15 Menit dalam Skenario Film

Posted on Film 851

Pola 15 menit dalam film sudah umum diterapkan. Pola 15 menit merujuk pada kehadiran konflik, dalam batas waktu tersebut.

Berikut, penjelasan pola 15 menit dalam film, seperti dikutip dari Majalah Hai Edisi Khusus Film Juli 2005.

BACA JUGA: 4 Unsur dalam Skenario

Daya tahan sebagian besar penonton untuk terus berkonsentrasi menikmati sebuah film, atau memutuskan keluar, hanya sekitar 15 menit.

Di festival besar semacam Cannes, di mana ada ribuan film yang diputar, vonis menit ke-15 benar-benar diterapkan para distributor.

Itu berarti, bila dalam waktu 15 menit sebuah film belum menunjukkan kejadian apa-apa, alias karakter dan konfliknya belum jelas, film yang diputar bisa bernasib buruk.

Coba tes, saat menonton di bioskop, orang umumnya mulai ngerumpi di dalam bioskop, saat film belum kunjung jelas ceritanya, setelah lebih dari 15 menit.

Masih mau mengetes? Cek beberapa film yang sempat dilihat di bioskop.

Epik sebesar Star Wars masih dengan disiplin mengikuti formulasi 15 menit pertama.

Demikian juga, Mr and Mrs Smith. Dari awal, film itu sudah membangun dengan jelas problem perkawinan kedua tokoh utama. Lalu tak lama kemudian, kita langsung diperlihatkan bagaimana kedok mereka “terbongkar” oleh pasangan masing-masing.

Pembuat film seeksentrik Quentin Tarantino, juga tak pernah main-main dengan set up ceritanya. Coba perhatikan bagaimana efisiennya Kill Bill Vol 1 maupun sekuelnya.

Contoh lain, The Lord of the Ring: The Fellowship of the Ring yang hanya memerlukan waktu sekitar lima menit, untuk menceritakan riwayat cincin pembawa bencana itu, sebelum kemudian memperkenalkan para tokohnya yang banyak.

Setelah mengenal pola 15 menit, berikut 15 hal seputar skenario film, seperti dilansir dari Majalah Hai Edisi Khusus Film Juli 2005.

  1. Kreditasi written by berlaku bila penulis cerita dan penulis skenario adalah orang yang sama. Bila tidak, kredit itu akan dipecah menjadi story by dan screenplay by.
  2. Selalu, cantumkan nama, alamat, atau nomor kontak pada halaman judul skenario. Selain itu, cantumkan nomor draf dan tanggal pada halaman akhir skenario.
  3. Film-film yang beredar di bioskop, rata-rata berdurasi 100 menit atau kurang. Berarti, ketebalan skenario berkisar 100 halaman.
  4. Bingung cari nama karakter? Tidak ada salahnya, kamu memiliki beberapa buku nama, yang dilengkapi makna nama-nama tersebut.
  5. Film-film bisu, seperti film-film Charlie Chaplin, efektif untuk dijadikan latihan, dalam mempelajari dan menganalisis adegan.
  6. Uji coba yang efektif untuk menganalisis apakah plot di dalam skenario sudah berjalan baik atau belum, bisa dilakukan dengan menukar posisi adegan. Bila adegan bisa dengan mudah diangkat dan dipindahkan ke tempat lain, tanpa mengganggu cerita, silakan analisis objektif dari setiap adegan.
  7. Jumlah karakter dan lokasi semakin sedikit, biaya produksi semakin rendah.
  8. Bahasa baku digunakan untuk scene header dan deskripsi. Bahasa percakapan sehari-hari dipakai untuk dialog.
  9. Penggunaan nama karakter yang mirip, misal Nina dan Ina, sebaiknya dihindari. Kecuali, ada alasan yang jelas.
  10. Jangan gunakan bahasa penulis, gunakan bahasa karakter. Setiap karakter pasti punya cara yang berbeda, saat mengungkapkan sesuatu.
  11. Visualkan emosi. Misalnya, jangan pernah menulis dialog seperti, “gue sedih banget“. Sebaiknya, gambarkan di deskripsi bahwa si karakter duduk diam, menghindari tatapan orang lain, sambil sesekali mengusap matanya.
  12. Dalam setiap adegan, motivasi yang jelas bagi tiap karakter, harus diberikan. Kenapa si X membunuh? Kenapa si Y mengejar cowok paling keren di sekolah? Itu bisa jadi “pancingan” bagi para aktor, untuk menghidupkan perannya.
  13. Kenali emosi si karakter. Kondisi emosi, seperti marah atau sedih, tidak bisa hanya digambarkan dengan berteriak-teriak atau menangis. Itu tergantung pada karakter masing-masing.
  14. Satu halaman skenario diperkirakan sama dengan satu menit, gunakan typeface American Typewriter atau Courier ukuran 12.
  15. Kamu bisa gunakan software penulisan skenario, sehingga lebih mudah memformat dan membuat break down untuk produksi.

BACA JUGA: Sejarah dan Penerapan Aturan Sepertiga (Rule of Thirds)

Ingin film kamu ditonton sampai habis? Sebaiknya, pola 15 menit diterapkan.

15 menit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *