupiah, euro, dolar AS, dan sebagainya.

Jika ternyata jenis mata uangnya adalah rupiah, maka hal yang selanjutnya perlu diperbaiki adalah logika kalimat. Sebab kalau kalimat tersebut dibuat tahun 2016, maka pecahan Rp 20 dan Rp 50 sudah tidak ada.

Logikanya, pecahan yang ada dan masih berlaku adalah Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu. Sehingga, kalimatnya seharusnya menjadi, “Petugas Bank Indonesia menemukan uang palsu pecahan Rp 20 ribu, Rp 50 ribu, dan Rp 100 ribu.

Pada contoh kalimat kelima, inkonsistensi tampak pada penggunaan kata “ini”.

Secara logika, penggunaan kata “ini” membuat seolah-olah Ratih ada bersama pembaca. Padahal pada kenyataannya, Ratih tidak ada bersama pembaca. Ratih hanya muncul pada kalimat yang dibaca pembaca.

Kalimat yang seharusnya ditulis menjadi, “Ratih terlihat senang. Perempuan itu baru saja memenangkan satu unit mobil.”

BACA JUGA: Membuat Kerangka Karangan hingga Menjadi Tulisan

Kondisi di atas menjadi berbeda jika kemudian saya menulis, “Di penghujung artikel ini, saya menekankan bahwa konsistensi dalam membuat kalimat perlu menjadi perhatian saat menulis.”

Penggunaan kata “ini” karena pembaca memang sedang membaca artikel yang ditulis dalam kalimat di atas.

Demikian, lima contoh konsistensi dalam membuat kalimat. Semoga bermanfaat.

 

Konsistensi dalam Membuat Kalimat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *